Hubungan Dan Kepercayaan


Diantara beberapa orang teman dekat dan saudara saya, beberapa kali pernah mengatakan kepada saya, misalnya saja mereka merasa kangen untuk bertemu dengan saya, senang bila mereka bisa berada bersama saya, sangat sayang pada saya, dan mereka juga mengatakan kepada saya bahwa mereka seperti memiliki ikatan hubungan perjanjian atau komitmen (covenant) dengan saya, seolah-olah mereka menggambarkan perasaan mereka yang memiliki hubungan yang sangat dekat dengan saya.

Di waktu sendiri, saya pikir, saya adalah seorang yang sangat beruntung. Saya sangat bersyukur karena ada orang-orang yang merasa sedemikian dekat dan sayang pada saya. Saya sungguh menghargai sikap dan perhatian mereka terhadap saya. Tetapi bila saya boleh bersikap jujur, saya sendiri merasa heran dengan diri saya sendiri, karena saya tidak bisa merasa begitu sangat sayang atau bisa merasa kangen dengan mereka.

Pada awalnya saya pikir, kepribadian saya yang kaku yang membuat saya sulit merasa sayang atau kangen pada orang lain dengan begitu mudahnya. Sangat lama saya harus bertanya-tanya mengenai hati saya sendiri, kadangkala saya bisa merasa bersalah, dan kadangkala saya harus bersikap menjadi diri sendiri.

Sampai pada suatu hari saya mendengarkan sebuah CD kotbah yang sebenarnya sudah pernah saya dengarkan sebelumnya, yang berjudul “Closeness to God” oleh Jose Carol. Inti dari kotbah tersebut mengatakan bahwa suatu hubungan yang dekat terjalin ketika ada kepercayaan diantara dua atau lebih orang yang bersangkutan didalamnya. Didalam kedekatan, dipercayakan berbagai cerita rahasia didalamnya.

Bila kita dapat menceritakan rahasia kepada seseorang tentu karena kita percaya pada seseorang itu. Sebaliknya, bila seseorang menceritakan rahasianya kepada kita, maka seseorang itu percaya pada kita. Hubungan timbal balik yang saling memercayai ini menyebabkan suatu kedekatan. Demikian pula didalam hubungan kita dengan Tuhan, bila kita memercayai Tuhan dan Tuhan memercayai kita, maka kita dapat memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan.

Beberapa jam lamanya saya merenungkan kotbah tersebut, tiba-tiba saya diingatkan mengenai pertanyaan saya “mengapa saya sendiri tidak dapat merasakan hubungan kedekatan seperti yang dirasakan oleh orang-orang dekat saya?” dan saya menemukan bahwa didalam hubungan saya dengan mereka sebenarnya tidak benar-benar ada kepercayaan.

Seseorang mengatakan bahwa dia akan menitipkan sejumlah uang dalam jumlah yang cukup besar kepada saya, untuk diberikan kepada seorang yang lain. Sampai beberapa waktu lamanya, dia terus menerus mengulangi ucapannya itu, tetapi dia tidak pernah menitipkannya pada saya.

Kemudian seseorang ini juga pernah meminta agar saya membantu memesankan tiket pesawat melalui website. Karena saya pikir dia selama ini mungkin merasa sangat percaya terhadap saya karena dia merasa dekat dengan saya, maka sesuai prosedur, saya meminta nomor kartu kredit beserta angka dibelakang kartu yang memang seharusnya dirahasiakan. Tetapi bila dia ingin saya membantunya, maka dia harus memberikan angkanya. Tanpa banyak bicara, secara diam-diam dia memesan tiket pesawatnya sendiri.

Ada lagi seorang teman yang setiap kali saya minta bantuan untuk didoakan, dia selalu menjawab dengan senyuman. Dan setiap saya titip bila ada kenalan seseorang yang mau bekerja sebagai pembantu, dia juga selalu diam. Padahal biasanya bila seseorang itu bersedia, maka mereka akan menjawab “ya” sebagai tanda mereka setuju untuk membantu mendoakan atau mengenalkan bila ada seseorang yang mencari pekerjaan sebagai pembantu. Dan ada juga seseorang yang setiap kali saya bercerita tentang sesuatu hal, maka dia akan selalu mengatakan secara langsung dan tidak langsung bahwa saya yang bersalah.

Ternyata, sekarang saya mengerti bahwa dibawah alam sadar saya sebenarnya mengetahui kalau mereka tidak benar-benar memiliki rasa percaya terhadap saya, sebagai hubungan timbal balik yang dapat menyebabkan hubungan kami bisa benar-benar mengalami kedekatan. Sehingga tidak heran bila hanya mereka yang merasa dekat dengan saya, tetapi saya tidak merasa benar-benar dekat dengan mereka.

Kita tidak bisa memaksa seseorang untuk memercayai kita, tetapi kita bisa menjadi seseorang yang bisa dipercaya dan butuh waktu untuk membuktikannya. Bila kita ingin memiliki hubungan yang dekat dengan seseorang, misalnya saja ingin menjadi salah seorang sahabatnya, rekan kerjanya, atau kekasihnya, maka kita harus menanamkan rasa percaya terhadapnya didalam hati kita dan membuatnya juga bisa memercayai kita (Amsal 31:11 “Hati suaminya percaya kepadanya,…”).

Demikian pula didalam hubungan kita dengan Tuhan, bila kita ingin dekat denganNya maka kita harus memercayaiNya dan Dia juga harus percaya kepada kita. Tentu saja, kepercayaan tidak dapat dibangun dalam waktu beberapa menit saja. Apalagi Tuhan dapat mengetahui kedalaman hati kita, sehingga tidak mudah membuatNya percaya kepada kita (Amsal 18:21 “Tuhan memperlakukan aku sesuai dengan kebenaranku, Ia membalas kepadaku sesuai dengan kesucian tanganku”).

Bangunlah hubungan secara timbal balik dengan kepercayaan yang benar dan tulus! Sebagai salah satu koreksi, bila hati kita memiliki hati yang benar-benar percaya dan tulus, maka sekali pun kita marah atau merasa kecewa kepada seseorang itu, kita tidak akan mengeluarkan kata-kata yang tidak baik, yang menuduh atau mencurigai seseorang itu.

Tuhan memberkati.

**picture taken from:
http://www.google.co.id/imgres?q=picture+of+relationship+business&hl=id&sa=X&biw=1280&bih=707&tbm=isch&prmd=imvns&tbnid=D3WklvJebTk1hM:&imgrefurl=http://www.completemarketingsystems.com/cms/relationship-marketing%25E2%2580%25A6what-it-means-what-it-is-how-to-do-it-effectively-2&docid=SEIGkb4VVb-keM&imgurl=http://www.completemarketingsystems.com/cms/wp-content/uploads/2012/10/RelationshipMarketing.jpg&w=800&h=600&ei=nWFyUKrHCMPTrQfA8oDADw&zoom=1&iact=hc&vpx=605&vpy=158&dur=1443&hovh=194&hovw=259&tx=120&ty=109&sig=115066408690274837010&page=1&tbnh=151&tbnw=176&start=0&ndsp=15&ved=1t:429,r:2,s:0,i:73

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s