Bantuan Tak Membuatnya Lebih Baik


Saya adalah seseorang yang gemar membantu orang lain. Dulu, saya pernah berpikir, asalkan saya dapat menyenangkan hati orang lain saja, saya tidak peduli dengan hati saya. Tetapi, kenyataannya, ada sisi sifat dasar manusia saya yang membuat saya sulit menyenangkan hati orang lain. Bahkan saya tidak selalu bisa menyenangkan hati orang tua saya sendiri.

Berjalannya waktu, saya mengerti bahwa tidak semua orang bisa saya senangkan. Justru, semakin keras saya berusaha untuk menyenangkan hati orang lain, semakin saya sering merasa kecewa, karena tidak semua orang dapat memahami niat baik saya, dan tidak semua orang cocok dengan cara saya memberikan bantuan. Bahkan ada banyak orang yang merasa saya terlalu baik, kemudian memanfaatkan saya. Dan celakanya, ada niat baik saya yang justru menjadi hal buruk bagi orang lain, sehingga membuat saya justru merasa bersalah.

Akhirnya, saya menyerah, dan saya tidak memaksakan diri lagi untuk memberikan bantuan seperti yang dulu saya lakukan, selalu mengerahkan seluruh tenaga, pikiran, perhatian, waktu, dan uang saya hanya untuk menyenangkan hati orang lain. Saya tidak bersikap jahat, tetapi saya bersikap lebih bijaksana didalam perbuatan baik.

Saya tentu tidak sendiri. Ada orang-orang yang mungkin pernah atau sedang melakukan hal-hal yang serupa dengan yang saya lakukan tersebut diatas. Saya tidak menyarankan Anda untuk berhenti melakukan perbuatan baik, tetapi saya pikir kita semua perlu diingatkan kembali bahwa tidak semua hal baik ternyata memberikan dampak yang baik untuk orang lain.

Ada kalanya, Tuhan tidak mengijinkan kita untuk melaksanakan niat baik terhadap seseorang. Itu berarti, ada kalanya Tuhan ijinkan seseorang menanggung sebuah masalah, untuk kebaikan seseorang, untuk mendewasakan seseorang, untuk membuat seseorang memiliki pengalaman bersama Dia, untuk membuat seseorang belajar sesuatu, dan untuk menyatakan mujizatNya bagi seseorang tersebut, sehingga Tuhan tidak ingin kita membantu atau ‘segera’ membantu seseorang.

Ada seseorang yang berusaha mengeluarkan kupu-kupu dari sebuah kepompong, karena melihat kupu-kupu itu sudah bersusah payah untuk keluar. Kemudian, saat seseorang itu berhasil menolong kupu-kupu itu keluar, justru kupu-kupu itu menjadi cacat, tidak bisa terbang, karena sayapnya belum tumbuh dengan sempurna. Ternyata, bantuan atau niat baik yang diberikan seseorang itu terhadap kupu-kupu, tidak membuat kupu-kupu itu hidup lebih baik.

Seringkali kalau saya mendengar atau melihat kesibukan suami saya di kantor, ingin rasanya saya membantu, karena saya sangat mengerti situasi dan kondisi, beragam tekanan, yang dialami oleh suami saya. Tetapi, saya tahu saya tidak bisa membantunya. Bantuan saya tidak akan membuatnya mampu bekerja dengan lebih baik. Bantuan saya tidak akan membuatnya belajar banyak hal. Bantuan saya tidak akan membuatnya bisa mencapai sebuah peningkatan.

Saya dan suami sangat ingin bisa membantu secara materi orang-orang terdekat yang kami tahu kondisi mereka tidak selalu baik-baik. Tetapi, Tuhan tidak selalu mengijinkan kami untuk memiliki kelebihan sehingga bisa membantu orang lain. Kami sadar bahwa bantuan kami tidak selalu dapat membuat hidup orang lain lebih baik. Ada orang-orang yang saat mendapatkan bantuan, justru jadi malas bekerja, justru jadi tidak memiliki pengharapan kepada Tuhan lagi, justru jadi orang yang tidak bisa bertanggung jawab, justru jadi orang yang mudah menyerah, dan justru jadi orang yang suka menganggap remeh segala sesuatu.

Firman Tuhan didalam Amsal 3:27-28 berkata “Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya. Janganlah engkau berkata kepada sesamamu: “Pergilah dan kembalilah, besok akan kuberi“, sedangkan yang diminta ada padamu”. Itu sebabnya, kita memang harus hidup saling memberikan bantuan, dan memiliki hati yang berbelas kasih terhadap orang lain.

Tetapi, kita juga harus mengerti bahwa proses menghasilkan sesuatu yang lebih baik untuk kehidupan dan pribadi seseorang. Tidak baik bila kita memotong proses yang harus dialami oleh seseorang dengan selalu memberikan bantuan, karena proses yang kita hentikan tidak selalu akan membuat hidup seseorang itu menjadi lebih baik. Kemungkinan, seseorang akan mengalami ‘cacat’ saat kita berusaha membantunya keluar dari proses yang seharusnya dialaminya.

‘Cacat’ yang dialami bukan berarti cacat secara tubuh jasmani, melainkan ‘cacat’ yang dialami bisa berupa pembentukan karakter yang tidak sempurna, proses pembelajaran yang tidak sempurna, pengenalan akan Tuhan yang tidak sempurna, atau pengalaman hidup bersama Tuhan yang tidak sempurna.

Didalam hidup ini, ada hal-hal yang memang harus diselesaikan oleh masing-masing orang itu sendiri. Ada proses yang harus dilewati oleh masing-masing orang itu sendiri. Jangan heran, bila ada kalanya kita dibuat tidak berdaya oleh Tuhan, sehingga tidak bisa memberikan bantuan kepada orang lain! Dan kita tidak perlu marah kepada Tuhan, karena kita tahu bahwa tidak semua bantuan ternyata bisa membuat hidup seseorang menjadi lebih baik.

Sebaliknya, kita mungkin pernah marah karena seseorang tidak mau membantu kita saat kita mengalami kesulitan. Tetapi, berjalannya waktu, saat kita sudah selesai melewati semua proses kehidupan, kita tentu akan menyadari bahwa ada kalanya Tuhan perlu menghentikan langkah seseorang yang ingin membantu kita, demi kebaikan kita. Saat kita selesai melewati proses kehidupan, kita akan tahu bahwa tidak semua bantuan dapat membuat hidup kita menjadi lebih baik.

Tuhan itu Maha Tahu. Seandainya, didalam proses kehidupan ini kita memang perlu mendapatkan bantuan, apakah Tuhan tidak bisa mendatangkan bantuan dari berbagai sisi untuk kita?

Tuhan memberkati!

20140423-143006.jpg

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s