Kain Pel

Sebenarnya, saya sangat suka menggunakan kain pel biasa untuk membersihkan lantai, karena sudut-sudut ruangan akan jadi lebih mudah di jangkau. Tetapi, pada saat saya sudah menikah, suami saya memberikan saran kepada saya untuk menggunakan alat pel agar saya tidak menjadi terlalu lelah mengerjakan pekerjaan rumah.

Pada suatu hari, alat pel yang saya miliki itu pengaitnya patah. Kondisi alat pel yang saya miliki itu sebenarnya masih bagus dan kami belum sempat mencari yang baru, maka untuk sementara saya menggunakan tali untuk menyambungkan antara kain pel dengan tongkatnya sehingga alat pel tersebut akhirnya dapat digunakan kembali.

Beberapa hari kemudian, suami saya membelikan saya alat pel dengan model yang baru, yang menurut saya jauh lebih bagus dan akan jauh lebih meringankan pekerjaan saya di rumah, daripada alat pel yang saya miliki sebelumnya. Saya sangat senang karena ternyata suami saya benar-benar mencintai saya dan selalu memikirkan untuk memberikan yang terbaik untuk saya.

Tetapi, mungkin karena terlalu senang dan menurut saya alat pel itu memang bagus, tiba-tiba saya merasa sayang kalau harus mengganti alat pel saya dengan yang baru, sehingga dalam beberapa hari, saya masih saja menggunakan alat pel yang lama.

Butuh waktu selama beberapa hari bagi saya berpikir dan akhirnya memutuskan untuk menggunakan alat pel yang baru dan membuang alat pel yang lama. Padahal… Setelah saya menggunakan alat pel yang baru, pekerjaan saya benar-benar menjadi lebih ringan dan waktu saya untuk bekerja pun menjadi lebih singkat.

Sebagaimana seperti pada cerita tersebut di atas, seringkali didalam hidup ini, kita meminta-minta berkat Tuhan, tetapi kita masih memertahankan sikap atau cara pandang yang lama.

Sebagai contoh, saat kita memulai sebuah usaha, awalnya mungkin kita akan memiliki lebih banyak waktu luang karena mungkin tidak banyak pelanggan yang datang. Kemudian kita berdoa agar Tuhan mengirimkan pelanggan agar usaha kita mengalami kemajuan. Pada saat Tuhan mengirimkan pelanggan, tentu saja waktu yang kita miliki untuk bersantai akan menjadi berkurang. Tetapi, ada juga diantara kita yang dengan atau tanpa sadar seolah-olah lebih memilih untuk tetap bersantai, daripada meningkatkan kapasitas diri untuk melayani pelanggan yang sudah Tuhan kirimkan.

Contoh yang lain, didalam kehidupan ini, kita ketahui ada orang-orang yang terbiasa hidup bergantung dengan orang lain, terbiasa di traktir, terbiasa menumpang, terbiasa dibayari. Tetapi, ternyata orang-orang ini juga ingin diberkati Tuhan, dengan harapan di kemudian hari mereka dapat menjadi lebih mandiri. Setelah berdoa, tak lama kemudian Tuhan memberikan mereka pekerjaan, sehingga akhirnya mereka memiliki penghasilan sendiri dan bahkan ada diantara mereka yang dapat menabung. Seharusnya, mereka sudah bisa hidup mandiri, tetapi karena mereka masih memertahankan sikap hidup yang lama, maka mereka akhirnya bersikap seolah-olah lebih suka menggantungkan hidup mereka kepada orang lain.

Tak heran bila akhirnya di kemudian hari doa mereka mungkin akan sulit mendapat jawaban. Bukan karena Tuhan jahat atau karena Tuhan tidak mau mendengar, melainkan Tuhan ingin kita memiliki sikap yang bertanggung jawab dan sikap yang siap dengan jawaban dari apa yang kita minta.

Tak heran bila akhirnya orang-orang di sekitar mereka tak lagi menaruh simpati atas kesusahan mereka di kemudian hari, karena orang-orang di sekitar mereka juga lama-lama akan menjadi lelah memberikan bantuannya kepada mereka yang tidak mau berubah, sedangkan orang-orang di sekitar mereka juga memiliki kebutuhan dan kesusahan yang mungkin mereka tidak tahu, atau bahkan mungkin ada diantara mereka yang tahu kalau orang-orang di sekitar mereka juga susah, tetapi mereka bersikap seolah-olah tidak mau tahu.

Kalau kita menginginkan sesuatu yang baru terjadi, maka kita harus siap dengan segala perubahannya. Tidak ada sesuatu yang lebih baik itu akan membuat kita menjadi tetap sama seperti sebelumnya.

Sebagai contoh, kalau kita ingin memiliki anak, maka kita harus siap untuk menjadi lebih sibuk di rumah, kita harus siap dengan pengeluaran yang lebih banyak, dan juga harus dapat penyesuaian diri dengan hadirnya seorang anggota keluarga yang baru.

Kalau kita ingin menikah, maka kita harus siap untuk lebih mandiri, kita harus siap untuk menghadapi hal-hal yang mungkin selama ini orang tua kita yang memghadapinya, kita harus siap untuk menjadi jembatan diantara keluarga besar dan keluarga kecil kita, kita harus siap berbagi dengan pasangan hidup kita, dan kita harus siap untuk mengalami berbagai perubahan sebagai bentuk penyesuaian diri.

Kalau kita ingin karir dan pekerjaan kita mengalami peningkatan, maka kita harus siap dengan kesibukan, kita harus siap dengan waktu kerja yang lebih panjang, kita harus siap untuk menjadi lebih capek, dan bahkan kita harus siap dengan pemotongan pajak penghasilan yang lebih besar.

Dan masih ada begitu banyak contoh yang lainnya, karena beragam orang memiliki beragam kebutuhan dan keinginan. Tetapi yang pasti, sesuatu yang baru dan yang lebih baik tidak akan terjadi tanpa adanya perubahan.

Sesuatu yang baru dan sesuatu yang lebih baik diberikan Tuhan untuk kita, agar kita menjadi lebih dewasa dan lebih mandiri. Tuhan suka anak-anakNya diberkati. Tuhan tidak suka membuat malu anak-anakNya. Tuhan ingin anak-anakNya menjadi berkat. Jadi, milikilah sikap yang dewasa, berusahalah untuk memiliki disiplin dan tanggung jawab, paling tidak atas diri kita sendiri terlebih dahulu!

Tuhan memberkati!

20150202-170449.jpg

Read Carefully

Aurrel adalah seorang anak yang pandai dikelasnya. Selama ini, sikapnya yang ramah dan kebaikan hatinya selalu membuat kagum teman-teman dan para guru disekolahnya. Tak hanya itu, Aurrel juga selalu berhasil mendapatkan nilai diatas rata-rata untuk semua mata pelajaran. Tetapi, pada suatu hari, ada sebuah kejadian yang sangat mengejutkan, Aurrel tiba-tiba mendapatkan nilai nol untuk hasil test harian salah satu mata pelajaran di sekolahnya.

Setibanya di rumah, orang tua Aurrel segera memeriksa hasil test tersebut, membaca dengan teliti soal dan jawaban yang diberikan. Orang tua Aurrel yang tidak menemukan adanya kesalahan pada jawaban yang diberikan oleh Aurrel pada lembar soal tersebut, keesokan harinya mendatangi seorang guru yang memberikan hasil test tersebut, untuk menanyakan, mengapa Aurrel bisa mendapatkan nilai nol?

Dengan hati-hati seorang guru ini menjelaskan kepada orang tua Aurrel bahwa perintah yang diberikan untuk menjawab semua soal tersebut adalah ‘Lingkarilah…’, sedangkan Aurrel memberikan ‘tanda silang’ untuk semua jawaban yang menurut Aurrel benar. Setelah mengerti bahwa memang benar dalam hal itu Aurrel sudah melakukan kesalahan yang fatal, orang tua Aurrel sempat memohon agar Aurrel diberikan kesempatan untuk memperbaiki hasil test-nya itu. Namun, seorang guru ini kembali memberikan penjelasan bahwa tujuan diberikan test tersebut bukan hanya sekedar ingin membuat para siswa memahami materi pelajaran di sekolah, melainkan juga mengajarkan kepada para siswa untuk membaca pertanyaan dengan teliti dan mengikuti aturan atau perintah yang diberikan.

Ada begitu banyak orang yang ‘memandang rendah’ kesempatan untuk belajar di sekolah, karena berpikir bahwa sekolah hanya mengajarkan materi pelajaran yang seringkali tidak dibutuhkan di dunia kerja. Padahal, kenyataannya, ada begitu banyak hal yang sebenarnya dapat dipelajari di sekolah, lebih daripada sekedar memahami materi mata pelajaran yang diberikan.

Di masa yang semakin modern ini, bahkan di saat teknologi menjadi semakin canggih, orang cenderung lebih suka menuliskan pertanyaan dan jawaban, daripada mengatakannya secara lisan. Dengan cara menuliskan, kita mungkin tidak perlu merasa terganggu, mau pun mengganggu aktifitas lawan bicara kita. Kapan saja kita bisa berbicara dan kapan saja kita bisa mendapatkan tanggapan.

Tetapi, seringkali aktifitas menuliskan pertanyaan dan jawaban ini juga menimbulkan banyak konflik akibat kesalahpahaman. Kesalahpahaman terjadi biasanya dikarenakan ada orang-orang yang ternyata kurang teliti saat membaca atau saat menuliskan jawaban, sehingga ada kata-kata yang terlewatkan, atau bahkan salah dituliskan.

Penyebab lainnya, kesalahpahaman terjadi karena ada waktu-waktu dimana kita tidak tahu emosi lawan bicara kita, apakah mereka sedang dalam kondisi hati yang baik, yang sedang santai, yang sedang sibuk, atau yang sedang marah? Karena sebaik-baiknya kita menjaga perkataan kita, walau pun kita katakan secara lisan, kalau lawan bicara kita sedang dalam keadaan emosi yang tidak stabil, maka perkataan kita akan diterima dengan tidak baik.

Memang benar, meski pun kesalahpahaman dapat terjadi baik secara lisan mau pun tulisan, ada begitu banyak saran yang mengatakan alangkah baik kalau kita bisa bicara secara langsung kepada lawan bicara kita. Namun, kenyataannya, didalam kehidupan ini, kita banyak belajar melalui membaca buku, dan secara kerohanian kita mengisi kehidupan kita dengan membaca Firman Tuhan.

Membaca adalah salah satu kegiatan yang tidak bisa dihilangkan dari kehidupan kita. Satu-satunya cara adalah kita belajar untuk membaca dengan lebih berhati-hati. Tahukah kita, bahwa seringkali kita menemui, ada satu kalimat yang bisa memiliki beragam arti? Sama seperti setiap orang bisa memiliki sudut pandang yang berbeda-beda, demikian pula didalam hal membaca sebuah tulisan setiap orang juga bisa memiliki pemahaman yang berbeda-beda.

Bila kita tidak ingin salah paham dengan perkataan seseorang yang dituliskan, maka kita perlu membaca semua secara lengkap yang dituliskan dengan hati-hati dan bila perlu menanyakan bila ada yang kurang jelas. Ada begitu banyak orang ingin semuanya cepat selesai dan cepat memberikan tanggapan sehingga hanya asal membaca.

Selain itu, sama seperti halnya kita lebih baik bicara saat emosi kita sudah stabil, maka pesan tertulis alangkah baik bila kita baca atau kita tulis dalam keadaan emosi kita juga sedang dalam keadaan baik. Ada begitu banyak orang yang tidak bisa membedakan dengan siapa dia sedang mengalami konflik dan seolah-olah ingin mengajak semua orang untuk terlibat didalam konfliknya.

Dan bila kita tidak ingin orang lain salah paham dengan perkataan kita, maka kita tidak perlu memberikan singkatan yang menyebabkan orang bisa salah mengartikan singkatan tersebut. Singkatan didalam tulisan seringkali membuat kita lebih cepat selesai menuliskan sesuatu dan lebih hemat tempat, mengingat keterbatasan didalam sebuah tulisan. Tetapi, bila pada akhirnya hal itu akan menyesatkan, maka kita harus belajar untuk menuliskan secara lengkap.

Ada begitu banyak orang yang tidak bisa mengungkapkan segala sesuatu yang dia pikirkan, atau segala sesuatu nilai-nilai kehidupan yang dia dapatkan, sehingga mereka mengambil jalan keluar dengan cara menuliskan. Dan terbukti, ada begitu banyak tulisan yang ternyata bisa memberikan ide dan pengetahuan, serta hikmat bagi orang lain yang membacanya.

Hidup kita tidak bisa lepas dari yang namanya membaca. Kalau kita tidak belajar berhati-hati didalam membaca, maka bukan kepandaian, bukan pengetahuan, dan bukan hikmat yang akan kita peroleh.

Tuhan memberkati!

Bantuan Tak Membuatnya Lebih Baik

Saya adalah seseorang yang gemar membantu orang lain. Dulu, saya pernah berpikir, asalkan saya dapat menyenangkan hati orang lain saja, saya tidak peduli dengan hati saya. Tetapi, kenyataannya, ada sisi sifat dasar manusia saya yang membuat saya sulit menyenangkan hati orang lain. Bahkan saya tidak selalu bisa menyenangkan hati orang tua saya sendiri.

Berjalannya waktu, saya mengerti bahwa tidak semua orang bisa saya senangkan. Justru, semakin keras saya berusaha untuk menyenangkan hati orang lain, semakin saya sering merasa kecewa, karena tidak semua orang dapat memahami niat baik saya, dan tidak semua orang cocok dengan cara saya memberikan bantuan. Bahkan ada banyak orang yang merasa saya terlalu baik, kemudian memanfaatkan saya. Dan celakanya, ada niat baik saya yang justru menjadi hal buruk bagi orang lain, sehingga membuat saya justru merasa bersalah.

Akhirnya, saya menyerah, dan saya tidak memaksakan diri lagi untuk memberikan bantuan seperti yang dulu saya lakukan, selalu mengerahkan seluruh tenaga, pikiran, perhatian, waktu, dan uang saya hanya untuk menyenangkan hati orang lain. Saya tidak bersikap jahat, tetapi saya bersikap lebih bijaksana didalam perbuatan baik.

Saya tentu tidak sendiri. Ada orang-orang yang mungkin pernah atau sedang melakukan hal-hal yang serupa dengan yang saya lakukan tersebut diatas. Saya tidak menyarankan Anda untuk berhenti melakukan perbuatan baik, tetapi saya pikir kita semua perlu diingatkan kembali bahwa tidak semua hal baik ternyata memberikan dampak yang baik untuk orang lain.

Ada kalanya, Tuhan tidak mengijinkan kita untuk melaksanakan niat baik terhadap seseorang. Itu berarti, ada kalanya Tuhan ijinkan seseorang menanggung sebuah masalah, untuk kebaikan seseorang, untuk mendewasakan seseorang, untuk membuat seseorang memiliki pengalaman bersama Dia, untuk membuat seseorang belajar sesuatu, dan untuk menyatakan mujizatNya bagi seseorang tersebut, sehingga Tuhan tidak ingin kita membantu atau ‘segera’ membantu seseorang.

Ada seseorang yang berusaha mengeluarkan kupu-kupu dari sebuah kepompong, karena melihat kupu-kupu itu sudah bersusah payah untuk keluar. Kemudian, saat seseorang itu berhasil menolong kupu-kupu itu keluar, justru kupu-kupu itu menjadi cacat, tidak bisa terbang, karena sayapnya belum tumbuh dengan sempurna. Ternyata, bantuan atau niat baik yang diberikan seseorang itu terhadap kupu-kupu, tidak membuat kupu-kupu itu hidup lebih baik.

Seringkali kalau saya mendengar atau melihat kesibukan suami saya di kantor, ingin rasanya saya membantu, karena saya sangat mengerti situasi dan kondisi, beragam tekanan, yang dialami oleh suami saya. Tetapi, saya tahu saya tidak bisa membantunya. Bantuan saya tidak akan membuatnya mampu bekerja dengan lebih baik. Bantuan saya tidak akan membuatnya belajar banyak hal. Bantuan saya tidak akan membuatnya bisa mencapai sebuah peningkatan.

Saya dan suami sangat ingin bisa membantu secara materi orang-orang terdekat yang kami tahu kondisi mereka tidak selalu baik-baik. Tetapi, Tuhan tidak selalu mengijinkan kami untuk memiliki kelebihan sehingga bisa membantu orang lain. Kami sadar bahwa bantuan kami tidak selalu dapat membuat hidup orang lain lebih baik. Ada orang-orang yang saat mendapatkan bantuan, justru jadi malas bekerja, justru jadi tidak memiliki pengharapan kepada Tuhan lagi, justru jadi orang yang tidak bisa bertanggung jawab, justru jadi orang yang mudah menyerah, dan justru jadi orang yang suka menganggap remeh segala sesuatu.

Firman Tuhan didalam Amsal 3:27-28 berkata “Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya. Janganlah engkau berkata kepada sesamamu: “Pergilah dan kembalilah, besok akan kuberi“, sedangkan yang diminta ada padamu”. Itu sebabnya, kita memang harus hidup saling memberikan bantuan, dan memiliki hati yang berbelas kasih terhadap orang lain.

Tetapi, kita juga harus mengerti bahwa proses menghasilkan sesuatu yang lebih baik untuk kehidupan dan pribadi seseorang. Tidak baik bila kita memotong proses yang harus dialami oleh seseorang dengan selalu memberikan bantuan, karena proses yang kita hentikan tidak selalu akan membuat hidup seseorang itu menjadi lebih baik. Kemungkinan, seseorang akan mengalami ‘cacat’ saat kita berusaha membantunya keluar dari proses yang seharusnya dialaminya.

‘Cacat’ yang dialami bukan berarti cacat secara tubuh jasmani, melainkan ‘cacat’ yang dialami bisa berupa pembentukan karakter yang tidak sempurna, proses pembelajaran yang tidak sempurna, pengenalan akan Tuhan yang tidak sempurna, atau pengalaman hidup bersama Tuhan yang tidak sempurna.

Didalam hidup ini, ada hal-hal yang memang harus diselesaikan oleh masing-masing orang itu sendiri. Ada proses yang harus dilewati oleh masing-masing orang itu sendiri. Jangan heran, bila ada kalanya kita dibuat tidak berdaya oleh Tuhan, sehingga tidak bisa memberikan bantuan kepada orang lain! Dan kita tidak perlu marah kepada Tuhan, karena kita tahu bahwa tidak semua bantuan ternyata bisa membuat hidup seseorang menjadi lebih baik.

Sebaliknya, kita mungkin pernah marah karena seseorang tidak mau membantu kita saat kita mengalami kesulitan. Tetapi, berjalannya waktu, saat kita sudah selesai melewati semua proses kehidupan, kita tentu akan menyadari bahwa ada kalanya Tuhan perlu menghentikan langkah seseorang yang ingin membantu kita, demi kebaikan kita. Saat kita selesai melewati proses kehidupan, kita akan tahu bahwa tidak semua bantuan dapat membuat hidup kita menjadi lebih baik.

Tuhan itu Maha Tahu. Seandainya, didalam proses kehidupan ini kita memang perlu mendapatkan bantuan, apakah Tuhan tidak bisa mendatangkan bantuan dari berbagai sisi untuk kita?

Tuhan memberkati!

20140423-143006.jpg

Kenapa “Ngotot”?

‘Ngotot’ dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai suatu sikap memaksa. Kita semua tahu bahwa sikap memaksakan kehendak bukanlah sikap yang baik. Namun, semua orang tentu pernah bersikap ‘ngotot’.

Sebenarnya, didalam perjalanan kehidupan ini ada hal-hal yang perlu kita perjuangkan, dan didalam memerjuangkan sesuatu itu kadangkala kita memang perlu ‘ngotot’, agar pada akhirnya perjuangan kita itu memberikan hasil seperti yang kita harapkan.

Sebagai contoh, pada saat kita membeli sesuatu dengan menggunakan debit card atau credit card, mungkin ada error pada mesin yang ada di toko, sehingga menyebabkan pembayaran yang kita lakukan menjadi double atau berulang, sehingga kita harus protes agar kita tidak perlu membayar yang tidak seharusnya kita bayarkan. Tetapi, pada saat kita protes, mungkin saja pihak toko berkata bahwa yang mereka lakukan sudah benar, sehingga kita harus ‘ngotot’ dengan cara memberikan bukti tagihan credit card misalnya, untuk membuat pihak toko mengerti bahwa memang benar ada kesalahan dan pada akhirnya mau mengembalikan kelebihan pembayaran yang seharusnya tidak perlu kita bayarkan.

Contoh yang lain, apabila perusahaan tempat kita bekerja mungkin memberikan potongan gaji yang terlalu besar, yang tidak masuk di akal, maka kita bisa meminta bukti perincian, agar seandainya kita benar melihat ada kesalahan perhitungan, kita bisa ‘ngotot’ untuk meminta gaji yang seharusnya kita terima.

Realitanya, didalam kehidupan ini, ada begitu banyak orang yang justru diam pada saat seharusnya dia ‘ngotot’ hanya karena tidak ingin menimbulkan keributan, tetapi sebaliknya ada begitu banyak orang yang justru menjadi sangat ‘ngotot’ pada saat seharusnya mereka diam dan menerima.

Ada seorang teman yang ‘ngotot’ memberitahukan kesalahan saya, pada saat saya sudah mengakui kesalahan saya dan bahkan saya sudah meminta maaf padanya. Sikap teman saya yang ‘ngotot’ membuat saya bingung, apalagi yang harus saya lakukan selain minta maaf? Saya tidak bisa mengembalikan waktu, yang saya bisa lakukan hanyalah memberikan penjelasan dan minta maaf.

Seringkali pada saat kita merasa sangat kecewa dan marah dengan seseorang, kita tidak merasa cukup sekedar menerima penjelasan dan permintaan maaf seseorang, sehingga masalah menjadi semakin rumit dan berkepanjangan. Padahal, seandainya kita mau menerima penjelasan dan permintaan maaf seseorang, maka persoalan selesai.

Seseorang yang berani dan mau datang kepada kita untuk memberikan penjelasan serta meminta maaf pada kita saat dia melakukan kesalahan, sebenarnya adalah seseorang yang sudah berusaha bersikap rendah hati dan dewasa. Seharusnya, kita bisa bersikap menghargai sikap seseorang tersebut, bukan semakin menyudutkan dan seolah-olah kita memang ingin menginjak-injak harga dirinya dengan bersikap ‘ngotot’ memberitahukan kesalahannya terus menerus.

Ada seorang teman yang lain, yang sebenarnya berbuat salah, tetapi karena dia tidak menyadari kesalahannya, atau dia tidak mau mengakui kesalahannya, akhirnya dia ‘ngotot’ mengatakan orang lain yang sudah berbuat salah. Parahnya lagi, saat orang lain dapat membuktikan kesalahannya, dia tetap ‘ngotot’, berharap orang lain tidak lagi berfokus pada kesalahannya, dan tetap ‘ngotot’ tidak mau minta maaf.

Bersikap gengsi dengan cara ‘ngotot’ tidak membuat kita menjadi benar dan dipandang baik oleh orang lain. Kita akan kehilangan respek dan kita akan kehilangan waktu-waktu bersama orang-orang yang kita sayangi hanya karena kita ‘ngotot’ demi menjaga gengsi.

Firman Tuhan didalam Lukas 18:1-8 menceritakan tentang seorang hakim yang lalim. Diceritakan bahwa ada seorang janda yang memohon agar hakim yang lalim itu membela haknya. Dan janda itu ‘ngotot’ sehingga hakim yang lalim itu akhirnya menolong, agar tidak merasa terganggu lagi. Cerita tersebut seringkali disimpulkan bahwa kita harus ‘ngotot’ saat berdoa kepada Tuhan, agar permohonan kita dikabulkan.

Padahal sebenarnya, janda itu bersikap ‘ngotot’ karena dia tahu bahwa dia memang memiliki hak untuk mendapatkan pembelaan. Sedangkan didalam doa kita, kadangkala kita bahkan tidak dapat membedakan antara keinginan dan kebutuhan, tetapi kita ‘ngotot’ seolah-olah kita yang paling tahu yang terbaik untuk kita.

Seorang Hamba Tuhan berkata didalam kotbahnya bahwa didalam doa seharusnya kita menyelaraskan antara kehendak kita dan kehendak Tuhan, sehingga pada akhirnya kita mendapatkan jawaban yang terbaik untuk kita, bukan ‘ngotot’ memaksakan kehendak kita kepada Tuhan. Pada akhirnya, saat kita ‘ngotot’, kita justru tidak mendapatkan yang kita inginkan dan akhirnya kita menjadi kecewa. Karena pada saat kita ‘ngotot’, kita bersikap tidak mau tahu kehendak Tuhan, kita hanya bersikap memaksakan kehendak kita pada Tuhan. Padahal, Tuhan-lah Sang Empunya hidup kita, Dia jauh lebih tahu yang terbaik untuk kita.

‘Ngotot’ itu kadangkala baik, apalagi bila kita tahu dan yakin kalau kita benar. Tetapi, sayangnya, seringkali kita ‘ngotot’ dalam hal yang salah dan di waktu yang salah. Kalau kita sudah tahu salah, lalu kenapa kita tetap ‘ngotot’?

‘Ngotot’ adalah salah satu kebiasaan yang sulit dihilangkan oleh semua orang. Semua orang pasti pernah bersikap ‘ngotot’. Bahkan ada orang yang tidak sadar bila dia sudah bersikap ‘ngotot’. Tetapi, kita akan menjadi lebih baik lagi bila kita tahu kapan kita sebaiknya ‘ngotot’. ‘Ngotot’ bukan demi menjaga gengsi, ‘ngotot’ bukan untuk menunjukkan kesombongan kita, melainkan ‘ngotot’ untuk melakukan yang baik dan benar.

Tuhan memberkati!

20140417-150547.jpg

Selalu Ada Kelebihan Dan Selalu Ada Kelemahan

Ada seorang teman lama yang pada suatu hari datang dari luar negeri ke Indonesia untuk berlibur. Pada saat liburan berakhir dan dia hendak kembali, teman-teman yang ada di Indonesia ingin membawakan sesuatu untuknya. Tetapi, karena bingung dan ingin membawakan sesuatu yang lebih disukai oleh seorang teman itu, maka kami menanyakan langsung. Diluar dugaan, seorang teman itu menjawab pertanyaan kami dengan jawaban “disana sudah ada semua, tidak perlu kalian membawakan sesuatu untukku“.

Jawaban tersebut mungkin dapat diterima oleh sebagian orang yang dapat mengerti kalau seorang teman itu mungkin merasa tidak enak hati kalau sampai harus merepotkan teman-temannya. Tetapi, jawaban tersebut juga mungkin tidak dapat diterima oleh sebagian orang yang berpikir bahwa mereka teman dekat, jadi tidak ada alasan untuk merasa tidak enak hati.

Realitanya, di setiap negara, selalu ada makanan atau barang yang tidak tersedia. Di negara Indonesia sendiri, masing-masing daerah dan masing-masing kota selalu memiliki ciri khas tersendiri. Sekali pun di kota-kota besar atau di Ibukota, tidak semua makanan dan tidak semua barang yang ada di kota lain itu juga tersedia atau mudah di cari.

Buktinya, saat teman-teman yang ada diluar negeri datang ke Indonesia, mereka masih mencari-cari dan berusaha menikmati sepuas-puasnya menu makanan yang hanya dapat ditemukan di Indonesia dan tidak ada di negara tempat mereka tinggal. Sekali pun menu makanan Indonesia diluar negeri mungkin banyak tersedia, namun rasanya tentu tidak senikmat yang ada di Indonesia, karena ada bahan-bahan masakan yang mungkin tidak tersedia di negara tersebut.

Ada juga menu makanan yang hanya ada di Pulau Bali, dan di Surabaya atau di Jakarta tidak dapat ditemukan. Pulau Bali yang sangat dikenal keindahan alamnya dan sering dikunjungi oleh para wisatawan dari berbagai negara, juga tidak selalu menyediakan barang-barang yang mungkin ada banyak tersedia di kota Surabaya atau di kota Jakarta.

Selama hidup ini, kita mungkin pernah menemui orang-orang yang sangat bertalenta di bidangnya, kemudian kita mengagumi mereka seolah-olah mereka bisa melakukan segalanya, pandai dalam segala hal, dan memiliki segala sesuatu. Kita akan menjadi sangat terkejut saat akhirnya kita mengetahui orang-orang yang kita kagumi itu ternyata bisa melakukan sebuah kesalahan, bisa menyakiti orang lain, bisa berbuat tidak sopan, dan bisa melakukan hal-hal yang buruk lainnya.

Saat kita memiliki seorang teman yang selalu mengagumi kita dan selalu minta nasehat pada kita, maka seorang teman itu mungkin saja bisa membuat kita akhirnya merasa memiliki banyak kelebihan. Sehingga pada saat seorang teman itu akhirnya meraih sebuah keberhasilan dan atau memberi kita sebuah masukan, kita merasa sulit untuk memberikan pujian untuk seorang teman itu dan merasa sulit menerima masukan dari seorang teman itu, karena selama ini kita pikir kita yang terbaik.

Tidak ada daerah atau kota atau negara yang sempurna. Tidak semua hal yang kita cari ada di sebuah daerah atau kota atau negara. Demikian pula didalam diri kita dan orang lain akan selalu ditemukan kelebihan dan kekurangan, kekuatan dan kelemahan.

Firman Tuhan didalam Amsal 1:20-21 berkata “Hikmat berseru nyaring di jalan-jalan, di lapangan-lapangan ia memperdengarkan suaranya, di atas tembok-tembok ia berseru-seru, di depan pintu-pintu gerbang kota ia mengucapkan kata-katanya”, yang berarti kita bisa belajar dimana saja dan dengan siapa saja. Sekali pun mungkin ada orang-orang yang selama ini selalu minta nasehat pada kita, bukan berarti tidak ada hal yang bisa kita pelajari dari orang-orang tersebut. Kita bisa menegur, kita bisa juga mendapatkan teguran. Bahkan, ada orang-orang yang bisa memberikan kita ide walau pun mereka sebenarnya tidak pandai dalam bidang yang kita tekuni.

Kita cantik, kita tampan, kita dikagumi oleh orang lain, tetapi bukan berarti segala-galanya sudah kita miliki. Betapa mudah kita menjadi sombong hanya karena sebagian kecil yang sudah kita miliki.

Bersikap rendah hati bukan berarti kita harus lebih sering mengingat kelemahan dan kekurangan kita sehingga membuat kita akhirnya rendah diri, melainkan bersikap tidak membuat orang lain akhirnya selalu mengingat dan memerhatikan kelemahan dan kekurangannya sehingga membuatnya rendah diri di hadapan kita.

Tuhan memberkati!

20140407-182134.jpg

Nothing Can Stop Jesus

Pada suatu hari, di sebuah tempat ibadah, saya datang dalam keadaan hati yang sedang benar-benar mengharapkan sebuah mujizat. Masalah datang silih berganti, saya dan suami harus bergumul setiap bulan untuk membayar sewa tempat tinggal, berbulan-bulan lamanya kami harus bergumul mengenai pekerjaan yang kami harapkan adanya sebuah peningkatan, dan kami juga harus bergumul didalam berbagai masalah lainnya juga. Kami sering menerima janji yang hanya sekedar janji. Saya berkata kepada Tuhan hari itu saat bangun dari tidur, “Tuhan, saya ingin mendapatkan sebuah pesan dariMu mengenai keadaan saya dan suami saat ini“.

Dari awal sejak ibadah berlangsung, saya hanya merasakan segala sesuatu berjalan seperti biasa. Saya berusaha memejamkan mata, barangkali Tuhan akan memberikan saya sebuah penglihatan, namun saya tidak mendapatkan apa-apa. Saya pikir, mungkin isi kotbah akan berbicara sesuatu secara khusus untuk kami.

Sampai pada saat sebuah pujian penyembahan sebelum kotbah dinyanyikan, tiba-tiba saya tidak mendengar suara musik selain drum. Singers dan worship leader juga tidak terdengar suaranya. Saya pikir listrik sedang padam, tetapi ketika saya membuka mata, lampu masih menyala. Berkali-kali saya berusaha mendengarkan, ternyata memang benar, seluruh peralatan musik sedang padam.

Walau pun demikian, saya tidak merasakan ada sebuah kebingungan didalam jemaat. Pemain musik, singers, dan worship leader tetap memuji Tuhan. Suara jemaat pun terdengar sungguh merdu menyanyikan secara bersama-sama pujian penyembahan. Tidak ada doa dan tidak ada bahasa roh yang berusaha untuk mengusir roh jahat. Saya hanya mendengarkan semua orang tetap menyanyi dengan sikap yang biasa dan sangat santai.

Tiba-tiba di telinga saya terdengar sebuah bisikan “nothing can stop Jesus“. Berkali-kali sebuah kalimat itu dibisikkan di telinga saya, sehingga membuat saya tak dapat lagi menahan air mata saya.

Ya… Selama ini, ada orang-orang yang berusaha merendahkan kami, ada orang-orang yang berusaha menyingkirkan kami, dan ada orang-orang yang berusaha menghalangi berkat kami, tetapi Tuhan berkata dengan jelas kepada saya bahwa tidak ada sesuatu atau seseorang yang dapat menghalangi Tuhan bekerja. Jika Tuhan mau meninggikan kami, maka kami akan ditinggikan. Jika Tuhan mau kami ada di sebuah tempat, maka kami akan berada di sebuah tempat itu. Jika Tuhan mau memberkati kami, maka kami akan diberkati.

Kalau saya menoleh kembali pada hari-hari kehidupan saya sebelumnya, memang ada begitu banyak ketegangan, ketakutan, dan kekuatiran, tetapi saya tidak pernah melihat Tuhan membiarkan kehidupan kami. Selalu ada saja pertolonganNya bagi kami. Demikian pula di masa depan, Tuhan juga akan selalu memberikan pertolonganNya bagi kami.

Saat ini, saya tahu ada begitu banyak orang yang mungkin sedang bergumul tentang banyak hal untuk kehidupannya. Tetapi, saya yakin, Tuhan juga akan berkata sama kepada kita semua, “Nothing can stop Jesus“. Kalau Tuhan ingin memberkati kita, maka kita akan diberkati. Ada usaha yang harus kita lakukan, tetapi Tuhan akan selalu menyertai kita, dan Tuhan yang akan memberkati.

Tetapkan fokus kita kepada Tuhan! Jangan menyerah! Kita pasti akan menemukan jalan keluar.

Tuhan memberkati!

20140318-173523.jpg

Ada Kebaikan Dalam Kesalahan

Tidak ada hal yang baik didalam sebuah perbuatan yang salah. Justru pada saat kita melakukan kesalahan, maka seharusnya ada akibat yang harus kita tanggung. Biasanya, akibat dari sebuah kesalahan, kita harus menerima sebuah hukuman. Sebagai contoh, bila kita tidak mengerjakan tugas di sekolah, maka sebagai hukumannya, mungkin kita tidak mendapatkan nilai, atau kita harus mengerjakannya diluar kelas. Dan contoh lainnya, bila kita sering terlambat datang ke kantor, maka mungkin kita bisa mendapatkan surat peringatan.

Tetapi, didalam realita kehidupan ini, kadangkala kita menjumpai waktu-waktu dimana kita sedang membutuhkan sebuah jawaban doa, dan pada saat kita pikir kita sedang melakukan kesalahan, ternyata jawaban doa ada didalam kesalahan yang sedang terjadi.

Sebuah kesaksian dari seorang Ibu yang mengalami masalah dengan kandungannya, yang menyebabkan ia harus menggugurkan kandungannya. Pada hari H saat seorang Ibu seharusnya masuk ke ruang operasi untuk menggugurkan kandungannya, seorang suster justru membawa seorang Ibu ke ruang USG.

Oleh karena seorang Ibu sudah berada di ruang USG, maka akhirnya suster memeriksa kembali kondisi kandungan seorang Ibu. Dan dari hasil pemeriksaan USG tersebut, penyakit yang tadinya membuat seorang Ibu seharusnya menggugurkan kandungannya, ternyata sudah tidak ditemukan lagi.

Ya, seorang Ibu itu mengalami mujizat kesembuhan. Seandainya saja suster membawa dengan benar seorang Ibu ke ruang operasi, maka mungkin bayi didalam kandungan seorang Ibu tentu sudah akan segera digugurkan. Namun, karena kesalahan seorang suster yang membawa seorang Ibu ke ruang USG, maka dapat diketahui bahwa seorang Ibu sudah mengalami mujizat kesembuhan.

Cerita yang lain datang pada saat saya menemani suami untuk mencari sebuah barang. Suami saya sedikit mengalami kesulitan saat mencari barang ini, karena dibutuhkan dalam jumlah yang sangat banyak dan dalam waktu yang sangat singkat. Berminggu-minggu suami saya mencari barang tersebut, keluar masuk toko, dan bahkan waktu libur kami pun sedikit tersita untuk mencari barang tersebut.

Untuk menjelajahi kota, kami menggunakan GPS. Namun, jalan di Ibukota kadangkala membuat kami salah jalan dan harus berputar cukup jauh. Dan saya telah melakukan kesalahan didalam menunjukkan arah ke tempat yang ingin dituju oleh suami saya. Perjalanan yang seharusnya tidak terlalu jauh, akhirnya menjadi sangat jauh, dan ditambah dengan kemacetan, akhirnya membuat kami harus berjam-jam berada di jalan.

Namun, di tengah perjalanan, tiba-tiba kami melihat ada sebuah toko yang mungkin menyediakan barang yang diperlukan oleh suami saya. Suami saya segera memutar balik arahnya, dan mampir ke toko tersebut. Benar saja, toko tersebut memiliki barang yang diperlukan oleh suami saya, dan dapat memenuhi jumlah yang diharapkan oleh suami saya.

Kesalahan saya didalam menunjukkan arah ternyata membuahkan hasil yang baik, yang membuat suami saya bisa menemukan sebuah toko yang menjual barang yang diperlukannya.

Didalam Tuhan, kadangkala kita bisa menemukan jawaban doa, di balik kesalahan yang terjadi, baik kesalahan yang kita perbuat, mau pun kesalahan yang orang lain perbuat. Dengan kata lain, saat kita mengandalkan Tuhan, kita bisa mengerti bahwa Tuhan itu tidak pernah salah.

Mungkin kita sering merasa sangat kecewa saat melakukan kesalahan, seperti pada saat saya melakukan kesalahan itu saya benar-benar merasa kesal, karena akibatnya kami harus terjebak kemacetan yang mungkin tidak perlu terjadi bila saya tidak salah menunjukkan arah jalan.

Dan tentu saja, kita juga tidak perlu selalu berbuat kesalahan untuk mendapatkan jawaban doa.

Tetapi, sekarang kita mengerti bahwa tidak semua hal bisa berjalan dengan sempurna. Ada kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi. Dan justru dibalik ketidaksempurnaan, ada Tuhan yang mampu menyempurnakan.

Tuhan memberkati!

20140306-165220.jpg