Seperti Bapa Yang Menghargai Anak-AnakNya


Pada suatu hari Minggu, pada saat kebaktian, ketika saya sedang menikmati suasana pujian dan penyembahan, didalam suatu penglihatan saya merasa seperti melihat sosok seorang Bapa yang bangkit dari tempat dudukNya yang sangat mewah, mungkin dapat digambarkan seperti kursi raja yang terdapat didalam sebuah kerajaan. Sosok seorang Bapa itu bangkit ketika mendengar ada begitu banyak orang sedang memuji dan menyembah Dia.

Saya berdoa dan bertanya untuk memastikan mengenai yang saya lihat itu. Lalu segera saya mendapatkan pengertian bahwa didalam penglihatan saya itu terdapat gambaran sosok seorang Bapa di Surga yang bangkit dari tempat dudukNya sebagai sikap seorang Bapa yang sangat menghargai anak-anakNya di bumi saat memuji dan menyembahNya.

Sebuah penglihatan yang sederhana, namun memberikan pengertian yang sangat dalam bagi saya. Saya sungguh merasa sangat kagum pada Bapa, yang adalah Raja, tetapi masih mau bersikap menghargai anak-anakNya yang memuji dan menyembahNya.

Menurut saya, bila Bapa tidak terlihat bangkit dari tempat dudukNya, maka sebenarnya tidak menjadi masalah, karena Dia adalah Bapa yang memiliki wewenang untuk melakukan apa saja, tak kan ada yang merasa tersinggung dan memermasalahkannya. Selain itu, kita, anak-anak yang berada dibumi juga tidak dapat melihat sikap Bapa itu dengan mata jasmani.

Teringat pada sikap orang-orang yang berkesempatan untuk menjadi seorang tamu pada sebuah restaurant atau toko, ada di antara mereka yang mampu bersikap semena-mena terhadap pelayan, meminta pelayan untuk melayani dengan sebaik mungkin, dan memarahi pelayan hanya karena masalah kecil. Sikap orang-orang yang semena-mena terhadap pelayan ini menunjukkan sikap yang kurang menghargai usaha setiap pelayan untuk melayani para tamu dengan sebaik mungkin.

Orang-orang yang suka mendahului sebuah antrian walau pun mereka tahu bahwa sudah ada begitu banyak orang yang antri, namun mereka tetap berusaha untuk mendahului, merupakan salah satu sikap tidak dapat menghargai orang lain. Dan tidak semua dari kita yang bisa menghargai kehadiran orang lain, seperti Bapa menghargai ketika kita datang kepadaNya.

Mari kita mencoba untuk membayangkan bila ada seseorang yang tidak kita sukai kehadirannya, datang kepada kita untuk sekedar menyapa dan berbicara, dan pada saat itu kita sedang duduk, apakah kita mampu bangkit dari tempat duduk kita, sekedar untuk menghargai kedatangan seseorang itu, atau kita akan tetap duduk karena beranggapan seseorang itu seharusnya tidak perlu mendatangi kita?

Bila kita menjadi seorang pemimpin atau orang tua, akankah kita ‘bangkit’ dari tempat duduk kita, ketika kita melihat seorang bawahan atau anak-anak sedang membawa suatu makanan yang paling kita sukai misalnya?

Realita kehidupan ini membuktikan bahwa tak banyak orang yang mampu bersikap menghargai orang lain, karena bersikap menghargai tanpa sadar seringkali dianggap sebagai suatu sikap merendahkan atau memermalukan diri sendiri, sehingga lebih baik memilih untuk tidak beranjak dari ‘tempat duduk’ agar lebih terlihat perbedaan antara yang ‘diatas’ dan yang ‘dibawah’ atau terlihat ‘siapa kamu’ dan ‘siapa saya’.

Kita adalah manusia berdosa. Walau pun kita berada di sebuah tempat ibadah setiap waktu dan melayani Tuhan, mempunyai banyak karunia roh, tetapi kita tetap berdosa. Sedangkan Bapa tidak pernah berdosa. Tetapi Bapa mau menghargai kita, Dia mau ‘bangkit’ dari tempat dudukNya yang Maha Agung, untuk menghormati kehadiran kita didalam pujian dan penyembahan.

Bapa tidak pernah protes ketika kita memuji dan menyembahNya dengan suara kita serak dan tidak pas dengan suara musik, karena Bapa benar-benar menghargai pemberian kita berupa pujian dan penyembahan yang merupakan salah satu hal yang paling disukaiNya. Dan sikapNya yang menghargai kita, sama sekali tidak membuatNya direndahkan atau dipermalukan. Bapa tidak sedang menurunkan harkat dan martabatNya sebagai Bapa ketika Dia ‘bangkit’ dari tempat dudukNya untuk menerima pujian dan penyembahan dari kita.

Kita, yang mengaku sebagai anak-anak Tuhan, seharusnya bisa belajar dari teladan Bapa, yang bisa menghargai sikap anak-anakNya. Sikap menghargai bukanlah sikap merendahkan diri sendiri. Seorang tamu akan tetap menjadi seorang tamu walau pun ia tidak bersikap semena-mena terhadap seorang pelayan restaurant atau toko. Berbicara baik-baik dan menanti dengan sabar ketika kita berkesempatan untuk mampir ke sebuah restaurant atau toko tidak akan membuat kita direndahkan.

Sebagai seorang pemimpin dan sebagai orang tua, yang mau ‘bangkit’ dari tempat duduk untuk menerima sebuah pemberian dari seorang bawahan dan seorang anak, akan tetap menjadi seorang pemimpin dan akan tetap menjadi orang tua. Seorang bawahan dan seorang anak tidak akan mampu bersikap merendahkan pemimpin atau orang tua mereka hanya karena mereka sedang dihargai.

Bersikap menghargai tidak sama dengan bersikap manis yang bertujuan untuk sekedar mencari muka. Bila kita dapat bersikap menghargai, maka salah satunya, dapat diartikan sebagai suatu sikap mau menerima dengan hati yang tulus. Bersikap menghargai bertentangan dengan sikap merendahkan. Dan ketika kita bersikap menghargai, maka sebagai anak-anak Tuhan, sama artinya dengan kita bersikap memberkati orang lain.

Matius 23:12 “Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan”

**picture taken from:
http://www.google.co.id/imgres?q=picture+of+cartoon+Father+received+son&start=164&hl=id&biw=1280&bih=707&tbm=isch&tbnid=iK_nxwsm-x-eUM:&imgrefurl=http://ebtksonline.blogspot.com/2009/11/general-feature-relative-values.html&docid=cYbT-ulo0kyYWM&imgurl=http://lh5.ggpht.com/_JMEZJZmftZQ/Swc2l9zK0nI/AAAAAAAAAHU/VoGs-eWF0ks/father-son%25255B2%25255D.png&w=512&h=362&ei=otxjULaaPI-urAfG8oHoAw&zoom=1&iact=hc&vpx=195&vpy=220&dur=1316&hovh=189&hovw=267&tx=180&ty=134&sig=115066408690274837010&page=8&tbnh=153&tbnw=216&ndsp=22&ved=1t:429,r:10,s:164,i:260

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s