Kain Pel


Sebenarnya, saya sangat suka menggunakan kain pel biasa untuk membersihkan lantai, karena sudut-sudut ruangan akan jadi lebih mudah di jangkau. Tetapi, pada saat saya sudah menikah, suami saya memberikan saran kepada saya untuk menggunakan alat pel agar saya tidak menjadi terlalu lelah mengerjakan pekerjaan rumah.

Pada suatu hari, alat pel yang saya miliki itu pengaitnya patah. Kondisi alat pel yang saya miliki itu sebenarnya masih bagus dan kami belum sempat mencari yang baru, maka untuk sementara saya menggunakan tali untuk menyambungkan antara kain pel dengan tongkatnya sehingga alat pel tersebut akhirnya dapat digunakan kembali.

Beberapa hari kemudian, suami saya membelikan saya alat pel dengan model yang baru, yang menurut saya jauh lebih bagus dan akan jauh lebih meringankan pekerjaan saya di rumah, daripada alat pel yang saya miliki sebelumnya. Saya sangat senang karena ternyata suami saya benar-benar mencintai saya dan selalu memikirkan untuk memberikan yang terbaik untuk saya.

Tetapi, mungkin karena terlalu senang dan menurut saya alat pel itu memang bagus, tiba-tiba saya merasa sayang kalau harus mengganti alat pel saya dengan yang baru, sehingga dalam beberapa hari, saya masih saja menggunakan alat pel yang lama.

Butuh waktu selama beberapa hari bagi saya berpikir dan akhirnya memutuskan untuk menggunakan alat pel yang baru dan membuang alat pel yang lama. Padahal… Setelah saya menggunakan alat pel yang baru, pekerjaan saya benar-benar menjadi lebih ringan dan waktu saya untuk bekerja pun menjadi lebih singkat.

Sebagaimana seperti pada cerita tersebut di atas, seringkali didalam hidup ini, kita meminta-minta berkat Tuhan, tetapi kita masih memertahankan sikap atau cara pandang yang lama.

Sebagai contoh, saat kita memulai sebuah usaha, awalnya mungkin kita akan memiliki lebih banyak waktu luang karena mungkin tidak banyak pelanggan yang datang. Kemudian kita berdoa agar Tuhan mengirimkan pelanggan agar usaha kita mengalami kemajuan. Pada saat Tuhan mengirimkan pelanggan, tentu saja waktu yang kita miliki untuk bersantai akan menjadi berkurang. Tetapi, ada juga diantara kita yang dengan atau tanpa sadar seolah-olah lebih memilih untuk tetap bersantai, daripada meningkatkan kapasitas diri untuk melayani pelanggan yang sudah Tuhan kirimkan.

Contoh yang lain, didalam kehidupan ini, kita ketahui ada orang-orang yang terbiasa hidup bergantung dengan orang lain, terbiasa di traktir, terbiasa menumpang, terbiasa dibayari. Tetapi, ternyata orang-orang ini juga ingin diberkati Tuhan, dengan harapan di kemudian hari mereka dapat menjadi lebih mandiri. Setelah berdoa, tak lama kemudian Tuhan memberikan mereka pekerjaan, sehingga akhirnya mereka memiliki penghasilan sendiri dan bahkan ada diantara mereka yang dapat menabung. Seharusnya, mereka sudah bisa hidup mandiri, tetapi karena mereka masih memertahankan sikap hidup yang lama, maka mereka akhirnya bersikap seolah-olah lebih suka menggantungkan hidup mereka kepada orang lain.

Tak heran bila akhirnya di kemudian hari doa mereka mungkin akan sulit mendapat jawaban. Bukan karena Tuhan jahat atau karena Tuhan tidak mau mendengar, melainkan Tuhan ingin kita memiliki sikap yang bertanggung jawab dan sikap yang siap dengan jawaban dari apa yang kita minta.

Tak heran bila akhirnya orang-orang di sekitar mereka tak lagi menaruh simpati atas kesusahan mereka di kemudian hari, karena orang-orang di sekitar mereka juga lama-lama akan menjadi lelah memberikan bantuannya kepada mereka yang tidak mau berubah, sedangkan orang-orang di sekitar mereka juga memiliki kebutuhan dan kesusahan yang mungkin mereka tidak tahu, atau bahkan mungkin ada diantara mereka yang tahu kalau orang-orang di sekitar mereka juga susah, tetapi mereka bersikap seolah-olah tidak mau tahu.

Kalau kita menginginkan sesuatu yang baru terjadi, maka kita harus siap dengan segala perubahannya. Tidak ada sesuatu yang lebih baik itu akan membuat kita menjadi tetap sama seperti sebelumnya.

Sebagai contoh, kalau kita ingin memiliki anak, maka kita harus siap untuk menjadi lebih sibuk di rumah, kita harus siap dengan pengeluaran yang lebih banyak, dan juga harus dapat penyesuaian diri dengan hadirnya seorang anggota keluarga yang baru.

Kalau kita ingin menikah, maka kita harus siap untuk lebih mandiri, kita harus siap untuk menghadapi hal-hal yang mungkin selama ini orang tua kita yang memghadapinya, kita harus siap untuk menjadi jembatan diantara keluarga besar dan keluarga kecil kita, kita harus siap berbagi dengan pasangan hidup kita, dan kita harus siap untuk mengalami berbagai perubahan sebagai bentuk penyesuaian diri.

Kalau kita ingin karir dan pekerjaan kita mengalami peningkatan, maka kita harus siap dengan kesibukan, kita harus siap dengan waktu kerja yang lebih panjang, kita harus siap untuk menjadi lebih capek, dan bahkan kita harus siap dengan pemotongan pajak penghasilan yang lebih besar.

Dan masih ada begitu banyak contoh yang lainnya, karena beragam orang memiliki beragam kebutuhan dan keinginan. Tetapi yang pasti, sesuatu yang baru dan yang lebih baik tidak akan terjadi tanpa adanya perubahan.

Sesuatu yang baru dan sesuatu yang lebih baik diberikan Tuhan untuk kita, agar kita menjadi lebih dewasa dan lebih mandiri. Tuhan suka anak-anakNya diberkati. Tuhan tidak suka membuat malu anak-anakNya. Tuhan ingin anak-anakNya menjadi berkat. Jadi, milikilah sikap yang dewasa, berusahalah untuk memiliki disiplin dan tanggung jawab, paling tidak atas diri kita sendiri terlebih dahulu!

Tuhan memberkati!

20150202-170449.jpg

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s