Kehadiran yang Tak Diinginkan


Hidup ini dapat dikatakan begitu sangat singkat ketika kita merasa kehilangan seseorang yang terasa sungguh berarti didalam kehidupan kita dan ketika kita menyadari bahwa usia kita sedang bertambah lagi satu tahun. Tetapi hidup juga dapat dikatakan begitu sangat lama dan membosankan ketika kita sedang tak melakukan apa-apa atau sedang menantikan sesuatu yang tak kunjung tiba.

Disaat kita merasa hidup ini sangat singkat, pernahkah kita berpikir atau bertanya didalam hati kecil, seandainya kita harus pergi dalam beberapa waktu yang cukup lama untuk kita bisa kembali lagi, atau seandainya saja kita meninggal, kira-kira siapa saja yang akan merasa sangat kehilangan dan merindukan kehadiran kita?

Mungkin pertanyaan tersebut tiba-tiba saja dapat membuat hati kita sedih karena ada perasaan takut kehilangan seseorang yang kita sayangi. Jadi bisa saja saja pertanyaan tersebut diganti dengan pertanyaan “selama ini, dimana pun juga, apakah kehadiran saya diinginkan atau tidak diinginkan?”.

Kita dapat membayangkan, misalnya saja bagi Pembaca yang masih sekolah atau sedang kuliah saat ini, apakah pernah Anda merasakan apabila tidak ada seseorang itu, suasana kelas akan lebih menyenangkan? Atau sebaliknya, apakah pernah Anda merasakan sangat kesepian dan tidak menyenangkan apabila seseorang itu sedang berhalangan hadir?

Bagi Pembaca yang sedang bekerja, pernahkah Anda merasakan betapa kehadiran seorang rekan kerja itu sangat mengganggu Anda dan lebih baik bila seorang rekan kerja itu tidak ada? Atau pernahkan Anda merasa begitu sangat kehilangan ketika seorang rekan kerja itu mengajukan pengunduran dirinya?

Dan bila Pembaca sering terlibat didalam acara-acara gereja, adakah seseorang yang mungkin ada didalam tim pelayanan yang mungkin dirasa kurang dapat bekerjasama dengan baik atau kehadirannya saja sudah membuat suasana tidak nyaman? Atau adakah seseorang yang ada didalam tim pelayanan yang selama ini banyak membantu dan ketidakhadirannya justru membuat suasana atau tim merasa belum lengkap?

Dengan merenungkan berbagai pertanyaan tersebut diatas, maka kita dapat membayangkan, bagaimana bila diri kita sendiri ternyata menimbulkan rasa tidak nyaman bagi teman-teman kita, rekan kerja kita di kantor, mau pun rekan sepelayanan kita di gereja? Akan terasa sungguh menyakitkan bila kita merasa ada begitu banyak yang sudah kita usahakan tetapi ternyata kehadiran kita tak diinginkan dan tak diharapkan oleh orang lain.

Beberapa hal yang mungkin dapat membantu kita untuk mengkoreksi diri kita sendiri: yang pertama, secara jujur kita dapat menjawab dan memikirkan apa saja yang selama ini sudah kita lakukan, atau seberapa besar peran kita didalam seluruh aspek kehidupan yang kita jalani saat ini?

Kedua, kita mungkin merasa telah melakukan berbagai hal, tetapi apakah kita selama ini sudah berbagi ide dan pengetahuan terhadap anggota tim yang lain? Apabila ternyata kita belum berbagi, maka kita perlu menanyakan kembali pertanyaan yang pertama, apakah kita telah menyimpan segala sesuatu yang kita miliki untuk diri sendiri agar kita selalu dicari dan dibutuhkan orang lain? Atau apakah ternyata kita tidak mempunyai sesuatu yang dapat kita bagikan? Jangan-jangan, sebenarnya kita belum melakukan apa pun selama ini.

Ketiga, kira-kira menurut kita sendiri, apakah kita memiliki wibawa atau apakah kita memiliki kesombongan? Beda berwibawa dan bersikap sombong terletak pada kemurnian hati. Coba selidiki, adakah seseorang yang tidak kita sukai dan kita menyimpan rasa tidak suka itu didalam hati? Bila ada, maka kemungkinan besar bukan wibawa yang kita miliki tetapi kesombongan, dan kesombongan itu akan menimbulkan rasa tidak nyaman bagi orang-orang disekitar kita, walau pun kita mencoba untuk selalu bersikap dan berkata-kata baik.

Keempat, cobalah jawab dengan jujur apakah kita cenderung suka meng-kritik, menertawakan, atau mengeluhkan hal-hal yang dilakukan orang lain? Semakin kita suka meng-kritik, menertawakan, dan mengeluh, maka hal itu akan semakin membuktikan bahwa kita bukan seorang yang berwibawa, melainkan seorang yang sombong, karena sebenarnya tanpa sadar kita seolah-olah merasa diri kita paling baik, sehingga kita dapat dengan mudah meng-kritik, menertawakan, dan mengeluhkan hal-hal yang dilakukan orang lain.

Kelima, menurut kita sendiri, apakah kita mampu bersikap luwes atau bertoleransi dengan tindakan yang dilakukan oleh orang lain? Mungkin ada orang-orang yang memiliki karakter yang kaku, segala sesuatu harus sesuai dengan jadwal, tetapi sebenarnya seseorang yang kaku tetapi mampu bersikap dewasa, tentu tahu bahwa ada waktunya dia harus bersikap luwes dan harus bisa bertoleransi terhadap kondisi yang dihadapi orang lain.

Sebenarnya, inti dari lima pertanyaan tersebut diatas sumbernya hanya terletak pada kemurnian hati kita masing-masing. Selama hati kita murni, jauh dari sakit hati, jauh dari kekecewaan, dan selalu mempunyai sikap yang tulus, dalam arti tidak mengharapkan adanya penghormatan dan balasan atas segala perbuatan kita, maka pembawaan diri kita, baik dalam perkataan, tindakan, mau pun sekedar kehadiran, tentu akan dapat dirasakan lebih menyenangkan dan ada rasa nyaman bagi orang lain. Bukankah bila orang lain dapat menerima kehadiran kita, maka kita akan merasa hidup ini lebih indah dan lebih berarti?

Dikecewakan itu pasti pernah dirasakan oleh seseorang, tetapi setiap orang tentu mempunyai reaksi yang berbeda, ada yang mudah memaafkan, ada yang mudah untuk sakit hati. Itulah yang dikatakan sebagai pilihan.

Apa yang ada didalam hati kita itu yang melihat hanya Tuhan, tetapi aura dari kehadiran kita itu yang dapat merasakan adalah orang lain. Itulah yang kita sebut sebagai perwujudan untuk melakukan koreksi atas diri sendiri, dengan tujuan akhir untuk memperbaiki nilai-nilai karakter hidup kita, hingga saat kita bertemu dengan Tuhan nanti Tuhan dapat berkata bahwa diri kita ini sudah memberkati orang lain dan menyenangkan hati Tuhan.

Tuhan memberkati.

**picture taken from:
http://www.google.co.id/imgres?q=picture+cartoon+don%27t+like+someone&hl=id&biw=1280&bih=707&tbm=isch&tbnid=KTyJ0ojkdV9cVM:&imgrefurl=http://bitchlifestyle.com/2011/04/why-men-you-dont-like-chase-you/&docid=yoOcugPH3teKKM&imgurl=http://img4.realsimple.com/images/work-life/life-strategies/0710/cartoon-chasing_300.jpg&w=300&h=357&ei=oAYaUMbFCYeviQeLjoGoDg&zoom=1&iact=hc&vpx=561&vpy=223&dur=1573&hovh=245&hovw=206&tx=116&ty=176&sig=115066408690274837010&page=2&tbnh=159&tbnw=137&start=16&ndsp=21&ved=1t:429,r:12,s:16,i:156

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s