Belajar Untuk Tidak Menghakimi


Pada tanggal 9 September 2014 dini hari, mendadak kami, kakak saya dan saya khususnya, dikejutkan oleh sebuah kabar bahwa papi mengalami pendarahan di otak, dan sudah mengalami koma. Sekitar pk 11.05 di hari yang sama, papi saya meninggal dunia, tepat pada saat saya dan suami saya sedang berada didalam pesawat hendak menuju ke kota Malang.

Berita ini sungguh sangat mengejutkan bagi keluarga kami dan bagi semua orang, karena papi masih sehat, bahkan masih bisa setir mobil sendiri hampir setiap minggu sekali dari kota Malang ke kota Surabaya. Tetapi, siapa yang sangka kalau Tuhan memanggilnya dengan begitu cepat.

Di tengah kesedihan yang sangat mendalam, saya dan suami saya bahkan belum sempat mengetahui cerita secara detail tentang papi, tetapi sudah ada puluhan pesan di handphone dan di facebook yang menanyakan tentang papi.

Kami melihat, betapa besar perhatian orang-orang di sekitar kami, khususnya terhadap papi. Di antara teman-teman kami, ada yang dengan tulus menawarkan bantuan, tetapi ada juga begitu banyak orang yang hanya sekedar ingin tahu, sehingga kemudian mereka dapat menginformasikannya kepada teman-teman yang lain.

Di tengah-tengah ketegangan, kebingungan, dan kesedihan yang kami alami, ada orang-orang yang sungguh-sungguh memberikan dukungan dan penghiburan bagi kami sekeluarga, tetapi ada juga orang-orang yang justru bertanya-tanya “Ada apa dengan keluarga ini? Sepertinya belum lama istrinya meninggal dunia karena sakit kanker, sekarang suaminya meninggal dunia secara tiba-tiba?“. Dan tak heran bila kemudian akhirnya bermunculan jawaban demi jawaban, mulai dari jawaban yang terdengar biasa saja, hingga jawaban yang terkesan menghakimi, seolah-olah keluarga kami melakukan dosa yang begitu besar sehingga seolah-olah selalu tertimpa musibah.

Mungkin kejadian yang kami alami ini juga pernah dialami oleh sebagian besar Para Pembaca. Bencana, masalah, atau hal buruk yang sedang dialami oleh seseorang atau sebuah keluarga, dianggap sebagai sebuah hukuman akibat dosa yang sudah dilakukan.

Ada seseorang didalam keluarga yang mengalami sakit, dikatakan bahwa ternyata dia belum sungguh-sungguh bertobat dan mengikut Tuhan, itu sebabnya Tuhan mengijinkan seseorang itu mengalami sakit. Ada seseorang yang memiliki masalah dalam pekerjaannya, dikatakan bahwa karena selama ini dia sudah mendahulukan pekerjaannya dibandingkan dengan pelayanan, sehingga Tuhan mengijinkan dia mengalami masalah dalam pekerjaannya. Dan masih banyak lagi cerita yang lain.

Bukankah selama kita hidup di muka bumi ini kita pasti akan selalu mengalami masalah?

Seorang Hamba Tuhan bercerita, ada seorang anak muda yang datang kepadanya, ingin didoakan agar selama hidupnya ia tidak mengalami masalah lagi, karena sudah terlalu banyak masalah yang ia alami. Seorang Hamba Tuhan itu menjawab kepada anak muda itu “Baiklah, saya akan mendoakan kamu, tetapi pastikan dirimu benar-benar siap akan jawaban atas permintaanmu itu“. Anak muda itu pun menjawab “Iya, tentu saja saya benar-benar ingin terbebas dari masalah“. Seorang Hamba Tuhan itu menjawab anak muda itu lagi “Karena hanya orang yang sudah meninggal dunia yang tidak memiliki masalah lagi“.

Ya… Selama kita masih hidup, kita selalu akan mengalami masalah dan realitanya kita semua memang manusia yang penuh dengan dosa.

Pengkotbah 3:11 mengatakan “… Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir“. Tidak pernah ada orang yang dapat mengetahui dengan pasti mengapa Tuhan mengijinkan sesuatu terjadi. Kadangkala setelah berjalan beberapa waktu lamanya kita baru mengerti mengapa sesuatu itu terjadi. Kadangkala kita sama sekali tidak dapat mengerti mengapa sesuatu itu terjadi.

Tetapi, yang kita ketahui dengan pasti adalah Tuhan mengajarkan agar kita tidak menghakimi (Matius 7:1 “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi“). Kita tidak perlu menduga-duga akibat dari sesuatu yang sedang dialami oleh orang lain. Dan seandainya kita tidak tahu apa yang harus kita katakan untuk menghibur atau memberikan kekuatan, maka percayalah bahwa dengan kita bersikap baik dan diam, seseorang sudah akan merasa terhibur. Daripada kita terlalu banyak bertanya, apalagi bila hanya sekedar untuk ingin tahu, atau daripada bila kita terlalu banyak bicara.

Tuhan memberkati!

20150221-183321.jpg

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s