Sungkan


Menurut kamus besar bahasa Indonesia, ‘sungkan’ bisa berarti rasa enggan atau rasa malas, merasa tidak enak hati, dan menaruh rasa hormat atau segan. Biasanya, kata ‘sungkan’ lebih sering digunakan untuk menyatakan rasa tidak enak hati atau malu, misalnya saja kita merasa sungkan menerima secara terus menerus pemberian seseorang, atau kita merasa sungkan kalau terus menerus menumpang di rumah seseorang, dan masih banyak contoh yang lain.

Di sekitar kita, ada beragam orang dengan beragam pemikirannya tentang sungkan. Ada orang yang merasa rugi kalau sungkan, sehingga tidak pernah menolak pemberian. Ada orang yang sungkan, tetapi sebenarnya didalam hati menginginkannya, sehingga ada sebuah singkatan dari sungkan, yaitu sungguh-sungguh mengharapkan. Dan ada juga orang yang memang suka sungkan, mungkin karena tidak ingin merepotkan orang lain, atau memiliki sifat pemalu.

Seiring berjalannya waktu, semakin kita jarang menemui orang yang suka sungkan, apalagi bila seseorang sedang dalam keadaan terdesak. Ada orang-orang yang terdesak karena rasa lapar ditambah dengan kondisi dompet yang kosong, sehingga selalu menerima bila ditraktir. Ada orang-orang yang terdesak karena butuh bantuan, sehingga takkan menolak bila seseorang menawarkan bantuannya.

Kita perlu merasa sungkan dan kita tidak perlu merasa sungkan.

Kita tidak perlu merasa sungkan, apabila sesuatu itu menjadi hak kita. Sebagai contoh, kita tidak perlu merasa sungkan meminta sejumlah uang yang seharusnya dikembalikan pada saat kita membeli sesuatu dan kita melakukan pembayaran dengan memberikan sejumlah uang lebih dari harga barang yang kita beli, karena sejumlah uang kembalian itu hak kita. Berbeda bila kita memang ingin memberikan sejumlah uang yang seharusnya dikembalikan pada kita itu sebagai tips.

Kita tidak perlu merasa sungkan, apabila kita melakukan sebuah pekerjaan. Sebagai contoh, ada orang-orang yang merasa malu atau merasa sungkan menawarkan barang kepada orang lain untuk dijual sebagai bentuk sebuah usaha. Saat kita memiliki sebuah usaha, maka harus ada orang lain yang membeli produk kita, dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan, itulah yang dinamakan sebuah bisnis. Berbeda bila kita bekerja di sebuah perusahaan bukan milik kita, maka kita bisa memilih untuk berada di posisi yang bukan sebagai penjual, agar kita tidak perlu sungkan menawarkan sebuah produk ke orang lain.

Kita tidak perlu merasa sungkan, apabila kita yakin seseorang memang ingin memberi. Ada orang-orang yang sengaja berkorban untuk meluangkan waktunya membuat sesuatu atau membeli sesuatu karena ingin memberi kita. Bila kita menolak karena sungkan, maka tentu saja penolakan itu akan menyakiti hatinya. Kita memang tidak pernah tahu niat didalam hati seseorang. Tetapi, yang paling penting adalah kita tidak meletakkan harapan pada pemberian seseorang.

Kita tidak perlu merasa sungkan pada Tuhan. Ada orang-orang yang sungkan meminta pada Tuhan karena setiap hari selalu saja ada keinginannya. Tuhan tidak pernah menghukum saat anak-anakNya meminta sesuatu padaNya. Tetapi, ijinkan Tuhan untuk menentukan jawaban yang terbaik atas permohonan kita.

Disisi lain, kita perlu merasa sungkan apabila kita terus menerus menerima dan selalu mengharapkan pemberian. Ada waktunya memberi dan ada waktunya menerima. Pemberian itu selalu menyenangkan, apalagi bila kita tahu seseorang itu lebih mampu daripada kita. Tetapi, tahukah kita bahwa ada kalanya kita juga harus memberi? Kita akan lebih dihargai apabila kita juga memberi, bukan sekedar menerima.

Mengharapkan pemberian kadangkala dialami oleh setiap orang yang membutuhkan. Tetapi, masalahnya, ada orang-orang yang tidak mau melakukan apa-apa, selain meminta, karena terlalu nyaman dengan pemberian orang lain. Realitanya, mungkin anak kita memiliki pekerjaan yang mapan, mungkin saudara-saudara kita memiliki harta yang berlimpah, mungkin kekayaan orang tua kita tidak terbatas, tetapi perjuangan untuk bisa melakukan sesuatu, paling tidak untuk memenuhi kebutuhan hidup kita sendiri itulah yang dikatakan sebagai sebuah sikap mandiri. Kita harus ingat bahwa setiap orang memiliki kebutuhannya masing-masing, dan kita akan menjadi beban bagi orang lain pada saat kita mulai bergantung pada pemberian orang lain. Menjadi dewasa salah satunya adalah pada saat kita peka pada kondisi seseorang dan tidak membuatnya semakin terbeban oleh kebutuhan kita.

Kita perlu merasa sungkan, apabila kita tidak melakukan kewajiban kita. Sebagai contoh, ada orang-orang yang bisa tidak peduli pada saat jatuh tempo pembayaran harus dilakukan. Bila kita berhutang, maka sudah seharusnya kita membayar sesuai yang dijanjikan. Seandainya kita tidak bisa membayar, maka sebaiknya kita memberitahu orang yang bersangkutan, bukan mendiamkannya. Contoh lain, tak jarang kita melihat orang-orang yang menerima upah setiap bulannya, tetapi bersikap santai saat Pimpinan tidak hadir. Seharusnya kita merasa malu atau merasa sungkan, bila kita tidak bertanggung jawab atas kewajiban kita.

Kita perlu merasa sungkan, apabila kita bersikap memanfaatkan. Sebagai contoh, oleh karena seseorang berbaik hati hendak membayari kita makan, kemudian kita memilih semua makanan dan minuman yang termahal di restaurant itu. Seharusnya kita bisa bersikap lebih baik, dengan memilih makanan yang benar-benar kita inginkan dan kita butuhkan. Contoh lain, seseorang sudah berbaik hati mau meluangkan waktunya untuk memberikan bantuan untuk kita, maka ada batasan dimana kita tidak terus menerus memanfaatkan kebaikan hatinya itu.

Rasa sungkan seringkali perlu agar orang lain dapat memiliki respek atas hidup kita. Kita tidak pernah tahu isi hati seseorang, kita sulit membaca pikiran seseorang, dan kita tidak selalu tahu kebutuhan seseorang. Tetapi, kita tentu tidak ingin orang lain mengatakan bahwa kita orang yang ‘tidak tahu diri’, bukan? Itu sebabnya, kita perlu menjaga diri dari rasa sungkan yang tentunya tidak perlu berlebihan.

Rasa sungkan yang berlebihan dapat membuat orang lain terluka, atau dapat membuat orang lain menjadi jengkel dengan kita. Selain itu, memang benar, ada kalanya kita akan menderita bila kita merasa sungkan yang berlebihan.

Kita perlu hikmat, agar kita dapat memiliki sikap yang lebih baik, dan tahu kapan kita harus merasa sungkan atau kapan kita tidak perlu merasa sungkan.

Tuhan memberkati!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s