Tanggung Jawab Atas Komitmen


Sebuah cerita dari seorang teman, yang memiliki seorang anak, berusia sekitar empat tahun. Pada suatu hari, anak seorang teman ini ingin menikmati menu makanan yang sebenarnya terasa pedas bagi seorang anak yang belum biasa menikmati menu makanan yang pedas, walau pun bagi orang dewasa pada umumnya mungkin rasa makanan itu tidak terasa pedasnya.

Seorang teman atau mama dari anak itu pernah memberikan ijin kepada anaknya itu untuk menikmati menu makanan tersebut sebelumnya dan dia merasa tidak ada masalah bila anaknya menikmati menu makanan tersebut, maka saat itu dia kembali memberikan ijin anaknya untuk menikmati menu makanan tersebut.

Saat anaknya mulai menikmati menu makanan tersebut, seorang teman ini tetap berada disamping anaknya. Seorang teman ini berkata, jika sewaktu-waktu anaknya tidak mau menghabiskan menu makanannya itu, maka sebagai mamanya, dia sudah siap untuk mengganti dengan menu makanan yang lain.

Dilihatnya, anaknya selalu meneguk air minum sehabis menelan satu sendok makanannya. Beberapa saat kemudian, segera ditawarkan untuk mengganti menu makanan yang lain, tetapi anaknya menolak dan terus menikmati menu makanannya itu sampai habis.

Seorang teman ini bercerita kepada saya bahwa anaknya itu memang selalu berusaha untuk bersikap tanggung jawab atas permintaannya. Sehingga tidak perlu heran bila anaknya pasti akan menghabiskan makanan yang dimintanya.

Melalui cerita seorang teman itu, kita juga dapat belajar bahwa didalam realita kehidupan ini, diperlukan rasa tanggung jawab atas keputusan atau komitmen yang kita buat.

Misalnya saja saat kita menerima tawaran untuk sebuah pekerjaan. Pada awal kita setuju untuk membuat perjanjian kerjasama, tentu karena kita mendapatkan sebuah tawaran gaji dan fasilitas yang menjanjikan. Tetapi realitanya, saat kita benar-benar terlibat didalam pekerjaan itu, maka kita akan segera mengetahui bahwa ada hal-hal yang mungkin tidak sesuai dengan gambaran atau tidak sesuai dengan harapan kita akan pekerjaan itu.

Lalu apakah kita akan segera meninggalkan pekerjaan tersebut?

Orang-orang yang memiliki rasa tanggung jawab terhadap keputusan yang telah dibuatnya tentu akan mengerjakan tugas-tugasnya itu sampai selesai. Tetapi orang-orang yang tidak memiliki rasa tanggung jawab, tentu tidak akan bisa menerima hal-hal yang ada diluar harapannya, dan sebisa mungkin segera meninggalkan pekerjaan tersebut.

Ketika kita memutuskan untuk menikah, maka pada saat itu kita sedang membuat sebuah komitmen untuk menjalani hidup bersama pasangan kita. Menjalani hidup bersama pasangan berarti menjalani kehidupan yang sudah menjadi satu paket dengan berbagai persoalan didalamnya, dengan kata lain tidak hanya sekedar menikmati waktu-waktu baik bersama, tetapi juga harus bisa menikmati waktu-waktu susah bersama.

Hanya orang-orang yang memiliki rasa tanggung jawab atas janji pernikahan mereka yang akan selalu memerjuangkan kehidupan pernikahannya, merasa bahagia dengan kehidupan pernikahannya, dan mampu menikmati kehidupan pernikahan bersama pasangannya.

Demikian pula saat kita berkomitmen untuk menjadi seorang pemercaya atau menjadi anak Tuhan, kita tentu tahu bahwa Tuhan tidak pernah menjanjikan kehidupan yang tidak ada persoalan. Didalam Firman Tuhan Ayub 2:10 berkata “…Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?…”.

Saat kita mengetahui bahwa didalam Tuhan ternyata proses kehidupan terasa jauh lebih berat daripada saat kita belum mengenal Tuhan, atau saat kita mengetahui bahwa orang-orang yang hidup diluar pengenalan akan Tuhan terlihat jauh lebih bahagia, apakah kemudian kita akan meninggalkan Tuhan dan membatalkan komitmen kita untuk menjadi anak Tuhan yang akan hidup selalu menyenangkan hati Tuhan?

Apabila kita memiliki rasa tanggung jawab didalam kehidupan kita ini, maka seperti seorang anak didalam cerita tersebut diatas, yang selalu berusaha untuk bertanggung jawab atas permintaannya, maka kita juga harus menjalani setiap detail proses kehidupan yang memang harus kita lewati bersama Tuhan, demi membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih dewasa.

Sebaik apa pun perusahaan tempat kita bekerja, sebaik apa pun gedung dan fasilitas sekolah tempat kita belajar, dan sebaik apa pun pasangan kita didalam keluarga, tentu ada hal-hal yang tidak baik yang akan kita temui didalamnya. Tetapi saat kita mau bertanggung jawab atas komitmen kehidupan yang hendak kita jalani, maka kita pasti dapat menyelesaikan setiap tugas dengan baik, dan juga dapat menjadi berkat.

Bertanggung jawab tentu tidak hanya sekedar bertahan dan memendam rasa kecewa atau rasa bosan demi menyelesaikan sebuah tugas. Tetapi bertanggung jawab juga termasuk berusaha untuk menikmati proses perjalanannya, dengan demikian maka kita akan dapat menjadi lebih maksimal didalam penyelesaian tugas.

Tuhan memberkati.

**inspired by Silvia Atmodjo’s daughter (Gaby)

**picture taken from:
http://www.google.co.id/imgres?q=picture+of+commitment&hl=id&sa=X&biw=1280&bih=707&tbm=isch&prmd=imvns&tbnid=6vuTlYzFZqmSAM:&imgrefurl=http://blog.tnsemployeeinsights.com/%3Fp%3D2265&docid=3hL8M3QydxkgCM&imgurl=http://blog.tnsemployeeinsights.com/wp-content/uploads/2012/08/commitment-300×300.jpg&w=300&h=300&ei=B6KgUNfhLMyrrAfct4CgCQ&zoom=1&iact=hc&vpx=625&vpy=244&dur=1150&hovh=225&hovw=225&tx=131&ty=136&sig=115066408690274837010&page=3&tbnh=153&tbnw=170&start=55&ndsp=30&ved=1t:429,r:62,s:20,i:315

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s