Kenapa “Ngotot”?


‘Ngotot’ dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai suatu sikap memaksa. Kita semua tahu bahwa sikap memaksakan kehendak bukanlah sikap yang baik. Namun, semua orang tentu pernah bersikap ‘ngotot’.

Sebenarnya, didalam perjalanan kehidupan ini ada hal-hal yang perlu kita perjuangkan, dan didalam memerjuangkan sesuatu itu kadangkala kita memang perlu ‘ngotot’, agar pada akhirnya perjuangan kita itu memberikan hasil seperti yang kita harapkan.

Sebagai contoh, pada saat kita membeli sesuatu dengan menggunakan debit card atau credit card, mungkin ada error pada mesin yang ada di toko, sehingga menyebabkan pembayaran yang kita lakukan menjadi double atau berulang, sehingga kita harus protes agar kita tidak perlu membayar yang tidak seharusnya kita bayarkan. Tetapi, pada saat kita protes, mungkin saja pihak toko berkata bahwa yang mereka lakukan sudah benar, sehingga kita harus ‘ngotot’ dengan cara memberikan bukti tagihan credit card misalnya, untuk membuat pihak toko mengerti bahwa memang benar ada kesalahan dan pada akhirnya mau mengembalikan kelebihan pembayaran yang seharusnya tidak perlu kita bayarkan.

Contoh yang lain, apabila perusahaan tempat kita bekerja mungkin memberikan potongan gaji yang terlalu besar, yang tidak masuk di akal, maka kita bisa meminta bukti perincian, agar seandainya kita benar melihat ada kesalahan perhitungan, kita bisa ‘ngotot’ untuk meminta gaji yang seharusnya kita terima.

Realitanya, didalam kehidupan ini, ada begitu banyak orang yang justru diam pada saat seharusnya dia ‘ngotot’ hanya karena tidak ingin menimbulkan keributan, tetapi sebaliknya ada begitu banyak orang yang justru menjadi sangat ‘ngotot’ pada saat seharusnya mereka diam dan menerima.

Ada seorang teman yang ‘ngotot’ memberitahukan kesalahan saya, pada saat saya sudah mengakui kesalahan saya dan bahkan saya sudah meminta maaf padanya. Sikap teman saya yang ‘ngotot’ membuat saya bingung, apalagi yang harus saya lakukan selain minta maaf? Saya tidak bisa mengembalikan waktu, yang saya bisa lakukan hanyalah memberikan penjelasan dan minta maaf.

Seringkali pada saat kita merasa sangat kecewa dan marah dengan seseorang, kita tidak merasa cukup sekedar menerima penjelasan dan permintaan maaf seseorang, sehingga masalah menjadi semakin rumit dan berkepanjangan. Padahal, seandainya kita mau menerima penjelasan dan permintaan maaf seseorang, maka persoalan selesai.

Seseorang yang berani dan mau datang kepada kita untuk memberikan penjelasan serta meminta maaf pada kita saat dia melakukan kesalahan, sebenarnya adalah seseorang yang sudah berusaha bersikap rendah hati dan dewasa. Seharusnya, kita bisa bersikap menghargai sikap seseorang tersebut, bukan semakin menyudutkan dan seolah-olah kita memang ingin menginjak-injak harga dirinya dengan bersikap ‘ngotot’ memberitahukan kesalahannya terus menerus.

Ada seorang teman yang lain, yang sebenarnya berbuat salah, tetapi karena dia tidak menyadari kesalahannya, atau dia tidak mau mengakui kesalahannya, akhirnya dia ‘ngotot’ mengatakan orang lain yang sudah berbuat salah. Parahnya lagi, saat orang lain dapat membuktikan kesalahannya, dia tetap ‘ngotot’, berharap orang lain tidak lagi berfokus pada kesalahannya, dan tetap ‘ngotot’ tidak mau minta maaf.

Bersikap gengsi dengan cara ‘ngotot’ tidak membuat kita menjadi benar dan dipandang baik oleh orang lain. Kita akan kehilangan respek dan kita akan kehilangan waktu-waktu bersama orang-orang yang kita sayangi hanya karena kita ‘ngotot’ demi menjaga gengsi.

Firman Tuhan didalam Lukas 18:1-8 menceritakan tentang seorang hakim yang lalim. Diceritakan bahwa ada seorang janda yang memohon agar hakim yang lalim itu membela haknya. Dan janda itu ‘ngotot’ sehingga hakim yang lalim itu akhirnya menolong, agar tidak merasa terganggu lagi. Cerita tersebut seringkali disimpulkan bahwa kita harus ‘ngotot’ saat berdoa kepada Tuhan, agar permohonan kita dikabulkan.

Padahal sebenarnya, janda itu bersikap ‘ngotot’ karena dia tahu bahwa dia memang memiliki hak untuk mendapatkan pembelaan. Sedangkan didalam doa kita, kadangkala kita bahkan tidak dapat membedakan antara keinginan dan kebutuhan, tetapi kita ‘ngotot’ seolah-olah kita yang paling tahu yang terbaik untuk kita.

Seorang Hamba Tuhan berkata didalam kotbahnya bahwa didalam doa seharusnya kita menyelaraskan antara kehendak kita dan kehendak Tuhan, sehingga pada akhirnya kita mendapatkan jawaban yang terbaik untuk kita, bukan ‘ngotot’ memaksakan kehendak kita kepada Tuhan. Pada akhirnya, saat kita ‘ngotot’, kita justru tidak mendapatkan yang kita inginkan dan akhirnya kita menjadi kecewa. Karena pada saat kita ‘ngotot’, kita bersikap tidak mau tahu kehendak Tuhan, kita hanya bersikap memaksakan kehendak kita pada Tuhan. Padahal, Tuhan-lah Sang Empunya hidup kita, Dia jauh lebih tahu yang terbaik untuk kita.

‘Ngotot’ itu kadangkala baik, apalagi bila kita tahu dan yakin kalau kita benar. Tetapi, sayangnya, seringkali kita ‘ngotot’ dalam hal yang salah dan di waktu yang salah. Kalau kita sudah tahu salah, lalu kenapa kita tetap ‘ngotot’?

‘Ngotot’ adalah salah satu kebiasaan yang sulit dihilangkan oleh semua orang. Semua orang pasti pernah bersikap ‘ngotot’. Bahkan ada orang yang tidak sadar bila dia sudah bersikap ‘ngotot’. Tetapi, kita akan menjadi lebih baik lagi bila kita tahu kapan kita sebaiknya ‘ngotot’. ‘Ngotot’ bukan demi menjaga gengsi, ‘ngotot’ bukan untuk menunjukkan kesombongan kita, melainkan ‘ngotot’ untuk melakukan yang baik dan benar.

Tuhan memberkati!

20140417-150547.jpg

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s