Pasanglah “Kancing” Dengan Benar!


Ada sebuah pepatah yang kurang lebih isinya mengatakan apabila kita ingin mencari pasangan yang sempurna, maka sebaiknya kita melihat kedalam diri kita sendiri terlebih dahulu, karena sebenarnya pasangan kita adalah cerminan diri kita. Kalimat ini cukup sederhana, tetapi ternyata cukup menggelitik saya untuk mengembangkannya menjadi sebuah artikel.

Membaca kalimat tersebut, secara otomatis saya membayangkan beberapa pasangan yang sempat saya dengar mereka mengeluhkan pasangannya dan juga memuji pasangannya. Ada seorang teman yang mengatakan bahwa suaminya itu sangat pelit, tetapi saya pikir-pikir sebenarnya seorang teman ini juga pelit, karena dia adalah seorang yang sangat perhitungan.

Ada lagi seorang teman yang mengatakan bahwa pacarnya adalah seorang yang terlalu banyak aturan dan cerewet, tetapi saya pikir-pikir sebenarnya seorang teman ini juga sering memberikan banyak aturan dan juga sangat cerewet.

Saya sendiri segera memikirkan bagaimana saya dan suami saya. Saya pernah mengatakan bahwa suami saya itu manja, karena ada hal-hal tertentu yang dia selalu meminta saya untuk membantunya, padahal saya tahu dia dapat melakukannya sendiri. Tetapi saya pun menyadari bahwa sebenarnya saya juga seseorang yang manja. Saya berpikir suami saya adalah seorang yang baik, dan ternyata saya pun memiliki kebaikan-kebaikannya sendiri.

Pemikiran saya mulai berkembang, tidak hanya dalam lingkup pasangan, tetapi juga dalam lingkup keluarga. Ada sebuah pepatah yang mengatakan buah takkan jauh dari pohonnya. Tidak ada buah yang tidak baik didapat dari sebuah pohon yang baik. Didalam keluarga, seorang anak memiliki karakter-karakter tertentu yang menurun dari orang tuanya.

Lalu saya juga mengembangkan pemikiran saya dalam lingkup pekerjaan dan pelayanan. Didalam pekerjaan kita bisa menjadi seorang pimpinan tertinggi dan bisa juga menjadi seorang anak buah. Didalam gereja, kita bisa menjadi seorang gembala atau seseorang yang memimpin dalam sebuah bidang pelayanan, tetapi kita bisa juga hanya duduk sebagai seorang jemaat.

Pertanyaannya: pernahkah kita mengatakan bahwa pasangan kita itu mempunyai sifat buruk yang mengganggu? Pernahkah kita mengatakan bahwa anak-anak kita nakal? Pernahkah kita, khususnya sebagai seorang pemimpin, mengatakan bahwa para bawahan kita itu bodoh dan tidak bisa kerja? Mohon maafkan saya, karena saya harus mengatakan bahwa ketika kita mengatakan atau membicarakan hal-hal buruk tentang anak-anak kita, bawahan kita, atau jemaat kita, sebenarnya kita sedang mengatakan hal-hal buruk tentang diri kita sendiri.

Keberadaan seseorang didalam sebuah perusahaan, didalam sebuah gereja, didalam keluarga, dan didalam sebuah anggota mana pun, sebenarnya secara tidak langsung akan membawa nama baik seluruh tim, khususnya para pemimpin mereka.

Seorang Hamba Tuhan memberikan sebuah ilustrasi sederhana mengenai kancing baju. Pada umumnya kita memasang kancing baju itu dari atas kemudian lanjut kebawah. Apabila dari atas kita memasang dengan benar, maka dapat dipastikan kancing-kancing dibawahnya akan terpasang dengan benar. Tetapi apabila dari atas kita memasangnya salah, maka dapat dipastikan kancing-kancing dibawahnya juga akan terpasang salah.

Bila diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, apabila kita melihat seorang anak buah sikapnya sangat arogan, semena-mena, dan sombong, padahal tidak banyak mengerti tentang pekerjaan, maka coba kita melihat pemimpin diatasnya, besar kemungkinan pemimpinnya juga adalah seorang yang sombong, tidak suka belajar, tetapi pura-pura mengerti segala hal.

Tetapi bila kita melihat sebuah tim dimana para anggotanya cerdas dan baik hati, maka kita juga dapat melihat pemimpin yang ada didalam tim tersebut adalah seorang pemimpin yang suka belajar dan suka berbagi pengetahuan, berwibawa, dan rendah hati.

Hal ini terjadi karena sama seperti seorang anak akan meniru yang dilakukan oleh orang tuanya, juga yang tertulis didalam Firman Tuhan, 1 Korintus 15:33 “…pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik”, sama artinya bahwa orang dewasa pun sangat mungkin juga dapat meniru atau terpengaruh akan sikap atau hal yang tidak baik dari para pemimpin diatasnya.

Solusinya adalah sebagai pasangan, cobalah untuk tidak mementingkan ego dengan berlebihan. Akui apabila kita bersalah dan bersikap terbuka pada pendapat pasangan kita. Komunikasikan hal-hal yang perlu diketahui oleh pasangan kita dengan tujuan untuk menyelesaikan persoalan agar tidak menumpuk dalam waktu yang lama.

Sedangkan didalam kehidupan pekerjaan dan tempat kita beribadah, seorang penulis didalam bukunya berkata apabila seorang pemimpin sikapnya suka memaksa, arogan, suka terus menerus mempermasalahkan kesalahan yang dilakukan para anggotanya, maka para anggotanya harus pindah ke tempat pekerjaan dengan lingkungan yang lebih baik atau tempat ibadah yang dapat membangun kehidupan rohaninya.

Sebagaimana kita menginginkan sebuah tim itu terjadi, baik didalam keluarga, pekerjaan, mau pun pelayanan, maka dari diri kita sendiri harus dapat memulainya. Jika kita ingin tim kita adalah orang-orang yang cerdas dan berhati baik, maka kita harus mempengaruhi mereka untuk suka belajar dan melakukan hal-hal yang baik. Dan yang terutama, seorang pemimpin yang harus memulainya terlebih dahulu.

Beban seorang pemimpin itu bukan pada pekerjaannya, melainkan pada sikap dan karakter yang pastinya berpengaruh pada kehidupan pribadi para anggotanya.

Tuhan memberkati!

**inspired by Mario Teguh and Pdt.Timotius Arifin

**picture taken from:
http://www.google.co.id/imgres?q=picture+of+kancing&hl=id&sa=X&biw=1280&bih=707&tbm=isch&prmd=imvns&tbnid=McUSnYKJ7GZMtM:&imgrefurl=http://archive.kaskus.co.id/thread/3407903/0/beli–velcro-perekat-kancing-tali-sepatu-meteran&docid=24OCAs8ElKQDIM&imgurl=http://www.sierra-313.de/shop/images/product_images/popup_images/55_0.jpg&w=600&h=600&ei=hxD1T87tDcesrAfA3tnCBg&zoom=1&iact=hc&vpx=373&vpy=104&dur=622&hovh=225&hovw=225&tx=131&ty=149&sig=115066408690274837010&page=2&tbnh=157&tbnw=121&start=18&ndsp=21&ved=1t:429,r:1,s:18,i:130

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s