Jual Mahal


Jual mahal adalah istilah yang biasanya sering kita dengar untuk menggambarkan sikap sosok seorang wanita lajang yang sedang didekati oleh pria. Menurut nasehat kebanyakan orang, seorang wanita harus bersikap ‘jual mahal’ agar tidak terlihat murahan, bila sedang didekati oleh seorang pria.

Pendapat ini timbul kebanyakan karena pemikiran bahwa seorang wanita tidak ingin merasa tidak dihargai oleh seorang pria, sehingga seorang pria harus dengan susah payah mendapatkan cinta seorang wanita.

Bersikap ‘jual mahal’ kadangkala berguna, tetapi seringkali juga merugikan.

Misalnya saja dalam hal berbisnis. Di daerah perumahan tempat saya tinggal saat ini, hanya ada dua toko yang menjual air isi ulang. Pada saat air PDAM mati, kedua tempat yang menjual air isi ulang itu tidak akan mau mengirimkan air isi ulang untuk orang-orang diluar pelanggan, dengan berbagai alasan, yang mungkin menurut mereka masuk di akal.

Bagi orang-orang yang bisa melihat suatu peluang, bisnis air isi ulang ini akan memberikan suatu keuntungan, khususnya pada saat-saat krisis air. Tetapi realitanya, orang-orang yang menjual air isi ulang ini justru bersikap ‘jual mahal’.

Sampai pada suatu hari, ada dua toko lainnya yang juga menjual air isi ulang, yang bersedia untuk melayani pelanggan, mau pun diluar pelanggan dengan baik. Sehingga kedua toko yang sudah ada sebelumnya menjadi sepi pelanggan.

Amsal 3:27-28 berkata “Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya. Janganlah engkau berkata kepada sesamamu: Pergilah dan kembalilan, besok akan kuberi. Sedangkan yang diminta ada padamu“.

sombongDi dunia ini, ada orang-orang yang sangat senang bila melihat orang lain memohon-mohon padanya, karena orang-orang itu senang saat dirinya merasa dibutuhkan oleh orang lain. Tetapi Firman Tuhan mengajarkan pada kita semua agar kita tidak bersikap ‘jual mahal’ saat ada orang lain yang membutuhkan uluran tangan kita.

Sebaliknya, di dunia ini juga ada orang-orang yang sudah terbiasa untuk mengulurkan tangan bagi orang lain, sehingga pada saat dirinya sendiri sedang membutuhkan pertolongan, orang-orang itu akan bersikap seolah-olah dirinya baik-baik saja, atau dengan kata lain bersikap ‘jual mahal’ atas pertolongan orang lain.

Saat kita bersekolah, ada satu mata pelajaran yang mengajarkan bahwa kita ini adalah makhluk sosial, itu berarti kita hidup harus saling menolong. Kata ‘saling’ berarti kita bisa menjadi pemberi dan kita bisa juga menjadi penerima. Sedangkan sikap ‘jual mahal’ adalah suatu pembatas yang membuat kita tidak dapat menjadi makhluk sosial itu.

Tidak selamanya kita bisa menjadi pemberi, karena keluarga kita sendiri memiliki kebutuhan, dan tidak selamanya kita bisa menjadi penerima, karena kita tidak bisa hidup hanya bergantung pada orang lain.

Bersikap ‘jual mahal’ membuat kita tidak pernah tahu apakah berkat yang kita terima itu untuk kita sendiri atau untuk kita memberkati orang lain. Bersikap ‘jual mahal’ juga membuat kita tidak tahu bahwa Tuhan bisa memberkati kita melalui orang lain.

Jadi bila kita bisa membantu, maka jangan pernah menunda untuk memberikan bantuan itu, dan bila kita harus meminta bantuan, maka jangan pernah menahan diri untuk mengatakannya! Dengan demikian, kita dapat melihat bahwa keajaiban dari Tuhan datang mulai dari tangan kita sendiri dan dari tangan orang lain juga.

Tuhan memberkati.

**picture taken from:
http://aqupening.blogspot.com/2011_01_01_archive.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s