Kesaksian Bukan Untuk Merendahkan


Kalau kita sebagai seorang pemercaya mendengar kata ‘kesaksian’, maka secara otomatis tentu kita akan membayangkan seseorang yang sedang berdiri di hadapan jemaat, untuk menceritakan mengenai kisah hidupnya dan pertolongan Tuhan atas setiap kesulitan yang dihadapinya. Apa pun kesaksian di hadapan jemaat tentunya hanya mempunyai satu tujuan yaitu memuliakan Tuhan atas pertolonganNYA.

Kisah hidup setiap orang tidaklah sama walau pun mungkin ada orang-orang tertentu yang terdengar mengatakan “kisahnya mirip dengan yang kualami”. Tetapi itulah keunikan Tuhan, DIA merancangkan segala sesuatu terjadi didalam kehidupan manusia di seluruh bumi ini dengan aneka ragam masalah yang harus dihadapi dengan kunci jawaban yang tidak pernah sama, dan hasilnya hanya untuk kebaikan setiap orang itu, juga untuk memberitakan kabar tentang kemuliaan nama Tuhan.

Sayangnya, tidak semua orang dapat memahami dan menerima orang lain dengan segala persoalan yang sedang dihadapinya. Terbukti dengan adanya orang-orang yang justru semakin menyingkir, menjauhi, atau menghakimi setelah orang lain secara jujur memberikan kesaksian tentang persoalan yang sedang dihadapinya.

Sebagai contoh, kesaksian mengenai sakit penyakit yang sedang dialami oleh seseorang, kadangkala dapat berakhir dengan membuat orang-orang tertentu merasa takut ketularan bila berdekatan. Atau kesaksian mengenai seorang tuna susila, kadangkala dapat berakhir dengan membuat orang-orang tertentu bersikap menjauh karena merasa takut terjerumus atau berakhir dengan membuat orang-orang tertentu kemudian memandang rendah diri seseorang itu.

Contoh lainnya, mungkin ada kesaksian-kesaksian dari seorang yang pernah dipenjara karena melakukan sebuah kesalahan, kadangkala dapat berakhir dengan membuat orang-orang tertentu memberikan penilaian yang sangat rendah untuk hidup seseorang itu. Lalu mungkin juga ada kesaksian lain dari seorang yang pernah menyukai sesama jenis (homo atau lesbian), kadangkala dapat berakhir dengan membuat orang-orang tertentu memandang mereka dengan pandangan yang penuh keheranan, jijik, atau aneh.

Marilah saat ini kita coba membayangkan diri kita, seandainya suatu hari kita memberikan kesaksian didalam sebuah gereja, dengan menceritakan bahwa kita pernah terjangkit sebuah penyakit menular atau kita bersaksia kalau pernah menyukai sesama jenis, dan tiba-tiba orang yang tadinya bersikap sangat menghormati kita, lalu orang-orang itu berubah sikap dengan memandang kita sambil berbisik-bisik merendahkan diri kita, dan atau ketika orang-orang itu sedang berbicara dengan kita, tetapi terlihat dari sikapnya sedang tidak ingin berlama-lama dengan kita. Apa yang akan timbul didalam hati kita?

Tentunya kita akan merasa sangat sedih, karena ternyata kesaksian kita yang tadinya bertujuan untuk memuliakan nama Tuhan, karena kasihNYA mengubahkan hidup kita, ternyata berakibat buruk bagi orang lain yang kemudian memilih sikap untuk merendahkan kita, sehingga seolah-olah hal baik justru berbalik menjadi bumerang bagi kita.

Didalam kitab perjanjian baru, kita dapat membaca berbagai kisah, dimana orang-orang yang datang kepada Tuhan, bukanlah orang-orang yang sempurna dan baik-baik saja, tetapi orang-orang yang suka berzinah, pengemis, pemungut cukai, dan banyak juga mempunyai penyakit menular atau mematikan. Tetapi Tuhan mengampuni dan menyembuhkan mereka semuanya dengan penuh kasih. Dan mujizat yang dilihat oleh orang banyak itulah yang akhirnya menimbulkan pertobatan.

Bisa dibayangkan, apabila kita sebagai seorang pemercaya yang mendengarkan sebuah kesaksian, tetapi setelah kita selesai mendengarkan sebuah kesaksian tersebut, kemudian kita memilih bersikap untuk mencibir, merendahkan, dan menghakimi, maka orang lain yang belum bertobat yang mungkin melihat hal tersebut, tentunya akan merasa tidak terberkati oleh sikap kita sebagai seorang pemercaya.

Tuhan memberkati kita, menyembuhkan kita, dan mengampuni kita, karena DIA ingin kita dapat memberkati orang lain dan menunjukkan betapa mulianya Tuhan kita. Tetapi kalau kita, khususnya yang sudah mengetahui kebenaran, ternyata lebih memilih untuk bersikap mencibir, merendahkan, dan menghakimi, maka menurut kita, bagaimana pendapat Tuhan atas sikap kita itu?

Mungkin selama ini kita adalah seseorang yang cukup sehat secara jasmani, selalu bersikap wajar, memiliki hubungan yang baik dengan semua orang, dan mungkin juga cukup terpandang, tetapi ketika kita bersikap mencibir, merendahkan, dan menghakimi orang lain setelah mendengarkan kesaksian yang disampaikannya, maka kita sebenarnya bahkan telah bersikap jauh lebih buruk dari orang lain itu.

Sebagai contoh, kita selama ini mungkin berpikir bahwa seorang penjahat itu adalah orang jahat, tetapi ketika kita memilih untuk bersikap memandang rendah seorang penjahat itu dan bersikap menghakimi dia dan seluruh anggota keluarganya, maka kita sebenarnya adalah seorang yang mempunyai hati jauh lebih jahat dari seorang penjahat itu.

Jadi masihkah kita ingin merendahkan dan menghakimi hidup orang lain melalui kesaksian yang disampaikannya di hadapan jemaat?

Kalau Tuhan masih dapat menerima seseorang apa adanya dengan segala kelemahan dan kesalahannya, lalu apa hak kita menghakimi seseorang itu dari kelemahan dan kesalahannya?

Tuhan memberkati!

**picture taken from:
http://www.google.co.id/imgres?q=picture+of+tell+story&hl=id&sa=X&biw=1280&bih=707&tbm=isch&prmd=imvns&tbnid=yDLjHUGW6cyCdM:&imgrefurl=http://www.marketlikeachick.com/are-you-telling-your-story/&docid=6WiaXZNIGib7WM&imgurl=http://www.marketlikeachick.com/wp-content/uploads/2010/04/Tell-Your-Story-300×299.jpg&w=300&h=299&ei=Q-LiT4akF8zqrQePnLGdAw&zoom=1&iact=hc&vpx=199&vpy=237&dur=1421&hovh=224&hovw=225&tx=150&ty=120&sig=115066408690274837010&page=1&tbnh=162&tbnw=183&start=0&ndsp=16&ved=1t:429,r:6,s:0,i:86

Iklan

2 thoughts on “Kesaksian Bukan Untuk Merendahkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s