Money Money Money


Pada suatu hari, saya sedang duduk dan tanpa sengaja mata saya tertuju pada selembar uang seratus ribu yang ada diatas meja dekat televisi dirumah saya. Semua orang tentu tahu bahwa selembar uang seratus ribu itu cukup besar nilainya dan bahkan bagi orang-orang tertentu mungkin sangat besar nilainya.

Tetapi saat saya memerhatikan selembar uang itu, saya berpikir bahwa tidak banyak orang yang benar-benar mengerti bahwa uang itu sesungguhnya adalah benda mati, yang terbuat dari bahan dasar, dicetak dengan gambar serta warna-warna tertentu, dan dipotong dengan ukuran yang sama, kemudian disebarluaskan sebagai alat tukar.

moneyJadi sebenarnya uang, berapa pun jumlahnya, tergantung dari kita, seorang manusia, didalam penggunaannya. Bila kita ingin meletakkannya diatas meja, maka uang akan tetap berada diatas meja itu sampai kita memindahkan letaknya. Bila kita terus meletakkannya didalam dompet, maka uang itu tidak bisa protes. Bila kita ingin memberikannya kepada orang lain, maka uang tidak bisa mengekspresikan kesedihannya karena harus berpisah dengan kita misalnya.

Manusia, sebagai makhluk paling mulia, diciptakan Tuhan dengan tanggung jawab dan hak untuk mengusahakan dan memelihara bumi (Kejadian 2:15 “Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu“). Uang yang diciptakan oleh manusia sebagai alat tukar yang memiliki nilai untuk memudahkan didalam bertransaksi. Tetapi didalam penggunaannya, manusia memiliki kuasa atas uang tersebut.

Tak dapat disangkal bahwa hidup memang perlu uang karena segala kebutuhan dan keinginan hanya dapat dipenuhi bila kita memiliki uang. Seperti halnya kita perlu seorang teman selama hidup, tetapi kita sadar bahwa seorang teman tidak bisa mengatur jalan hidup kita. Demikian pula uang seharusnya juga tidak bisa mengatur hidup kita.

Uang dikatakan mulai mengatur hidup kita saat kita mulai bersikap serakah, menipu, mencuri hak orang lain, atau meminjam-minjamkan dengan bunga yang sangat tinggi hingga menindas. Dengan kata lain, kita mulai kehilangan hati nurani dan rasa belas kasihan demi menjadi kaya. Selain itu, bila kita hanya baik hati pada orang-orang yang punya uang banyak dan menilai pemberian seseorang hanya dari nilai uang yang kita terima, maka kita tidak lagi menghargai keberadaan seseorang, tetapi hanya menghargai uang yang dimilikinya.

Kita bisa menguasai uang saat kita bisa mengelolanya dengan benar, misalnya saja kita menggunakan uang untuk diinvestasikan, untuk ditabung, untuk membuka usaha, untuk memenuhi kebutuhan hidup, dan termasuk untuk memberi bantuan. Kita yang mengatur hendak digunakan untuk apa uang tersebut. Kita juga yang harus mengusahakannya dengan benar, yaitu dengan cara bekerja, tanpa bersikap serakah.

Kemampuan kita untuk mengelola keuangan akan membuat kita menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab dan mampu untuk bersikap menghargai. Selanjutnya, orang lain juga akan lebih mendengarkan pendapat kita dan percaya pada kita. Menjadi kaya itu halal, asalkan untuk mendapatkannya kita menggunakan cara-cara yang halal.

Amsal 10:22
berkat Tuhan yang menjadikan kaya, susah payah tidak akam menambahinya

Tuhan memberkati!

**picture taken from:
http://www.google.co.id/search?q=picture+of+money&tbo=u&tbm=isch&source=univ&sa=X&ei=ZO0aUYm8EoqQrgfMlIHIBQ&ved=0CCsQsAQ&biw=1280&bih=707#imgrc=VUvzKXGlpv1wOM%3A%3BtyYAY3bkRWuFyM%3Bhttp%253A%252F%252Fwatchdog.org%252Fwp-content%252Fblogs.dir%252F1%252Ffiles%252F2012%252F10%252Fmoney.jpg%3Bhttp%253A%252F%252Fwatchdog.org%252F59549%252Fia-courtsaudit%252F%3B255%3B300

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s