Sahabat

Apa arti seorang sahabat bagi Anda?

Menurut saya, seorang sahabat adalah seseorang yang dapat kita percayai untuk menjaga cerita kita, sehingga kita bisa merasa nyaman saat bercerita dengannya. Seorang sahabat adalah seseorang yang dapat menerima kita apa adanya dengan segala kekurangan kita, jadi tidak hanya baik pada saat semua sedang baik-baik saja, tetapi juga tetap bisa baik kembali pada saat terjadi pertengkaran atau salah paham. Seorang sahabat mampu bersikap bijaksana, berani menegur, dan juga mau membela.

Seorang sahabat tidak pernah mengatakan hal buruk dibelakang kita. Seorang sahabat tidak harus selalu bersama, tetapi pada saat bertemu ada keakraban yang bisa dirasakan oleh masing-masing pihak, karena rasa sayang dan sikap yang mau menerima dalam kondisi apa adanya tidak membuat seseorang merasa canggung satu dengan yang lain.

Dan menurut saya, sebutan ‘sahabat’ akan terjadi, bila masing-masing pihak memiliki hati sebagai seorang sahabat. Sahabat tidak akan terjadi bila seseorang yang satu hanya merasa sebagai seorang teman saja dan seseorang yang lain yang merasa menjadi seorang sahabat.

Seandainya, seseorang yang satu hanya merasa sebagai teman saja, maka pada saat terjadi kesalahpahaman, hubungan akan sangat cepat menjadi renggang. Sedangkan, pada saat kedua belah pihak atau lebih merasa bahwa mereka adalah sahabat, maka hubungan mereka akan menjadi jauh lebih dekat daripada hubungan hanya sebagai seorang teman biasa. Bahkan, ada begitu banyak sahabat yang menyebut sahabatnya sebagai saudaranya.

Seorang teman mengatakan kepada saya bahwa seseorang itu akan selalu bisa merasakan apakah kasih yang diterimanya dari orang lain itu tulus atau tidak. Apalagi bila kita seorang wanita, maka dengan mudahnya kita dapat membedakan sikap seseorang itu tulus atau tidak.

Ellena memiliki seorang teman yang disebutnya sebagai seorang sahabat bagi Ellena. Tetapi, teman Ellena itu hanya menganggap Ellena sebagai teman saja, karena dia belum merasa nyaman dengan Ellena, diketahuinya beberapa cerita justru diceritakan ke teman-teman yang lain oleh Ellena. Mungkin mereka memiliki hubungan yang cukup dekat, tetapi mereka tidak dapat dikatakan sebagai sahabat. Suatu hari nanti mungkin mereka bisa benar-benar menjadi sahabat, atau hubungan mereka mungkin menjadi renggang karena teman Ellena bisa saja mengambil keputusan untuk menjaga jarak.

Di kisah yang lain, Neilla memiliki seorang teman yang menyebut dirinya sebagai sahabat. Teman Neilla sangat memercayai Neilla, sehingga ada begitu banyak hal diceritakannya pada Neilla. Namun sayangnya Neilla tak dapat menyebutnya sebagai sahabat karena berbagai hal pemikiran Neilla mengenai kepribadian temannya itu. Setiap kali teman Neilla mengatakan “I love you dear Neilla”, Neilla tidak pernah membalasnya karena Neilla tidak menyayangi temannya itu sebagai sahabatnya. Cepat atau lambat, teman Neilla akan merasakan bahwa Neilla tidak benar-benar mengasihi dia sebagai seorang sahabat.

Yohanes 15:15 mengatakan “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Aku dengar dari Bapa-Ku”, yang berarti didalam Perjanjian Baru, Tuhan tidak ingin menyebut kita sebagai hamba, tetapi kita ini dianggapNya sebagai sahabatNya.

Sahabat menunjukkan hubungan yang lebih karib bila dibandingkan seorang hamba. Tuhan menyebut kita sebagai sahabatNya dengan alasan yang jelas, bahwa Tuhan sudah menceritakan berbagai rahasiaNya kepada kita. Seperti yang tersebut diatas bahwa seorang sahabat dapat dipercayai dan dapat mengetahui rahasia.

Di sisi lain, Yohanes 15:14 mengatakan “Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu”. Jadi, jika kita menganggap Tuhan juga sebagai sahabat, maka kita akan melakukan yang Tuhan perintahkan pada kita.

Persahabatan tidak akan terjadi apabila hanya ada satu pihak yang bersedia menjadi seorang sahabat dan pihak yang lain hanya sebagai teman biasa. Dan seseorang bisa merasakan apakah kasih sahabatnya itu benar-benar tulus atau tidak.

Tuhan sudah mengatakan bahwa kita adalah sahabatNya, tetapi hubungan persahabatan kita dengan Tuhan tergantung pada ketaatan kita. Bila kita menganggapNya sebagai sahabat, maka kita harus memilih untuk taat padaNya. Dan kasih kita pada Tuhan akan diketahuiNya. Itu sebabnya, sebaiknya kasih kita padaNya tulus, bukan hanya karena kita selalu membutuhkanNya, melainkan karena Dia Allah, yang sudah terlebih dahulu menganggap kita sebagai sahabat dan sudah mengasihi kita dengan tulus.

Demikian pula, bila kita mengasihi teman-teman kita sebagai sahabat, maka kasihilah sahabat kita itu dengan tulus, jangan hanya karena kita sedang membutuhkannya saja!

Tuhan memberkati.

**picture taken from:
http://withfriendship.com/user/boss/friendship.php

20131028-204506.jpg

Iklan

Dimulai Dari Dalam

Setiap keluarga memiliki tata cara yang berbeda-beda. Setiap keluarga memiliki kebiasaan yang berbeda-beda. Setiap keluarga memiliki keakrabannya masing-masing. Setiap keluarga memiliki style atau gayanya masing-masing.

Ada keluarga yang tidak memiliki hubungan yang dekat antara saudara yang satu dengan saudara yang lain, tetapi bukan berarti mereka tidak saling menyapa. Ada keluarga yang tidak memiliki hubungan yang dekat antara saudara yang satu dengan saudara yang lain, karena dalam setiap pertemuan mereka selalu saling menyakiti, sehingga mereka menghindari pertemuan. Ada juga keluarga yang sangat akrab, sehingga mereka dapat menikmati waktu-waktu bersama.

Tentu saja, yang paling menyenangkan adalah saat kita dapat melihat atau merasakan kebersamaan dalam suasana yang hangat, sangat akrab, dan hubungan yang tidak saling menyakiti.

Dan biasanya, kebiasaan yang ada didalam rumah, akan terbawa pada saat kita berada diluar rumah. Sebagai contoh, bila kita terbiasa dengan suasana yang akrab, maka kita akan dengan mudah menjadi akrab dengan orang selain anggota keluarga kita.

innerbeautyItulah sebabnya, segala sesuatu pada dasarnya selalu mulai dari dalam diri kita sendiri atau dari dalam keluarga kita sendiri.

Bila kita sudah menikah, maka kita memiliki peluang atau kesempatan untuk membuat sebuah pola atau gaya hidup yang lebih baik, seperti yang kita inginkan. Tentu saja, harus dengan kesepakatan bersama pasangan, untuk membentuk sebuah kebiasaan baik yang baru, sehingga pada saat kita berada diluar keluarga, kita juga akan membawa kebiasaan itu. Dan kemudian, orang lain yang seharusnya belajar dari kebiasaan dan kehidupan yang baru kita bentuk itu.

Kita akan sulit mengubah pola kebiasaan yang terjadi didalam keluarga saat kita bersama dengan orang tua dan saudara-saudara kita. Tetapi kita masih bisa belajar dari contoh kehidupan yang ada didalam keluarga yang lain, yang menurut kita baik, sehingga kita bisa membuat diri kita sendiri tampil dengan pola hidup yang lebih baik.

Tidak mudah untuk membentuk sebuah pola hidup yang bajk dan menjadikannya sebagai sebuah kebiasaan yang baik, karena setiap kita sudah memiliki pola hidup yang kita bawa sejak dari dalam keluarga kita.

Tetapi bila kita ingin suatu perubahan yang baik terjadi didalam kehidupan kita, dan bila kita ingin membawa kebiasaan yang baik itu dalam keseharian kita untuk menjadi contoh yang baik bagi kehidupan orang lain juga, maka kita harus memulainya dari dalam diri kita sendiri atau dari dalam keluarga kita terlebih dahulu.

Tidak perlu meniru persis seperti keadaan orang lain! Kita bisa memiliki gaya dan pola hidup sendiri yang kita kehendaki, disesuaikan dengan kepribadian kita juga.

Bukankah kita dilahirkan sebagai seseorang dengan kepribadian yang unik dan baik, untuk tujuan yang mulia? Maka kita pasti mampu mencapai kehidupan yang mulia itu.

Tuhan memberkati!

**picture taken from:
http://www.equipped4excellence.com/ministries/inner-beauty-desk/

Kenaikan Tuhan Yesus

Pada tanggal 17 Mei 2012 nanti kita semua akan memperingati hari Kenaikan Tuhan Yesus. Firman Tuhan didalam Kisah Para Rasul 1:6-11 menceritakan bahwa murid-murid Tuhan Yesus merasa sangat sedih karena merasa akan ditinggalkan Tuhan Yesus ke surga. Tetapi Tuhan Yesus menjanjikan bahwa Roh Kudus akan menemani mereka.

Kisah ini mungkin bukanlah cerita yang asing lagi terdengar karena setiap tahun tentu kita menghadiri kebaktian sebagai peringatan akan hari Kenaikan Tuhan Yesus. Tetapi pada tahun ini, ketika saya merenungkan kisah Kenaikan Tuhan Yesus kembali, saya membayangkan betapa sedihnya apabila kita ditinggal oleh orang yang sangat kita sayangi, walau pun mungkin orang itu tidak meninggal, tetapi hanya akan terpisahkan oleh jarak.

Teringat saat saya masih bekerja, dimana didalam satu departement yang sudah kompak dan selalu bekerja bersama setiap harinya, tetapi tiba-tiba ada teman-teman yang mengajukan pengundurkan diri, karena ingin meneruskan sekolah keluar negeri atau mendapatkan tawaran yang lebih baik di tempat lain. Hati ini bisa sangat sedih mendengarnya karena kerjasama yang baik itu tentunya tak mudah mendapatkannya.

Tak hanya teman-teman yang selama ini bekerja bersama-sama di kantor, tetapi ada juga teman-teman yang sudah sering beribadah bersama-sama di gereja, atau teman-teman sewaktu saya masih sekolah, yang masih akrab sampai saat ini, bila mendengar ada seseorang diantara mereka yang hendak tinggal lama diluar kota yang berbeda, hati ini tentunya akan merasa kehilangan.

Rasa kehilangan itu akan sangat terasa apalagi bila teman-teman itu selama ini dekat dengan kita, dan apalagi bila teman-teman itu selama ini yang paling bisa diandalkan, misalnya saja teman-teman di kantor yang selama ini paling rajin dan bisa diajak bekerja sama menyelesaikan pekerjaan, maka keberadaannya tentu sangat membantu pekerjaan kita.

Sama halnya dengan teman-teman sepelayanan yang mungkin selama ini tidak pernah komplain atau tidak pernah perhitungan bila diminta tolong menggantikan jadwal pelayanan misalnya, maka ketika mereka harus pergi, kita tentu akan merasa kehilangan. Kehilangan ini mungkin terjadi karena tingkat kebutuhan, tetapi kita tentu pernah merasakan rasa kehilangan yang benar-benar terasa sedihnya di hati. Seperti bila seorang sahabat kita yang harus terpisahkan oleh jarak dari kita.

Keberadaan Tuhan Yesus didunia ini telah mengajarkan banyak hal kepada murid-muridNYA, yang membuat murid-muridNYA seharusnya sudah menjadi murid-murid Tuhan Yesus yang lebih baik daripada sebelum mereka bertemu dengan Tuhan Yesus. Kenaikan Tuhan Yesus ke Surga juga bukan berarti mereka akan sendirian, melainkan ada Roh Kudus yang akan menyertai mereka, sebagai bukti bahwa Tuhan Yesus masih memikirkan dan tidak benar-benar meninggalkan mereka.

Demikian pula kita juga harus menyadari bahwa keberadaan kita, dimana pun kita berada, dan keberadaan orang lain yang saat ini sedang berada didalam kehidupan kita ini, adalah saat-saat dimana kita sebenarnya dapat menjadi berguna di tempat kita pada saat itu, dan keberadaan orang lain itu juga dapat menjadi berguna bagi diri kita sendiri.

Keberadaan kita tentu berguna sesuai dengan talenta dan kapasitas yang kita miliki. Kita dapat memberikan atau mengerjakan sesuatu yang baik secara maksimal bagi tempat kita bekerja saat ini, bagi gereja kita saat ini, dan bagi teman-teman yang mungkin saat ini dekat dengan kita.

Demikian pula keberadaan teman-teman kita saat ini yang ada didalam kantor, di gereja, mau pun yang saat ini sedang dekat dengan kita, tentunya secara langsung atau tidak langsung sebenarnya hidup mereka sedang berguna bagi kita (baca: memberkati kita).

Perkataan dan tingkah laku kita, secara sadar mau pun tidak sadar, bisa saja memberkati dan menjadi inspirasi bagi orang-orang disekitar kita. Sehingga pada saat kita meninggalkan suatu tempat, ada hal-hal yang menumbuhkan pemikiran atau iman orang-orang di tempat itu.

Hal-hal yang kita lakukan pun sebenarnya dapat menjadi pelajaran berharga dan bekal bagi kita sendiri mau pun orang-orang di sekitar kita untuk menjadi lebih baik di masa sekarang atau di masa yang akan datang.

Seringkali kita merasa nyaman dengan keberadaan orang-orang di sekitar kita, tanpa berpikir ingin belajar sesuatu darinya. Sampai ketika orang-orang itu harus pergi, kita akan tetap seperti sebelum-sebelumnya dan tidak dapat berkembang. Atau bisa saja justru kita merasa terganggu dengan kehadiran seseorang, padahal ada begitu banyak potensi yang dapat kita gali dan kita pelajari dari seseorang itu, tetapi kita lebih memilih untuk memusuhinya.

Dari kisah kenaikan Tuhan Yesus, sebenarnya di bumi ini Tuhan sedang menghadirkan orang-orang disekitar kita, yang dapat memberkati kita, dan dapat memberikan banyak pelajaran hidup atau secara skill bagi kita, agar kita dapat menjadi seseorang yang lebih baik dan lebih maju.

Tetapi tentu pilihan ada di tangan kita, kita dapat memilih untuk melihat kehadiran seseorang sebagai potensi dan kesempatan untuk dapat belajar banyak darinya, atau kita dapat memilih untuk melihat kehadiran seseorang hanya sebagai seseorang yang dapat kita manfaatkan, tetapi kita tidak pernah berniat belajar sesuatu darinya. Hasil akhirnya hanya akan membawa kita pada suatu kebaikan dimana kita akan menjadi semakin lebih baik atau tanpa hasil apa pun.

Tuhan memberkati!

**picture taken from:
http://www.google.co.id/imgres?q=picture+of+kenaikan+Tuhan+Yesus&start=131&hl=id&sa=X&biw=1280&bih=707&tbm=isch&prmd=imvns&tbnid=9IoeFTMWaUOxyM:&imgrefurl=http://gkpibukitsionbatam.com/page/4/&docid=2BPR8nJD3LumGM&imgurl=http://gkpibukitsionbatam.com/wp-content/uploads/2011/11/tuhan-yesus.jpg&w=800&h=600&ei=AUqzT_z0LIn5rQex84iTBA&zoom=1&iact=hc&vpx=195&vpy=358&dur=457&hovh=194&hovw=259&tx=146&ty=119&sig=115066408690274837010&page=7&tbnh=157&tbnw=209&ndsp=20&ved=1t:429,r:5,s:131,i:116