Tak Semua Harus Diterima


Saya memiliki dua orang ponakan, yang bernama Rachel dan Raphael. Sejak kecil, kedua ponakan saya itu memiliki hubungan yang lumayan dekat dengan saya. Dulu, ketika Rachel masih berusia sekitar tiga tahun, bila saya sedang mempunyai makanan yang lezat rasanya, dan kiranya dapat dinikmati oleh anak balita, maka segera saya akan mengingat Rachel, serta menawarkannya, barangkali saja Rachel menyukainya.

Namun, oleh karena Rachel masih seorang anak yang berusia dibawah lima tahun, maka apa pun yang saya berikan, kebanyakan pasti akan segera diterimanya. Sehingga saya memilih untuk menanyakannya terlebih dahulu pada mami atau kakak saya ‘apakah saya boleh memberikan makanan yang lezat itu kepada Rachel?’.

Saya memilih untuk menanyakannya terlebih dahulu kepada mami dan kakak saya, karena menurut saya, mereka adalah orang yang jauh lebih mengetahui kondisi Rachel, apakah Rachel sedang batuk, sedang pilek, sedang sakit, atau sedang dalam keadaan yang sehat, untuk dapat menikmati makanan yang saya ingin berikan.

Hingga pada suatu hari, ketika saya kembali berkunjung ke Surabaya, dan bertemu dengan keponakan-keponakan saya lagi. Kebetulan pada saat itu Rachel sedang libur sekolah dan saya membeli sebuah makanan yang menurut saya lezat rasanya. Menurut saya, Rachel bisa ikut menikmati makanan tersebut.

Kemudian saya menawarkannya makanan itu pada Rachel, biasanya saya akan bertanya “Rachel mau ini (sambil menunjukkan makanannya)?”, maka Rachel secara langsung dapat segera menjawab “tidak mau Aunty, aku pernah makan, dan aku tidak suka”, atau “aku mau, tapi aku batuk Aunty, mami sudah pesan aku tidak boleh makan yang seperti ini”, atau “Aunty, itu apa?”, atau “Aunty, aku mau”.

Latihan dan kebiasaan yang dilakukan oleh Rachel didalam keluarganya, dan seiring dengan bertambahnya usia, membuat Rachel sedikit demi sedikit dapat memutuskan apa yang bisa dia terima dan apa yang harus dia tolak. Walau pun, ada hal-hal yang mungkin masih harus dia tanyakan kepada orang tuanya, apakah dia bisa menerima atau apakah dia harus menolak suatu pemberian?

Dari sebuah cerita sederhana tersebut diatas, membuat saya berpikir bahwa seperti halnya didalam kehidupan ini, sebenarnya tidak semua pemberian itu dapat kita terima, bahkan ada kesempatan-kesempatan dan peluang-peluang yang menarik yang ternyata belum tentu harus kita terima.

Alasan yang pertama, tidak semua kesempatan dan peluang yang kelihatannya baik itu baik untuk diri kita. Contoh: seorang staff yang suka bekerja di bidang administrasi mendapatkan sebuah tawaran untuk menjadi pimpinan tertinggi di bidang penjualan. Penawaran ini sungguh sangat bagus karena akan memberikan posisi dan gaji yang lebih tinggi dan menarik, tetapi realitanya sangat tidak baik untuk diri seorang staff ini karena dia tidak terbiasa untuk melakukan penjualan. Tentu saja apabila dia menerima posisi tersebut, maka dia akan menjadi sangat tertekan dan sangat kewalahan untuk mencapai target.

Alasan yang kedua, tidak semua kesempatan dan peluang yang kelihatannya baik itu benar-benar baik di masa depan. Contoh: sebuah keluarga yang tidak kaya, tiba-tiba mendapatkan hadiah sebuah rumah yang sangat mewah dengan segala perabotannya dari seorang bangsawan yang murah hati. Apabila hadiah ini diterima, maka mereka harus menempati rumah tersebut dan merawat dengan sebaik-baiknya. Kelihatannya hadiah rumah mewah itu suatu keberuntungan yang sangat luar biasa, tetapi realitanya ke depan biaya perawatan, biaya listrik, dan biaya-biaya lainnya yang mungkin harus dikeluarkan tentu akan jauh lebih membuat beban hidup lebih berat.

Ada begitu banyak orang yang sangat bahagia dan segera menerima setiap tawaran yang terlihat menarik tanpa mempertimbangkannya dengan bijaksana. Tak heran bila di tengah perjalanan mereka tidak dapat mengelola berkat itu dengan baik, hingga mereka menjadi hancur akibat kebodohan mereka.

Amsal 11:9b berkata “…tetapi orang benar diselamatkan oleh pengetahuan”, yang berarti agar kita ‘selamat’ maka kita perlu pengetahuan, atau dengan kata lain kita perlu mencari tahu, khususnya untuk tawaran yang terlihat menarik sehingga kita dapat mempertimbangkan sisi baik dan sisi buruk bagi diri kita sendiri, dan untuk masa depan kita.

Dari pengetahuan yang kita peroleh, maka ketika kita memilih untuk menerima atau menolak sebuah tawaran yang telrihat menarik itu dan kemudian menjalani hari-hari bersama atau tanpa tawaran itu, maka kita tidak perlu lagi terkejut dan mengatakan “kok ternyata begini jadinya?” atau “seandainya dulu saya menerima tawaran tersebut”, karena seharusnya kita sudah mengetahui segala resikonya sebelum kita memutuskan.

Ada begitu banyak orang yang tidak suka disebut seperti anak kecil, karena merasa dirinya sudah tua dan cukup dewasa untuk memutuskan segala sesuatu. Tetapi keinginan untuk dihormati, untuk dihargai, ingin cepat sukses, dan ingin cepat menjadi kaya seringkali membuat seseorang bersikap seperti anak kecil yang tanpa berpikir panjang ingin segera menerima tawaran menarik yang ada didepannya tanpa mengenali resiko-resikonya.

Itulah sebabnya, kita perlu mengetahui talenta dan minat yang ada didalam diri kita. Kemudian kita juga perlu mengetahui kapasitas dan kemampuan yang ada didalam diri kita. Dan kita juga perlu mengembangkan diri kita melalui pengetahuan dan pengetahuan. Sehingga kita dapat memandang keluar dan memutuskan dengan bijaksana setiap pemberian atau penawaran yang diberikan pada kita.

Disamping itu, tentunya kita juga tidak boleh melepaskan diri dari sikap berdoa karena realitanya, Tuhan yang Empunya hidup ini jauh lebih tahu masa depan kita.

Amsal 15:24 “jalan kehidupan orang berakal budi menuju ke atas, supaya ia menjauhi dunia orang mati di bawah”.

Tuhan memberkati!

**picture taken from:
http://www.google.co.id/imgres?q=picture+of+cartoon+don%27t+received&hl=id&biw=1280&bih=707&tbm=isch&tbnid=Hv7H3P4WSkxseM:&imgrefurl=http://dawnlennon.wordpress.com/2010/04/15/bosses-who-don%25E2%2580%2599t-get-it-taking-issue/&docid=fcJbAXNHqF382M&imgurl=http://dawnlennon.files.wordpress.com/2010/04/boss_cartoon.jpg&w=350&h=353&ei=xaAoUKzTM42HrAfD44HICA&zoom=1&iact=hc&vpx=440&vpy=230&dur=1952&hovh=225&hovw=224&tx=162&ty=171&sig=115066408690274837010&page=3&tbnh=152&tbnw=151&start=37&ndsp=23&ved=1t:429,r:2,s:37,i:193

4 thoughts on “Tak Semua Harus Diterima

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s