Hidup Adalah Pilihan (Part III)


Prioritas setiap orang berbeda-beda, karena tingkat kepentingan akan sesuatu menurut pandangan setiap orang juga berbeda-beda. Kita tidak bisa memaksa seseorang memiliki prioritas yang sama seperti kita. Demikian pula sebaliknya, kita tidak bisa dipaksa oleh orang lain untuk mengikuti prioritas berdasarkan tingkat kepentingannya.

Seorang Ibu, yang sekaligus sebagai seorang penari didalam gerejanya, bercerita kepada saya bahwa dia pernah membatalkan kepergiannya ke sebuah acara Kebaktian Kebangunan Rohani di suatu negara, hanya karena suaminya tiba-tiba melarangnya untuk pergi. Bagi seorang Ibu ini Tuhan adalah prioritas yang terutama dan selanjutnya keluarga adalah prioritas yang kedua didalam hidupnya.

FamilyKeluarga itu berarti saat suaminya melarang dia untuk pergi, maka dia akan taat pada suaminya sebagai otoritas tertinggi didalam rumah tangganya. Menomorsatukan Tuhan bukan berarti menomorsatukan pelayanan. Bagi seorang Ibu ini pelayanan bukanlah yang terutama, karena pelayanan hanyalah sebuah kegiatan didalam gereja yang dapat dilakukan ‘nanti’ saat prioritas utama sudah diselesaikan terlebih dahulu.

Berbeda dengan kisah seorang Bapak yang bersaksi tentang prioritas hidupnya yang tanpa disangkanya, prioritasnya itu mengakibatkan rumah tangganya hancur. Selama ini dia selalu bersikap mengutamakan pelayanan dan menomorduakan keluarga serta pekerjaan dikantornya. Bagi seorang Bapak ini, mengutamakan Tuhan itu berarti mengutamakan pelayanan.

Seorang Bapak ini tidak segan-segan meninggalkan rapat penting di kantor demi memenuhi panggilan untuk berkotbah di sebuah acara persekutuan doa. Sehingga ada begitu banyak proyek yang gagal. Saat Istri dan anak-anaknya minta tolong untuk dijemput di suatu tempat, seorang Bapak ini mengatakan kepada mereka untuk menunggunya selesai dari pelayanan. Karena sudah sangat kelelahan, akhirnya Istri dan anak-anaknya pulang dengan mengendarai kendaraan umum. Tak heran bila selanjutnya mereka didalam rumah akan sering bertengkar.

Hidup adalah pilihan. Termasuk prioritas adalah pilihan masing-masing pribadi. Tetapi saat kita salah menentukan prioritas, maka akibatnya kita tidak menjadi berkat atau teladan bagi orang lain, dan akan semakin banyak pertengkaran yang ditimbulkan.

Pastor Jeffrey Rachmat berkata bahwa keluarga lebih penting daripada pelayanan, karena bila mereka terjaga dengan baik, maka pelayanan akan selalu ada. Dalam arti seseorang akan memercayakan sebuah tugas pelayanan kepada kita saat mereka dapat melihat kita mampu menjaga keluarga kita dengan baik. Bisa dibayangkan saat orang lain melihat keluarga kita hancur, suami atau istri terlihat tidak saling menghormati, orang tua dan anak-anak tidak saling mengasihi dan tidak saling menyapa, apakah mungkin orang lain bersedia kita layani?

Uang memang bukan segalanya, tetapi saat bisnis kita hancur, rekan bisnis tidak ada yang mau bekerja sama dengan kita, dan kita selalu bersikap memercayakan bisnis yang kita bangun pada orang lain, kemudian kita ditipu, akibat kita terus menerus menomorsatukan pelayanan, apakah mungkin orang lain mau kita layani? Jangan-jangan mereka takut akan menjadi ‘kurang berhikmat’ seperti kita dan bisnis mereka juga akan hancur.

Pelayanan bukan yang nomor satu didalam hidup kita. Kolose 3:23 mengatakan “apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia“. Jadi didalam keseharian kita sebenarnya sedang melayani Tuhan. Saat keluarga, pekerjaan, dan sekolah menjadi prioritas utama bagi kita, maka lakukan prioritas utama kita itu dengan baik, bahkan lebih baik dari tugas pelayanan yang mungkin kita lakukan sebagai kegiatan didalam gereja.

Hidup adalah pilihan. Pilihlah prioritas hidup kita dengan benar! Agar kita tidak menjadi batu sandungan dan tidak mengalami berbagai kesusahan hidup yang seharusnya tidak perlu terjadi.

Tuhan memberkati!

**picture taken from:
http://www.wallcoo.net/cartoon/mother_day_lovely_children_illustraion/html/wallpaper7.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s