Tuhan Itu Baik


Sudah lama saya ingin menuliskan artikel ini, saya ingin mengatakan kepada semua orang bahwa Tuhan itu baik. Tetapi, saya lebih sering mendengar dari mami saya bahwa Tuhan itu baik, dan walau pun saya tahu Tuhan itu baik, saya tidak dapat melihat sisi kebaikan Tuhan didalam hidup saya, sehingga saya belum benar-benar dapat merasakan bahwa Tuhan itu baik.

Seringkali saya mendengar cerita, baik dari kakak saya, mau pun dari suami saya, dan dari teman-teman saya, bahwa mereka mendapatkan sesuatu dari keinginan yang bahkan belum pernah mereka katakan pada siapa pun juga, tetapi mereka mendapatkannya. Sungguh menakjubkan menurut saya.

Pada suatu hari, papi saya mendapatkan sebuah kiriman terang bulan atau martabak manis dari seorang temannya, dan kakak saya berkata bahwa baru saja dia berpikir, “andai saja bisa makan terang bulan malam ini“. Sedangkan saya, seringkali hal-hal yang saya inginkan tidak terjadi, atau saya harus berdoa dalam waktu yang sangat lama untuk mendapatkan yang saya inginkan.

Saya tahu dan mengerti bahwa Tuhan memberikan yang terbaik didalam hidup saya. Tetapi, masalahnya, yang ada didalam pikiran saya adalah yang saya inginkan jarang terjadi, sehingga saya berpendapat Tuhan tidak sayang saya. Buktinya, Tuhan hanya memerhatikan keinginan orang lain, dan mengabulkan bahkan sebelum seseorang itu memintanya. Sedangkan pada saat saya berdoa, butuh waktu lama untuk saya melupakan keinginan saya itu, bukan untuk mendapatkannya.

Kemudian saya belajar dari cara seseorang berjuang untuk mendapatkan yang diinginkannya, saya belajar dari cara seseorang beriman, saya belajar dari cara seseorang berdoa, dan saya juga belajar memahami keinginan Tuhan atas hidup saya. Dan lagi-lagi, saya menemukan kalau Tuhan itu pilih kasih, dan Tuhan itu tidak sayang saya.

Sampai pada suatu hari, saat saya mengalami sebuah persoalan yang sangat berat, saya berpikir bahwa tidak akan pernah ada mujizat didalam hidup saya, saya harus berjuang sendiri agar persoalan saya selesai, atau kemungkinan besar saya tidak akan pernah mendapatkan jalan keluar untuk persoalan saya ini, seumur hidup saya akan selalu berhadapan dengan kesulitan ini. Saya benar-benar lelah berdoa dan lelah untuk tetap beriman.

Walau pun saya merasa lelah, namun didalam hati kecil saya selalu terusik dengan pertanyaan, “Bagaimana mami saya bisa mengatakan Tuhan itu baik saat tubuhnya harus berjuang melawan penyakit kanker? Apa yang sudah dialaminya?“.

Ketidakpercayaan bahwa mujizat akan datang membuat persoalan tidak membaik. Dulu, dalam keadaan terdesak, sikap saya akan menyerah, kemudian sambil marah saya akan berkata, “Baik Tuhan, terserah apa mauMu, apa dayaku melawan Engkau?“. Tetapi, tidak untuk saat ini, saya berharap saya dapat melihat kebaikan Tuhan didalam hidup saya. Dengan nafas yang sesak, dan pikiran yang tidak tahu harus memikirkan apa, saya berkata, “Tuhan, bukankah Engkau Tuhan yang baik?“.

Kepala saya mengatakan, “Baiknya Tuhan dimananya?“, tetapi mulut saya berkata, “Tuhan, Engkau baik“. Dengan segera saya membantah pikiran saya sendiri dengan mengatakan bahwa sekali pun Tuhan tidak menjawab doa saya, Dia tetap baik.

Saya mencoba berdiri di sebuah sudut pandang yang berbeda.

Ada begitu banyak doa, yang seandainya Tuhan jawab, saya juga belum tentu senang dengan jawabanNya. Manusia memiliki kecenderungan tidak pernah bisa puas. Coba kita pikirkan, seandainya saja kita minta sesuatu pada seorang teman, dan seorang teman itu memberikannya pada kita, maka belum tentu kita puas dengan pemberian seorang teman itu, kita akan selalu ingin lebih.

Seorang teman yang selalu bisa memberikan semua yang kita inginkan, akan membuat kita dengan mudah berkata bahwa seorang teman itu baik. Tetapi, sebagaimana kita tidak bisa menyenangkan hati semua orang, maka semua orang pun tidak akan bisa menyenangkan hati kita. Selalu ada peluang bagi kita untuk protes. Lalu apakah kita akan bersikap adil bila mengatakan seorang teman itu tidak baik saat dia berkata “tidak” pada sebuah permohonan kita, setelah semua permohonan kita sebelumnya selalu dijawab “iya” olehnya?

Manusia berbeda dengan Tuhan, Tuhan mendengarkan permohonan kita, tetapi Tuhan juga mengerti sisi baik dan sisi buruk bila Dia menjawab permohonan kita. Tuhan selalu menginginkan kita berhadapan dengan sisi baik. Sehingga pada saat Dia menjawab permohonan kita itu berarti baik, dan pada saat Dia tidak menjawab permohonan kita itu juga berarti baik.

Ada kalanya, kita memiliki keinginan yang sama dengan seorang teman, tetapi seorang teman berhasil mendapatkan yang diinginkannya itu, dan kita tidak berhasil mendapatkannya. Apakah kita perlu merasa iri?

Sebuah ilustrasi sederhana mungkin dapat membantu kita. Coba bayangkan keinginan kita dan seorang teman itu adalah memiliki sebuah kertas kado yang cantik. Seandainya saja, kertas kado yang cantik itu ada di tangan kita dan di tangan seorang teman, kira-kira ditangan siapa kertas kado itu akan benar-benar dapat digunakan dengan baik?

Mungkin di tangan kita kertas kado itu hanya akan sekedar disimpan dengan baik. Sedangkan oleh seorang teman, kertas kado yang cantik itu akan digunakan untuk membungkus sebuah hadiah untuk ulang tahun pernikahan orang tuanya. Pada akhirnya, kertas kado itu mungkin akan sama-sama dibuang, tetapi kertas kado sudah digunakan dengan benar bila ada di tangan seorang teman.

Filipi 4:19 berkata “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaanNya dalam Kristus Yesus“, yang berarti tidak ada kebutuhan kita yang tidak Tuhan cukupkan. Jadi, Tuhan itu baik, karena Dia menaruh perhatian terhadap kebutuhan kita.

Seumur hidup saya, tidak pernah ada satu pun persoalan yang saya hadapi yang tidak memiliki jalan keluar. Itu berarti, Tuhan selalu menepati janjiNya bahwa persoalan yang kita alami tidak akan melebihi kekuatan kita. Padahal, ada begitu banyak janji yang mungkin kita katakan pada Tuhan, seandainya Dia menjawab kita, maka kita akan melakukan sesuatu untukNya, tetapi apakah semua janji bisa kita penuhi? Tuhan itu baik, Dia tetap setia memenuhi janjinya pada kita, orang-orang yang seharusnya lebih pantas menerima hukuman.

Saya tidak memiliki alasan lagi untuk mengatakan Tuhan itu jahat. Kita semua, tidak memiliki alasan berkata Tuhan itu jahat. Setiap hari, selalu ada berkatNya untuk kita. Tuhan itu baik dan akan selalu baik bagi kita.

Tuhan memberkati!

20131010-175323.jpg

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s