Merawat Seperti Masih Baru


Biasanya, setelah kita membeli sebuah barang yang baru, maka selama beberapa waktu tertentu kita akan terus berusaha untuk merawatnya dengan sebaik mungkin agar tetap terlihat baru dan tetap terlihat bagus.

Salah satu kegemaran saya adalah membeli sebuah jaket. Saya ingat saat saya membeli sebuah jaket baru yang sudah saya inginkan sejak lama, mami saya mengingatkan agar saya membawa jaket saya kepada jasa pencucian yang terbaik di Surabaya pada waktu itu agar tetap terawat, warnanya tidak pudar, dan tetap bagus saat dipakai.

Tak hanya jaket, tetapi saat saya memiliki sebuah baju pesta yang baru, saya sering merasa tidak berani mencucinya sendiri, sehingga saya pasti mengirimkan ke jasa pencucian yang terbaik untuk memastikan perawatannya benar-benar baik. Dan saya rela membayar lebih selama beberapa kali waktu pencucian misalnya, demi mendapatkan hasil terbaik untuk perawatan jaket dan baju-baju yang sudah saya beli.

Kita mungkin saat ini teringat juga memiliki cerita dari kisah yang lain, yang mungkin serupa, yang pernah kita alami. Saat kita membeli sebuah barang yang baru, tentu kita akan bersikap sangat berhati-hati saat meletakkan dan saat menggunakan barang tersebut, serta dengan rajin melakukan perawatan yang seharusnya agar barang baru tersebut tidak cepat rusak dan diharapkan dapat dipakai dalam jangka waktu yang lama (baca: awet).

Tetapi saat kita melihat barang-barang baru kita itu warnanya mulai pudar, terlihat kusut, tak lagi menarik tampaknya, atau sudah tergores hingga membuatnya tak tampak bagus lagi bagi kita, maka seringkali kita tidak akan bersikap terlalu berhati-hati lagi dengannya, mulai melupakannya, dan bahkan akan segera beralih kepada barang-barang yang lain yang pastinya akan terlihat jauh lebih bagus dan menarik.

Mungkin untuk barang-barang seperti pakaian, tas, dan sepatu, yang sudah terlihat tidak menarik lagi untuk kita kenakan, dapat kita berikan kepada orang-orang yang justru masih berharap untuk bisa memiliki dan berpendapat masih layak untuk dikenakan. Dan barang-barang elektronik mungkin masih bisa kita jual kembali atau juga bisa kita berikan kepada orang-orang yang membutuhkannya.

Bila cerita tersebut diatas kita sedikit kaitkan dengan hubungan didalam pernikahan maka kisahnya akan berbeda. Kebanyakan orang saat pertama kali bertemu dengan pasangan, kita akan mengenakan pakaian terbaik, tas, dan sepatu yang terbaik, demi mendapatkan kesan yang terbaik saat pertemuan.

Saat memasuki awal-awal pernikahan, semua terlihat sangat manis dan setiap waktu digunakan sebagai waktu untuk memerhatikan pasangan. Tetapi berjalannya waktu, kita tak lagi bergairah untuk ‘merawat’ hubungan kita dengan pasangan. Semakin lama kita menikah dan mengenal pasangan kita, membuat kita semakin menemukan banyak cara untuk menyakiti dan mengabaikannya, bukannya berusaha untuk menyayanginya.

Tak heran bila ada begitu banyak pasangan yang berkata bahwa didalam hidup pernikahan mereka seperti merasakan neraka di bumi. Padahal saat kita memutuskan untuk menikah sebenarnya untuk bisa menikmati kehidupan yang bahagia bersama pasangan kita.

Jeffrey Rahmat didalam kotbahnya yang berjudul “Family Ties” berkata bahwa segala sesuatu yang kita diamkan cenderung akan menurun kualitasnya, sedangkan untuk berada pada tingkatan yang sama kita perlu melakukan perawatan secara teratur dan rajin, mungkin juga akan menghabiskan banyak biaya, banyak waktu, dan banyak tenaga.

Demikian pula didalam kehidupan pernikahan, untuk memertahankan kualitas hubungan yang baik dengan pasangan, kita perlu melakukan pemeliharaan atau perawatan secara teratur dan rajin, yang tentunya juga akan menghabiskan banyak biaya, banyak waktu, dan banyak tenaga.

Kita perlu secara teratur menyediakan sebuah quality time atau waktu berkualitas hanya dengan pasangan kita. Setiap saat kita masih tetap perlu memberikan penampilan yang terbaik saat bersama dengan pasangan kita. Saat bersama, ada kalanya kita perlu melupakan sejenak tugas-tugas di kantor dan masalah-masalah yang harus kita selesaikan, tetapi kita perlu saling berbagi cerita dan saling memerhatikan.

Mungkin sulit bagi kita untuk bisa memelihara cinta kita terhadap pasangan kita karena kita merasa sudah sangat mengenalnya, tahu kebiasaan buruknya, dan sering merasa dikecewakannya, tetapi bukankah kebahagiaan itu perlu kita perjuangkan?

Tidak hanya pasangan kita yang bisa melakukan kesalahan dan memiliki kelemahan, juga sifat buruk, tetapi kita juga bisa melakukan kesalahan, memiliki kelemahan, dan sifat buruk. Jadi tidak ada salahnya kita saling mengkoreksi, saling memaafkan, dan kembali saling mencintai setiap waktu.

Pernikahan adalah sebuah hubungan yang dapat membuat kita belajar untuk saling berbagi, memampukan kita untuk belajar bersikap tidak egois, mengajarkan kita untuk saling menghargai dan saling mencintai. Kita perlu memelihara kehidupan pernikahan kita agar kualitas hidup pernikahan kita dapat semakin meningkat, dan indahnya hubungan pernikahan kita dapat jauh melebihi saat pertama kita bertemu dengan pasangan kita.

Tuhan memberikan kepada kita sebuah pernikahan agar kita dapat menikmati indahnya kebersamaan. Dan agar kita dapat menikmati hidup pernikahan dan indahnya kebersamaan, kita perlu memelihara hubungan kita bersama pasangan kita, seolah-olah seperti kita pertama kali bertemu dengannya.

Tuhan memberkati!

**picture taken from:
http://www.google.co.id/imgres?q=picture+of+cartoon+take+care+of+plants&start=376&hl=id&tbo=d&biw=1280&bih=707&tbm=isch&tbnid=UYpJ6EQ22-OGtM:&imgrefurl=http://runningahospital.blogspot.com/2007_03_01_archive.html&docid=SGDXuKkNJRsSzM&imgurl=http://4.bp.blogspot.com/_ab2e8HVM5TU/RgWhvKeoZ9I/AAAAAAAAAFk/0RP-S2JdMWE/s320/cartoon.bmp&w=320&h=254&ei=1QKzUMHfEoTLrQen_YCADw&zoom=1&iact=hc&vpx=861&vpy=33&dur=783&hovh=200&hovw=252&tx=112&ty=91&sig=115066408690274837010&page=12&tbnh=131&tbnw=165&ndsp=24&ved=1t:429,r:86,s:300,i:262

One thought on “Merawat Seperti Masih Baru

  1. What i like about married is that we have one partner for the rest of our life. It depends with us how we want to enjoy our married life. Have it in a joyful and wonderful way or painful and tough way, it’s our decision.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s