Meraih Lebih Tanpa Menjadi Serakah


Saat hendak naik atau turun dengan menggunakan lift, seringkali kita melihat ada orang-orang yang sebenarnya tujuannya ingin turun, tetapi menekan tombol yang menuju ke arah naik, atau sebaliknya. Mungkin ada orang-orang yang memang salah menekan tombol, tetapi kebanyakan orang ternyata memang sengaja menekan kedua tombol naik dan tombol turun, seolah-olah takut lift tidak bekerja sesuai dengan perintah tombol yang sudah di tekan, atau takut tidak mendapatkan tempat di lift, sehingga semua tombol akhirnya di tekan.

Pada saat lift terbuka, ada orang-orang yang memilih untuk segera naik lift yang seharusnya masih menuju ke arah naik, padahal tujuan mereka sebenarnya turun, hanya karena takut tidak mendapatkan tempat didalam lift untuk menuju turun.

Di hotel-hotel, yang menyajikan hidangan untuk makan pagi, yang biasanya memberikan layanan yang dapat mengambil hidangan sepuasnya, kita bisa melihat orang-orang tertentu ada yang mengambil makanan begitu banyak, namun pada akhirnya tidak mampu menghabiskannya. Hal ini dilakukan biasanya karena mereka malas berdiri dan berjalan lagi untuk mengambil lagi bila ternyata mereka menyukainya, atau karena mereka takut pada saat mereka menikmati hidangan tersebut, lalu mereka kehabisan pada saat ingin mengambil kembali, atau mereka malas mengantri kembali. Tetapi, akibatnya mereka justru membuang makanan sia-sia.

Bagi orang-orang tertentu sikap-sikap tersebut yang penting tidak merugikan dirinya, dan dia bisa mendapatkan lebih, seandainya pada akhirnya sesuatu tidak terpakai, maka mereka bisa membuang begitu saja tanpa merasa bersalah, karena mereka tidak perlu membayar apa-apa untuk sesuatu itu.

Seringkali orang ingin meraih lebih, tetapi pada akhirnya mereka terlihat atau menjadi serakah. Orang-orang yang seperti ini akhirnya juga ingin selalu didahulukan, tidak peduli dengan kebutuhan orang lain, karena mereka hanya memikirkan tentang dirinya sendiri.

Setiap orang memiliki kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan bersifat terbatas dan keinginan bersifat tidak terbatas. Firman Tuhan berkata bahwa Allah akan memenuhi segala keperluan kita menurut kekayaan dan kemuliaanNya. Tuhan bukannya tidak peduli dengan keinginan kita, melainkan Dia berjanji bahwa kebutuhan kita akan menjadi prioritas utamaNya didalam memberkati kita.

Tuhan ingin kita bisa melihat berkatNya, kasih karuniaNya, anugerahNya, itu semua selalu cukup untuk memenuhi kebutuhan kita setiap hari. Saat kita hanya melihat keinginan kita, maka segala sesuatu itu tidak akan pernah terasa cukup. Rasa tidak cukup yang akan memicu kita pada akhirnya untuk bersikap serakah.

Rasa cukup bukan berarti menghentikan langkah kita untuk memiliki lebih, melainkan rasa cukup memampukan kita untuk memikirkan orang lain pada saat kita memiliki lebih. Serakah selalu membuat kita berlari untuk meraih lebih, tetapi juga memicu kita untuk mengabaikan kepentingan orang lain. Bersikap serakah bahkan bisa membuat kita merasa segala sesuatu adalah hak milik kita.

Rasa cukup bukan berarti tidak boleh memiliki banyak, melainkan rasa cukup membuat kita bisa meraih lebih tanpa menjadi serakah.

Rasa cukup membuat kita bisa menabung tanpa harus membeli barang-barang yang sebenarnya tidak perlu. Dengan menabung kita bisa memiliki sedikit demi sedikit dan akhirnya menjadi bukit. Kita bisa meraih lebih saat kita mau menabung.

Rasa cukup membuat kita bisa menikmati kehidupan tanpa perlu merasa iri dengan kepunyaan orang lain. Setiap kita memiliki kelebihan, tetapi kita tidak akan pernah bisa melihat kelebihan yang kita miliki saat kita selalu melihat kekurangan kita dibandingkan dengan kelebihan orang lain. Dengan kita mengetahui kelebihan kita dan mau mengembangkannya, maka kita tentu bisa meraih lebih.

Rasa cukup membuat kita mampu berbagi. Kita mungkin tidak perlu berbagi harta kita begitu saja, tetapi kita bisa memberikan pekerjaan bagi orang lain. Ada orang-orang yang bahkan tidak rela memberikan sebuah posisi bagi seseorang, agar tidak perlu memberikan fasilitas baginya. Padahal kita dapat meraih lebih melalui bisnis kita misalnya, saat ada orang-orang yang mau bekerja sama untuk membangun bisnis tersebut. Bekerja sama tidak harus dengan modal usaha.

Rasa cukup membuat kita mengerti bahwa tidak ada alasan bagi kita untuk mengeluh. Bersyukur membuat kita mampu mengetuk pintu surga untuk mencurahkan berkat bagi kita lebih lagi.

Rasa cukup membuat kita mengerti hak dan kewajiban kita. Serakah hanya membuat kita menuntut hak kita tanpa memberikan kita kemampuan untuk mengerjakan dengan sungguh-sungguh kewajiban kita. Padahal saat kita melakukan kewajiban kita dengan sungguh-sungguh, hak akan menyusul sebagai upah.

Kita bisa hidup lebih dari cukup tanpa menjadi serakah.

Saat kita perlu turun, maka cukup kita menekan tombol lift ke arah turun. Saat kita hanya mampu menghabiskan sepiring nasi, maka kita cukup mengambil sepiring nasi. Walau pun saat kita menekan kedua tombol lift ke arah naik dan turun, dan walau pun kita mengambil banyak makanan tanpa menghabiskannya, kita tidak akan dirugikan apa pun, tetapi paling tidak kita tidak menyita waktu seseorang yang hendak naik, dan tidak membuang makanan begitu saja.

Kita tidak perlu mengambil posisi parkir untuk dua mobil sekaligus, agar mobil lain juga bisa memarkirkan kendaraannya juga. Kita tidak perlu duduk berlama-lama di sebuah restaurant yang ramai, agar orang lain juga dapat segera duduk bergantian untuk menikmati hidangan di restaurant tersebut. Kita tidak perlu memilih sesuatu yang termahal saat seseorang ingin membelikannya untuk kita. Dan ada begitu banyak cara didalam hidup ini yang bisa mewakili cara hidup yang ingin meraih lebih tanpa menjadi serakah.

Tuhan memberkati!

One thought on “Meraih Lebih Tanpa Menjadi Serakah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s