Valentine vs Jomblo


Biasanya, bulan Februari selalu identik dengan bulan yang bertemakan kasih sayang. Hal ini disebabkan karena pada tanggal 14 Februari diperingati sebagai hari Valentine atau hari kasih sayang.

Hari kasih sayang, bila dipikir secara logika, sebenarnya dapat diartikan sebagai hari kasih sayang bagi semua orang dan bagi semua generasi, misalnya saja hari kasih sayang untuk orang tua, hari kasih sayang untuk anak, hari kasih sayang untuk saudara, dan hari kasih sayang untuk semua orang yang ada di sekitar kita.

Tetapi, realitanya, moment hari Valentine seringkali dimanfaatkan untuk menyatakan cinta seorang pria kepada seorang wanita, atau menjadi sebuah moment dimana sepasang kekasih mengadakan acara makan malam special hanya untuk berdua saja. Tak heran, bila pada akhirnya pada hari Valentine, ada orang-orang yang masih ‘jomblo’ menjadi rendah diri atau minder, karena belum memiliki pasangan.

Seorang teman berkata bahwa hari kasih sayang sebenarnya bisa dilakukan kapan saja, oleh siapa saja, dan diperingati dimana saja. Hanya saja, hari Valentine menjadi lebih special karena diperingati oleh seluruh umat manusia di seluruh dunia. Itu berarti, seandainya kita tidak memiliki waktu untuk merayakan hari Valentine, maka sebenarnya masih ada hari lain yang bisa kita manfaatkan untuk menikmati makan malam special bersama orang-orang yang kita sayangi, dan kita juga bisa manfaatkan hari lain untuk menyatakan cinta kita pada seseorang yang kita sukai.

Hari Valentine bukanlah hari yang terindah untuk para pasangan dan bukanlah hari yang terburuk untuk orang-orang yang belum punya pasangan. Hari Valentine merupakan hari kasih sayang, yang mana kita bisa memanfaatkannya sebagai hari untuk mengekspresikan rasa sayang kita kepada orang-orang yang ada disekitar kita.

Teringat akan masa-masa dimana saya belum memiliki pasangan, saya seringkali merasa rendah diri dan sedikit merasa panik pada hari Valentine, karena hampir semua teman saya selalu mendapatkan kejutan, sebuah hadiah yang dikirim di tempat kerja oleh pasangannya. Sedangkan saya, tidak ada seorang pun yang memberikan hadiah untuk saya. Walau pun tidak ada yang mempertanyakan, namun melihat senyum gembira terukir di wajah teman-teman yang mendapatkan hadiah dari pasangannya, membuat hati saya merasa terusik dengan kesendirian.

Tak jarang saya mengharapkan sebuah keajaiban di hari Valentine, barangkali ada seorang pangeran yang tiba-tiba datang untuk menyatakan cintanya pada saya. Tetapi, lagi-lagi saya harus menghadapi kenyataan bahwa saya masih seorang diri. Hari Valentine bagi saya selalu menjadi hari-hari yang sama seperti biasanya, tidak ada yang special.

Sampai pada saat saya memiliki seorang kekasih dan menikah, hari Valentine tidak juga menjadi sebuah hari yang special bagi kami seperti bayangan saya pada tahun-tahun sebelumnya. Tetapi, memang ada begitu banyak hari yang lain, yang special bagi kami, seolah-olah menggantikan hari-hari Valentine yang sudah sering saya lalui begitu saja.

Dari kejadian yang saya alami, saya belajar:

Cinta atau kasih sayang itu bukanlah tentang saya atau diri kita sendiri

Masa-masa dimana ternyata hari Valentine tidak menjadi hari yang terlalu istimewa bagi saya dan suami saya, saya justru mengerti bahwa sebenarnya saya mampu memikirkan sebuah cara untuk menyatakan kasih sayang saya pada orang-orang disekitar saya. Kasih sayang bukanlah sekedar berbicara tentang saya dan kekasih saya, melainkan juga tentang saya dan orang-orang yang ada disekitar saya.

Saat saya masih hidup seorang diri tanpa pasangan, sebenarnya saya bukanlah satu-satunya orang yang belum memiliki pasangan. Lalu mengapa saya harus mengasihani diri saya sendiri? Banyak orang yang bisa bahagia dengan kesendiriannya. Banyak hal yang sebenarnya masih bisa saya lakukan. Sayang sekali saya tidak bisa bahagia dengan kesendirian saya dan tidak mau melakukan banyak hal yang mungkin lebih bermanfaat daripada menikmati rasa rendah diri.

Seorang yang masih sendiri, selalu akan berpikir ‘seandainya saya memiliki pasangan’, ‘siapa yang bersedia menjadi pasangan saya?”, ‘bagaimana nasib saya tanpa seorang pasangan hidup?’, lagi-lagi tentang diri sendiri. Padahal, seorang yang masih sendiri bukan berarti tidak memiliki kesempatan untuk menikmati waktu yang indah dan memikirkan orang lain.

Cinta atau kasih sayang itu mampu bersikap respek.

Menerima berkaitan dengan respek atau sikap menghargai. Ada begitu banyak orang merasa kecewa karena yang diterima tidak sesuai dengan yang diharapkannya. Akibatnya, rasa kecewa membuat kita sulit bersikap respek dengan pasangan kita, atau seseorang yang sudah memberi.

Seringkali kita, khususnya para wanita berpikir seorang pria itu baik dan mencintai kita apabila dia memberi kita sebuah hadiah. Kemudian, kita berharap bisa menerima hadiah yang mahal sebagai pertanda kita adalah seorang yang istimewa baginya. Namun, saat melihat wanita lain ada yang menerima hadiah yang kelihatannya lebih menarik, maka kita akhirnya merasa kecewa atas pemberian yang kita terima, karena yang kita pikirkan adalah diri kita sendiri, keinginan kita, dan harapan kita.

Rasa cinta atau kasih sayang itu seharusnya bisa membuat kita bersikap respek. Benar, kita harus mengkomunikasikan keinginan kita pada pasangan kita. Namun, alangkah baik bila kita juga memberikan kesempatan bagi pasangan kita mengekspresikan rasa sayangnya pada kita dengan caranya. Kita juga harus sadar bahwa setiap pasangan memiliki keunikannya masing-masing.

Selanjutnya, kita hidup bukan di negeri dongeng yang selalu harus datang seorang pangeran tampan dan kaya raya yang pada akhirnya menjadi kekasih kita. Bersikap respek membuat kita mampu terbuka untuk berteman dengan semua orang, yang barangkali adalah pasangan hidup kita. Menentukan standard, memiliki sebuah impian, dan memilih pasangan hidup itu sesuatu hal yang wajar, tetapi bila kita menjadi terlalu pemilih tentu bukanlah sebuah sikap yang ideal.

Cinta atau kasih sayang itu berlawanan dengan sakit hati atau kepahitan

Ada begitu banyak orang berpendapat bahwa orang yang tidak memiliki pasangan atau tidak menikah itu akan menjadi ‘aneh’. Memang benar, ada bedanya orang yang memiliki pasangan dan orang yang tidak memiliki pasangan. Tetapi, sakit hati atau kepahitan itu yang menyebabkan seseorang menjadi ‘aneh’. Seandainya kita memiliki pasangan, tetapi kita menyimpan sakit hati atau kepahitan, maka cepat atau lambat kita juga akan menjadi orang yang ‘aneh’.

Bagaimana pun juga, semua orang akan merasa kecewa saat merasa dirinya tidak diterima dan tidak dicintai. Kekecewaan bisa berakhir dengan kepahitan. Tidak memiliki pasangan bukan berarti kita bukan pribadi yang tidak istimewa. Ide yang muncul dan karya yang kita hasilkan tidak selalu bergantung saat kita memiliki pasangan atau tidak. Memiliki pasangan tidak menjamin kita akan selalu merasa diterima dan dicintai. Jadi, sebenarnya semua itu kembali kepada diri kita sendiri. Kita dapat merasa istimewa saat dari dalam diri kita sendiri mengerti bahwa kita itu istimewa.

Banyak orang dapat menikmati kesendiriannya tanpa merasa rendah diri, karena mampu memberikan penilaian yang baik terhadap dirinya, dan akhirnya mereka tidak merasa terlalu kecewa saat belum ada seseorang yang tepat untuk menjadi pasangannya.

Akhir kata, kita dapat membuat semua hari menjadi istimewa, tanpa menunggu hari Valentine. Dan belum memiliki pasangan bukanlah akhir dari segalanya. Jangan merasa rendah diri, karena kita tetap bisa menjadi pribadi yang istimewa!

Tuhan memberkati.

20140224-193500.jpg

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s