Read Carefully


Aurrel adalah seorang anak yang pandai dikelasnya. Selama ini, sikapnya yang ramah dan kebaikan hatinya selalu membuat kagum teman-teman dan para guru disekolahnya. Tak hanya itu, Aurrel juga selalu berhasil mendapatkan nilai diatas rata-rata untuk semua mata pelajaran. Tetapi, pada suatu hari, ada sebuah kejadian yang sangat mengejutkan, Aurrel tiba-tiba mendapatkan nilai nol untuk hasil test harian salah satu mata pelajaran di sekolahnya.

Setibanya di rumah, orang tua Aurrel segera memeriksa hasil test tersebut, membaca dengan teliti soal dan jawaban yang diberikan. Orang tua Aurrel yang tidak menemukan adanya kesalahan pada jawaban yang diberikan oleh Aurrel pada lembar soal tersebut, keesokan harinya mendatangi seorang guru yang memberikan hasil test tersebut, untuk menanyakan, mengapa Aurrel bisa mendapatkan nilai nol?

Dengan hati-hati seorang guru ini menjelaskan kepada orang tua Aurrel bahwa perintah yang diberikan untuk menjawab semua soal tersebut adalah ‘Lingkarilah…’, sedangkan Aurrel memberikan ‘tanda silang’ untuk semua jawaban yang menurut Aurrel benar. Setelah mengerti bahwa memang benar dalam hal itu Aurrel sudah melakukan kesalahan yang fatal, orang tua Aurrel sempat memohon agar Aurrel diberikan kesempatan untuk memperbaiki hasil test-nya itu. Namun, seorang guru ini kembali memberikan penjelasan bahwa tujuan diberikan test tersebut bukan hanya sekedar ingin membuat para siswa memahami materi pelajaran di sekolah, melainkan juga mengajarkan kepada para siswa untuk membaca pertanyaan dengan teliti dan mengikuti aturan atau perintah yang diberikan.

Ada begitu banyak orang yang ‘memandang rendah’ kesempatan untuk belajar di sekolah, karena berpikir bahwa sekolah hanya mengajarkan materi pelajaran yang seringkali tidak dibutuhkan di dunia kerja. Padahal, kenyataannya, ada begitu banyak hal yang sebenarnya dapat dipelajari di sekolah, lebih daripada sekedar memahami materi mata pelajaran yang diberikan.

Di masa yang semakin modern ini, bahkan di saat teknologi menjadi semakin canggih, orang cenderung lebih suka menuliskan pertanyaan dan jawaban, daripada mengatakannya secara lisan. Dengan cara menuliskan, kita mungkin tidak perlu merasa terganggu, mau pun mengganggu aktifitas lawan bicara kita. Kapan saja kita bisa berbicara dan kapan saja kita bisa mendapatkan tanggapan.

Tetapi, seringkali aktifitas menuliskan pertanyaan dan jawaban ini juga menimbulkan banyak konflik akibat kesalahpahaman. Kesalahpahaman terjadi biasanya dikarenakan ada orang-orang yang ternyata kurang teliti saat membaca atau saat menuliskan jawaban, sehingga ada kata-kata yang terlewatkan, atau bahkan salah dituliskan.

Penyebab lainnya, kesalahpahaman terjadi karena ada waktu-waktu dimana kita tidak tahu emosi lawan bicara kita, apakah mereka sedang dalam kondisi hati yang baik, yang sedang santai, yang sedang sibuk, atau yang sedang marah? Karena sebaik-baiknya kita menjaga perkataan kita, walau pun kita katakan secara lisan, kalau lawan bicara kita sedang dalam keadaan emosi yang tidak stabil, maka perkataan kita akan diterima dengan tidak baik.

Memang benar, meski pun kesalahpahaman dapat terjadi baik secara lisan mau pun tulisan, ada begitu banyak saran yang mengatakan alangkah baik kalau kita bisa bicara secara langsung kepada lawan bicara kita. Namun, kenyataannya, didalam kehidupan ini, kita banyak belajar melalui membaca buku, dan secara kerohanian kita mengisi kehidupan kita dengan membaca Firman Tuhan.

Membaca adalah salah satu kegiatan yang tidak bisa dihilangkan dari kehidupan kita. Satu-satunya cara adalah kita belajar untuk membaca dengan lebih berhati-hati. Tahukah kita, bahwa seringkali kita menemui, ada satu kalimat yang bisa memiliki beragam arti? Sama seperti setiap orang bisa memiliki sudut pandang yang berbeda-beda, demikian pula didalam hal membaca sebuah tulisan setiap orang juga bisa memiliki pemahaman yang berbeda-beda.

Bila kita tidak ingin salah paham dengan perkataan seseorang yang dituliskan, maka kita perlu membaca semua secara lengkap yang dituliskan dengan hati-hati dan bila perlu menanyakan bila ada yang kurang jelas. Ada begitu banyak orang ingin semuanya cepat selesai dan cepat memberikan tanggapan sehingga hanya asal membaca.

Selain itu, sama seperti halnya kita lebih baik bicara saat emosi kita sudah stabil, maka pesan tertulis alangkah baik bila kita baca atau kita tulis dalam keadaan emosi kita juga sedang dalam keadaan baik. Ada begitu banyak orang yang tidak bisa membedakan dengan siapa dia sedang mengalami konflik dan seolah-olah ingin mengajak semua orang untuk terlibat didalam konfliknya.

Dan bila kita tidak ingin orang lain salah paham dengan perkataan kita, maka kita tidak perlu memberikan singkatan yang menyebabkan orang bisa salah mengartikan singkatan tersebut. Singkatan didalam tulisan seringkali membuat kita lebih cepat selesai menuliskan sesuatu dan lebih hemat tempat, mengingat keterbatasan didalam sebuah tulisan. Tetapi, bila pada akhirnya hal itu akan menyesatkan, maka kita harus belajar untuk menuliskan secara lengkap.

Ada begitu banyak orang yang tidak bisa mengungkapkan segala sesuatu yang dia pikirkan, atau segala sesuatu nilai-nilai kehidupan yang dia dapatkan, sehingga mereka mengambil jalan keluar dengan cara menuliskan. Dan terbukti, ada begitu banyak tulisan yang ternyata bisa memberikan ide dan pengetahuan, serta hikmat bagi orang lain yang membacanya.

Hidup kita tidak bisa lepas dari yang namanya membaca. Kalau kita tidak belajar berhati-hati didalam membaca, maka bukan kepandaian, bukan pengetahuan, dan bukan hikmat yang akan kita peroleh.

Tuhan memberkati!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s