Rahasia Agar Menerima


Banyak orang secara tidak sadar sering berpikir bahwa orang yang lebih mampu berkewajiban memberi orang yang kurang mampu, dan orang yang lebih mampu tidak seharusnya menerima pemberian orang yang kurang mampu (Ibrani 7:7 “Memang tidak dapat disangkal, bahwa yang lebih rendah diberkati oleh yang lebih tinggi“). Tetapi, yang menjadi masalah adalah seringkali perilaku ini membuat banyak orang yang kurang mampu mengharapkan pemberian orang yang lebih mampu.

Firman Tuhan didalam Amsal 11:24-25 berkata “Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan. Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum“. Sebuah rahasia yang diungkapkan oleh Firman Tuhan adalah bila kita ingin banyak menerima, maka kita harus banyak memberi.

Bagi orang yang lebih mampu mungkin memberi merupakan hal yang mudah, tetapi bagi orang yang kurang mampu, memberi merupakan hal yang paling sulit.

Menerima sebuah pemberian bukan berarti kita sedang berlaku tidak memahami kondisi orang lain, melainkan kita sedang mengijinkan seseorang untuk menabur benih kelimpahan

Pada suatu hari, seorang teman yang sedang mencari pekerjaan ingin memberkati saya dengan membayar makan siang saya. Posisi saya pada saat itu adalah sebagi pekerja, yang secara logika seharusnya keuangan saya lebih baik daripada seorang teman itu.

Selama ini saya tidak pernah mengijinkan seorang teman itu mengeluarkan uang untuk makan siangnya bersama saya. Walau pun ada kalanya dia membayar makan siangnya sendiri, namun saya tidak pernah mengijinkan dia untuk membayar makan siang saya.

Sampai pada saat itu, didalam hati kecil saya seolah-olah berbisik agar saya mengijinkan seorang teman itu memberkati saya, agar dia nantinya juga diberkati. Awalnya saya ragu, tetapi karena seorang teman itu berkata ingin memberkati saya, maka saya mengijinkannya untuk membayar makan siang saya. Dan benar saja, tak lama saya mendengar kabar baik kalau dia mendapatkan pekerjaan.

Saya tahu bahwa seorang teman itu memberi bukan dari kelebihannya, melainkan dari kekurangannya. Seorang teman itu tidak memberi banyak untuk saya, dan saya juga tidak melihat harga yang dia bayarkan, tetapi yang saya lihat adalah dia sedang menabur benih. Saya mengijinkan seorang teman itu memberi, agar dia juga diberi.

Seringkali kita sebagai seorang yang lebih mampu mungkin merasa tidak tega bila kita mengijinkan seseorang yang kurang mampu membayar makan siang kita. Atau seringkali kita melihat harga yang diberikan oleh seseorang dan merasa tidak perlu menerima pemberian apa pun dari seseorang itu, karena kita bisa membeli sendiri, bahkan yang lebih bagus.

Realitanya, bila kita mengerti bahwa orang lain juga perlu diberkati, maka alangkah baik bila kita tidak sekedar memberkati orang lain itu, tetapi juga mengijinkan orang lain yang mungkin kita pandang kurang mampu untuk memberi.

Ubahlah sudut pandang bahwa pemberian itu sebagai sebuah kewajiban dan menerima itu sebagai sebuah hak!

Ada cerita seorang yang dulunya hidup serba berkecukupan, namun pada suatu hari dia mengalami sebuah bencana yang membuat kehidupannya menjadi serba kekurangan. Ada begitu banyak orang yang selalu ingin memberikan bantuan karena dahulu mereka juga pernah menerima pemberian dari seseorang itu.

Tetapi, pemberian membuat dia akhirnya berpikir bahwa saat ini adalah waktunya dia menerima, sehingga dia tidak pernah lagi berusaha untuk memberi. Celakanya, saat tidak ada orang yang memberi, dia justru mengharapkan pemberian orang lain yang ada disekitarnya.

Kita juga tetap harus bijaksana didalam memberi, dalam arti tidak semua yang kita miliki harus diberikan kepada orang lain. Tetapi, kita juga tidak boleh memaksa orang lain untuk memenuhi permintaan kita hanya karena dahulu kita sudah sering memberi.

Selama kita hidup, selalu ada waktu untuk memberi dan selalu ada waktu untuk menerima. Tidak selama-lamanya kita memberi dan tidak selama-lamanya kita menerima. Walau pun dahulu menurut kita sudah terlalu sering memberi, bukan berarti saat ini kita harus sering menerima dan berhenti memberi.

Akhir kata, memberi dan menerima merupakan salah satu paket yang melengkapi kehidupan kita. Ada waktu kita harus memerhatikan kebutuhan kita terlebih dahulu, ada waktu kita memberi, dan waktu-waktu itu hanya kita yang tahu. Tidak semua orang yang lebih mampu harus selalu memberi, dan tidak semua orang yang kurang mampu harus selalu menerima.

Firman Tuhan tetap mengajarkan pada kita bahwa rahasia hidup berkelimpahan adalah memberi. Jadi, berilah kesempatan pada orang lain untuk memberi, dan berilah kesempatan pada diri sendiri untuk memberi!

Tuhan memberkati!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s