Pemandangan Indah di Sudut Terpencil

Ketika saya masih tinggal di Pulau Bali, suami saya dan saya pergi ke sebuah tempat wisata yang dikenal dengan nama Tanah Lot. Letaknya cukup jauh dari tempat tinggal kami, sehingga pagi hari kami berangkat, menjelang siang hari kami baru tiba di Tanah Lot.

Setibanya kami di Tanah Lot, kami melihat posisi dimana seharusnya kami bisa melihat pemandangan yang menarik itu sangat ramai. Ada begitu banyak orang yang berdesak-desakan ingin foto dan bermain air di area tersebut. Akhirnya, kami memutuskan untuk berjalan naik, menuju tempat yang mungkin tidak terpikirkan oleh para pengunjung yang lain, karena hanya kami dan para petugas yang berjalan ke area tersebut.

Sesampainya diatas, kami melihat ada begitu banyak posisi pemandangan yang sangat menarik. Dengan gembira kami foto dan menikmati pemandangan tersebut.

Tak lama kemudian, kami memutuskan untuk turun, dan barulah kami berpapasan dengan para wisatawan yang mungkin melihat kami diatas, sehingga mereka tertarik untuk melihat-lihat juga. Kami melihat mereka juga sangat gembira melihat pemandangan yang tidak terlihat dari bawah.

Beberapa hari yang lalu, seorang teman memasang foto yang diambil ketika dia berlibur ke negeri Tiongkok. Seorang teman ini menuliskan bahwa foto tersebut diambil di sebuah sudut terpencil. Dan foto pemandangan itu benar-benar sangat indah.

Saya berpikir, mungkin tidak banyak orang yang berpikir kalau ada pemandangan yang indah di sebuah sudut terpencil, dan beruntunglah seorang teman ini yang mungkin tadinya iseng mampir ke sudut itu, sehingga dia menemukan sebuah pemandangan yang sangat indah.

Didalam kehidupan ini, biasanya pemikiran atau pendapat yang terbaik adalah pemikiran atau pendapat yang dimiliki oleh sebagian besar orang. Sudut pandang yang terbaik, biasanya adalah sudut pandang yang paling sering dikerumuni oleh kebanyakan orang.

Akibatnya, bila diri kita sendiri atau seseorang yang lain memiliki pemikiran atau pendapat yang berbeda, maka kita takut akan dianggap aneh atau mungkin kita yang akan menganggap orang lain itu yang aneh. Bila diri kita sendiri atau seseorang yang lain memiliki sudut pandang yang berbeda, maka kita takut akan dianggap memiliki selera yang jelek atau mungkin kita yang akan menganggap orang lain itu memiliki selera jelek.

Setiap orang memiliki pendapat, setiap orang memiliki pemikiran, setiap orang bisa menyukai suatu tempat tertentu dengan pemandangan tertentu, dan bila timbul perbedaan, maka bukan berarti ada yang aneh atau ada yang jelek.

Seringkali kita memandang seseorang itu baik hanya karena seleranya sama dengan kita. Dan sebaliknya, kita dengan mudah mentertawakan orang lain hanya karena seleranya berbeda dengan kita. Tidak heran, bila pada akhirnya kita bertengkar dengan seseorang hanya karena beda selera. Dan dengan mudah kita membuat batasan-batasan, hanya karena perbedaan-perbedaan yang timbul.

Realitanya, ada begitu banyak orang yang dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang, ternyata memiliki pemikiran atau ide yang dapat menghasilkan sesuatu yang berguna. Ada begitu banyak orang yang dianggap bodoh oleh kebanyakan orang yang lain, tetapi ternyata memiliki cara berpikir yang luar biasa baiknya.

Seandainya saja, kita mau menerima perbedaan-perbedaan yang ada, maka sebenarnya kita tidak perlu jengkel atau kecewa dengan hal-hal kecil, dan bahkan mungkin kita tidak perlu kehilangan teman. Seandainya saja, kita mau memberikan kesempatan bagi seseorang, maka kita mungkin akan memunculkan sesuatu yang luar biasa didalam diri seseorang itu.

Di dunia ini, ada begitu banyak hal yang indah. Bahkan di sudut-sudut terpencil, yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh kebanyakan orang, justru disana terdapat pemandangan yang sangat indah.

Di dunia ini, ada begitu banyak orang yang berpotensi. Bahkan dengan segala “keanehan” yang menurut kita mungkin ada didalam kehidupan atau diri seseorang, justru ada hal yang luar biasa.

Tuhan memberkati.

20151028-175122.jpg

Kenapa “Ngotot”?

‘Ngotot’ dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai suatu sikap memaksa. Kita semua tahu bahwa sikap memaksakan kehendak bukanlah sikap yang baik. Namun, semua orang tentu pernah bersikap ‘ngotot’.

Sebenarnya, didalam perjalanan kehidupan ini ada hal-hal yang perlu kita perjuangkan, dan didalam memerjuangkan sesuatu itu kadangkala kita memang perlu ‘ngotot’, agar pada akhirnya perjuangan kita itu memberikan hasil seperti yang kita harapkan.

Sebagai contoh, pada saat kita membeli sesuatu dengan menggunakan debit card atau credit card, mungkin ada error pada mesin yang ada di toko, sehingga menyebabkan pembayaran yang kita lakukan menjadi double atau berulang, sehingga kita harus protes agar kita tidak perlu membayar yang tidak seharusnya kita bayarkan. Tetapi, pada saat kita protes, mungkin saja pihak toko berkata bahwa yang mereka lakukan sudah benar, sehingga kita harus ‘ngotot’ dengan cara memberikan bukti tagihan credit card misalnya, untuk membuat pihak toko mengerti bahwa memang benar ada kesalahan dan pada akhirnya mau mengembalikan kelebihan pembayaran yang seharusnya tidak perlu kita bayarkan.

Contoh yang lain, apabila perusahaan tempat kita bekerja mungkin memberikan potongan gaji yang terlalu besar, yang tidak masuk di akal, maka kita bisa meminta bukti perincian, agar seandainya kita benar melihat ada kesalahan perhitungan, kita bisa ‘ngotot’ untuk meminta gaji yang seharusnya kita terima.

Realitanya, didalam kehidupan ini, ada begitu banyak orang yang justru diam pada saat seharusnya dia ‘ngotot’ hanya karena tidak ingin menimbulkan keributan, tetapi sebaliknya ada begitu banyak orang yang justru menjadi sangat ‘ngotot’ pada saat seharusnya mereka diam dan menerima.

Ada seorang teman yang ‘ngotot’ memberitahukan kesalahan saya, pada saat saya sudah mengakui kesalahan saya dan bahkan saya sudah meminta maaf padanya. Sikap teman saya yang ‘ngotot’ membuat saya bingung, apalagi yang harus saya lakukan selain minta maaf? Saya tidak bisa mengembalikan waktu, yang saya bisa lakukan hanyalah memberikan penjelasan dan minta maaf.

Seringkali pada saat kita merasa sangat kecewa dan marah dengan seseorang, kita tidak merasa cukup sekedar menerima penjelasan dan permintaan maaf seseorang, sehingga masalah menjadi semakin rumit dan berkepanjangan. Padahal, seandainya kita mau menerima penjelasan dan permintaan maaf seseorang, maka persoalan selesai.

Seseorang yang berani dan mau datang kepada kita untuk memberikan penjelasan serta meminta maaf pada kita saat dia melakukan kesalahan, sebenarnya adalah seseorang yang sudah berusaha bersikap rendah hati dan dewasa. Seharusnya, kita bisa bersikap menghargai sikap seseorang tersebut, bukan semakin menyudutkan dan seolah-olah kita memang ingin menginjak-injak harga dirinya dengan bersikap ‘ngotot’ memberitahukan kesalahannya terus menerus.

Ada seorang teman yang lain, yang sebenarnya berbuat salah, tetapi karena dia tidak menyadari kesalahannya, atau dia tidak mau mengakui kesalahannya, akhirnya dia ‘ngotot’ mengatakan orang lain yang sudah berbuat salah. Parahnya lagi, saat orang lain dapat membuktikan kesalahannya, dia tetap ‘ngotot’, berharap orang lain tidak lagi berfokus pada kesalahannya, dan tetap ‘ngotot’ tidak mau minta maaf.

Bersikap gengsi dengan cara ‘ngotot’ tidak membuat kita menjadi benar dan dipandang baik oleh orang lain. Kita akan kehilangan respek dan kita akan kehilangan waktu-waktu bersama orang-orang yang kita sayangi hanya karena kita ‘ngotot’ demi menjaga gengsi.

Firman Tuhan didalam Lukas 18:1-8 menceritakan tentang seorang hakim yang lalim. Diceritakan bahwa ada seorang janda yang memohon agar hakim yang lalim itu membela haknya. Dan janda itu ‘ngotot’ sehingga hakim yang lalim itu akhirnya menolong, agar tidak merasa terganggu lagi. Cerita tersebut seringkali disimpulkan bahwa kita harus ‘ngotot’ saat berdoa kepada Tuhan, agar permohonan kita dikabulkan.

Padahal sebenarnya, janda itu bersikap ‘ngotot’ karena dia tahu bahwa dia memang memiliki hak untuk mendapatkan pembelaan. Sedangkan didalam doa kita, kadangkala kita bahkan tidak dapat membedakan antara keinginan dan kebutuhan, tetapi kita ‘ngotot’ seolah-olah kita yang paling tahu yang terbaik untuk kita.

Seorang Hamba Tuhan berkata didalam kotbahnya bahwa didalam doa seharusnya kita menyelaraskan antara kehendak kita dan kehendak Tuhan, sehingga pada akhirnya kita mendapatkan jawaban yang terbaik untuk kita, bukan ‘ngotot’ memaksakan kehendak kita kepada Tuhan. Pada akhirnya, saat kita ‘ngotot’, kita justru tidak mendapatkan yang kita inginkan dan akhirnya kita menjadi kecewa. Karena pada saat kita ‘ngotot’, kita bersikap tidak mau tahu kehendak Tuhan, kita hanya bersikap memaksakan kehendak kita pada Tuhan. Padahal, Tuhan-lah Sang Empunya hidup kita, Dia jauh lebih tahu yang terbaik untuk kita.

‘Ngotot’ itu kadangkala baik, apalagi bila kita tahu dan yakin kalau kita benar. Tetapi, sayangnya, seringkali kita ‘ngotot’ dalam hal yang salah dan di waktu yang salah. Kalau kita sudah tahu salah, lalu kenapa kita tetap ‘ngotot’?

‘Ngotot’ adalah salah satu kebiasaan yang sulit dihilangkan oleh semua orang. Semua orang pasti pernah bersikap ‘ngotot’. Bahkan ada orang yang tidak sadar bila dia sudah bersikap ‘ngotot’. Tetapi, kita akan menjadi lebih baik lagi bila kita tahu kapan kita sebaiknya ‘ngotot’. ‘Ngotot’ bukan demi menjaga gengsi, ‘ngotot’ bukan untuk menunjukkan kesombongan kita, melainkan ‘ngotot’ untuk melakukan yang baik dan benar.

Tuhan memberkati!

20140417-150547.jpg

I Love Monday

Senin adalah hari pertama didalam memulai kembali semua aktifitas, setelah kita melewati hari Sabtu dan Minggu, dimana sebagian besar orang libur pada kedua hari tersebut. Senin selalu menjadi hari yang cukup berat karena hari Senin merupakan hari yang letaknya paling jauh dengan hari Sabtu dan Minggu. Sedangkan hari Jumat merupakan hari yang paling dinanti-nantikan oleh banyak orang karena keesokan harinya mereka akan menikmati hari libur.

Demikian pula, bagi umat Kristiani, bulan Desember adalah bulan yang paling dinanti-nantikan, karena hujan mulai mengguyur sebagian besar kota di Indonesia, memberikan kesejukan tersendiri setelah melewati musim panas yang terasa sangat panjang, dan yang paling penting, suasana Natal akan semakin dapat dirasakan dimana-mana.

Sedangkan, bulan Januari adalah bulan pertama dimana semua perusahaan harus kembali menentukan anggaran untuk setahun kedepan. Semua orang harus kembali pada aktifitasnya masing-masing dan bagi sebagian besar orang mungkin bulan-bulan di awal tahun kembali membuatnya cemas dengan apa yang akan terjadi di tahun yang baru.

Setelah melewati masa-masa pergumulan yang berat, jawaban doa adalah hal yang paling menyenangkan bagi semua orang.

Orang-orang yang selama ini menanti-nantikan waktu dimana bisa membayar lunas semua pinjaman, akhirnya mendapatkan mujizat, dan bisa membayar semua pinjamannya, akan bersukacita karena terbebas dari jerat hutang.

Orang-orang yang selama ini menanti-nantikan kehadiran seorang anak didalam kehidupan rumah tangganya, akhirnya mendapatkan mujizat dengan kabar bahwa sang istri akhirnya mengandung, akan merasa sangat bersyukur karena Tuhan sudah memberikan kepercayaan pada pasangan suami istri untuk menjadi orang tua.

Orang-orang yang selama ini tidak memiliki pekerjaan, atau usahanya mengalami banyak kemunduran, akhirnya mendapatkan mujizat, sehingga bisa mendapatkan pekerjaan, bisa memiliki usaha sendiri, dan usahanya mendapatkan keuntungan yang sangat besar.

Hari-hari menjelang akhir minggu, bulan-bulan menjelang akhir tahun, dan waktu-waktu dimana kita diberkati, selalu menjadi waktu-waktu yang paling menyenangkan didalam hidup kita.

Tetapi, kita bisa berada pada hari-hari di akhir minggu, karena ada hari-hari di awal minggu yang harus kita lewati terlebih dahulu. Kita bisa berada pada bulan-bulan di akhir tahun, karena ada bulan-bulan di awal tahun yang harus kita lewati terlebih dahulu. Kita bisa tahu bahwa kita diberkati, karena ada masa-masa sulit dimana kita harus melewatinya terlebih dahulu.

Kita tidak bisa selalu berada di akhir minggu, karena ada tujuh hari yang memang harus kita lalui. Kita tidak bisa selalu menikmati hari Natal, karena ada hari-hari lain yang mungkin juga dinanti-nantikan oleh orang lain dan kita harus menghargai hari lain tersebut. Kita tidak bisa selalu hidup dengan berkat seperti yang kita inginkan, karena Tuhan ingin kita bisa menghargai berkat-berkat Tuhan yang lain, yang mungkin bagi kita tidak terlalu penting, padahal sebenarnya juga sama pentingnya dengan berkat yang kita inginkan.

Hari-hari yang kita lewati membuat kita mampu menghargai hal-hal kecil. Hari-hari yang kita lewati memberikan kita pengalaman dan pelajaran hidup yang sangat berharga, yang tidak bisa diajarkan oleh siapa pun dan mungkin tidak pernah dialami oleh siapa pun. Masalah-masalah yang kita lewati membuat kita mampu melakukan yang terbaik yang menjadi bagian kita.

Tuhan senang saat melihat kita hidup dalam kelimpahan dan kebahagiaan, tetapi Tuhan akan menjadi sangat bangga pada saat kita mampu melewati masa-masa sulit dan memuliakan nama Tuhan.

Mencintai kehidupan tidak hanya sekedar mencintai hari-hari yang menurut kita baik, tetapi kemampuan untuk menikmati seluruh paket kehidupan, dengan berpikir positif bahwa setiap hari Tuhan selalu baik dengan kita.

Tuhan memberkati!

Belajar Dari Proses

Sesuatu tidak terjadi begitu saja, selalu ada proses hingga sesuatu dapat terjadi.

Ada proses dibalik sebuah makanan yang kita nikmati, mulai dari pembelian bahan baku, membersihkan bahan baku, memotong bahan baku, dan menyampurnya menjadi satu, hingga menjadi sebuah makanan yang siap untuk dinikmati.

Ada proses dibalik sebuah bangunan indah yang mungkin saat ini menjadi tempat paling menyenangkan untuk kita menghabiskan waktu. Tetapi, ada sebuah proses yang harus dilalui hingga menjadi sebuah bangunan yang indah. Mungkin ada proses jual beli yang cukup rumit, hingga mendapatkan ijin untuk membangun. Kemudian dilanjutkan dengan proses pembangunannya.

Ada proses dibalik sebuah kehidupan seseorang. Seseorang menjadi lebih baik atau menjadi lebih tidak baik menurut pandangan kita, semuanya tidak terjadi dalam sekejab, namun ada proses yang telah dilewati hingga seseorang menjadi seperti yang kita lihat.

Seringkali kita melihat sesuatu hanya berdasarkan hasil atau akhir. Dari sebuah hasil atau akhir yang baik yang kita lihat, membuat kita ingin bisa menikmati akhir yang serupa, atau akhir yang sama, atau akhir yang lebih baik.

Realitanya, tak banyak orang yang benar-benar mau tahu sebuah proses atau perjalanan untuk mendapatkan akhir yang baik yang seperti diinginkan itu. Padahal, tidak semua orang memiliki sebuah peluang untuk melihat sebuah proses yang sedang terjadi sebelum melihat hasilnya.

Saat saya mengagumi seseorang, yang selalu membuat saya penasaran adalah cara seseorang itu melewati berbagai kesulitan hingga dia menjadi seperti yang saya kagumi saat ini. Saya suka dengan hasil atau akhir yang baik, tetapi saya sering bingung saat harus melewati proses. Bagaimana dengan Anda?

Semua orang memiliki kemampuan untuk menikmati sebuah akhir yang baik, tetapi tidak semua orang memiliki kemampuan untuk melewati proses dan akhirnya bisa benar-benar sampai ke tujuan dengan selamat.

Proses itu tidak menyenangkan, tak heran bila semua orang tidak menyukai sebuah proses.

Proses membuat kita mengenal seseorang dengan lebih baik. Jangan pernah mengatakan bahwa kita sudah mengenal seseorang dengan baik bila kita selalu bersamanya hanya di waktu senang! Kemarahan dan kesedihan seseorang akan tampak pada saat dia sedang berada didalam sebuah proses. Kita takkan pernah melihat seseorang memukul sebuah dinding bila dia sedang senang. Itu sebabnya, proses itu tidak menyenangkan karena mampu menunjukkan sifat asli kita, dan akibatnya kita bisa menjadi bahan gosip, atau bahan tertawaan.

Proses itu membuat hidup kita tidak tenang. Mungkin kita memiliki target waktu untuk mencapai sesuatu. Tetapi, ada begitu banyak orang yang gagal untuk mendapatkan hasil tepat waktu sepeti yang diinginkannya. Pada saat proses dan kendalanya sedang berlangsung, kita biasanya sulit untuk mengetahui bagaimana hasil yang akan kita peroleh dan kapan waktunya kita selesai menjalani proses tersebut. Tidak ada orang yang bisa merasa tenang bila tidak ada kepastian.

Proses itu melelahkan. Aktifitas kita setiap hari itu sebenarnya bagian dari sebuah proses. Sebagai contoh yang paling mudah adalah perjalanan kita dari rumah menuju ke tempat kerja, mungkin kita harus melewati kemacetan, dan setibanya di kantor kita masih harus melalui beberapa anak tangga untuk tiba di ruang kerja kita. Berapa banyak orang yang mengeluh dengan aktifitasnya yang dianggap melelahkan ini?

Proses itu penuh dengan pengorbanan. Membuat sebuah masakan untuk keluarga kita mungkin butuh sebuah pengorbanan untuk menyisihkan sebagian waktu dan uang kita. Proses membangun sebuah usaha seringkali membuat kita harus menyisihkan banyak uang, tenaga, dan pikiran. Proses membangun sebuah karier, kadangkala membuat kita kehilangan waktu bersama orang-orang yang kita sayangi. Proses membangun sebuah hubungan, seringkali membuat kita harus menomorduakan kepentingan kita.

Proses itu tidak menyenangkan, tetapi penuh manfaat.

Proses membuat kita kuat. Saya dulu adalah seorang anak yang cengeng. Dalam setiap permainan kalau saya kalah, saya pasti menangis. Sedikit saja kakak saya mengganggu, maka saya akan menangis. Tetapi, proses kehidupan yang harus saya lalui, mulai dari mendengar kabar bahwa mami saya sakit kanker payudara, hingga mami saya meninggal dunia, dan perjuangan saya mendapatkan restu untuk menikah, membuat diri saya menjadi semakin kuat. Sekarang, bila saya menangis, itu berarti saya benar-benar dalam keadaan yang tertekan dan tidak tahu harus berbuat lagi.

Proses membuat kita lebih pandai. Untuk mencapai sesuatu, kita tentu harus belajar untuk melewati tahapan-tahapan tertentu. Sebagai contoh, pada awal seseorang memasak, tentu seseorang itu harus melihat resep atau cara memasak sebuah makanan. Dengan mempelajari sebuah resep dan berusaha mengerjakannya, maka seseorang bisa memasak. Hasil dari sebuah pembelajaran, dalam hal apa pun, membuat kita menjadi lebih pandai.

Proses membuat kita siap untuk menerima. Kita melewati sebuah proses untuk mencapai sebuah hasil atau tiba di sebuah akhir yang baik. Seorang pelajar tidak akan berhasil membangun sebuah usaha apabila dia tidak melewati sebuah proses pembelajaran. Memikirkan sebuah peluang usaha, menghitung biaya yang harus dikeluarkan, menerapkan ide menjadi sebuah realita, mengalami kerugian, dan meyakinkan orang lain mengenai sebuah bisnis, merupakan contoh dari sebuah proses yang harus dilewati oleh seseorang untuk mempersiapkan diri mencapai sebuah kesuksesan.

Proses membuat kita dekat dengan Tuhan. Tidak semua proses dapat kita lalui dengan mengandalkan pengalaman, kepandaian, dan hubungan yang kita miliki. Justru sebagian besar proses seringkali membutuhkan mujizat untuk dapat melewatinya. Proses seringkali meyakinkan kita bahwa kita tidak bisa berjalan sendiri. Tuhan selalu mengantarkan kita pada akhir yang baik. Syaratnya, kita harus menyertakan Tuhan sejak kita melangkah masuk dalam sebuah proses.

Artikel ini terbatas. Masih banyak yang ingin saya tuliskan untuk meyakinkan Pembaca dan diri saya sendiri bahwa proses itu selalu membuat kita menjadi lebih baik. Jangan pernah memandang sebelah mata saat kita tahu seseorang sedang melewati sebuah proses! Karena dia akan menjadi lebih baik setelah berhasil melewati prosesnya itu.

Seandainya kita mendapat kesempatan untuk mendengarkan cerita atau melihat sebuah proses, pergunakanlah kesempatan itu sebagai sebuah pembelajaran, bukan sebagai bahan pembicaraan yang tidak perlu! Dan jangan takut dengan sebuah proses dan jangan pernah menghindari proses! Tetapi, berjalanlah bersama Tuhan untuk mencapai sebuah akhir yang baik.

Tuhan memberkati!

20131017-183258.jpg

Tuhan Itu Baik

Sudah lama saya ingin menuliskan artikel ini, saya ingin mengatakan kepada semua orang bahwa Tuhan itu baik. Tetapi, saya lebih sering mendengar dari mami saya bahwa Tuhan itu baik, dan walau pun saya tahu Tuhan itu baik, saya tidak dapat melihat sisi kebaikan Tuhan didalam hidup saya, sehingga saya belum benar-benar dapat merasakan bahwa Tuhan itu baik.

Seringkali saya mendengar cerita, baik dari kakak saya, mau pun dari suami saya, dan dari teman-teman saya, bahwa mereka mendapatkan sesuatu dari keinginan yang bahkan belum pernah mereka katakan pada siapa pun juga, tetapi mereka mendapatkannya. Sungguh menakjubkan menurut saya.

Pada suatu hari, papi saya mendapatkan sebuah kiriman terang bulan atau martabak manis dari seorang temannya, dan kakak saya berkata bahwa baru saja dia berpikir, “andai saja bisa makan terang bulan malam ini“. Sedangkan saya, seringkali hal-hal yang saya inginkan tidak terjadi, atau saya harus berdoa dalam waktu yang sangat lama untuk mendapatkan yang saya inginkan.

Saya tahu dan mengerti bahwa Tuhan memberikan yang terbaik didalam hidup saya. Tetapi, masalahnya, yang ada didalam pikiran saya adalah yang saya inginkan jarang terjadi, sehingga saya berpendapat Tuhan tidak sayang saya. Buktinya, Tuhan hanya memerhatikan keinginan orang lain, dan mengabulkan bahkan sebelum seseorang itu memintanya. Sedangkan pada saat saya berdoa, butuh waktu lama untuk saya melupakan keinginan saya itu, bukan untuk mendapatkannya.

Kemudian saya belajar dari cara seseorang berjuang untuk mendapatkan yang diinginkannya, saya belajar dari cara seseorang beriman, saya belajar dari cara seseorang berdoa, dan saya juga belajar memahami keinginan Tuhan atas hidup saya. Dan lagi-lagi, saya menemukan kalau Tuhan itu pilih kasih, dan Tuhan itu tidak sayang saya.

Sampai pada suatu hari, saat saya mengalami sebuah persoalan yang sangat berat, saya berpikir bahwa tidak akan pernah ada mujizat didalam hidup saya, saya harus berjuang sendiri agar persoalan saya selesai, atau kemungkinan besar saya tidak akan pernah mendapatkan jalan keluar untuk persoalan saya ini, seumur hidup saya akan selalu berhadapan dengan kesulitan ini. Saya benar-benar lelah berdoa dan lelah untuk tetap beriman.

Walau pun saya merasa lelah, namun didalam hati kecil saya selalu terusik dengan pertanyaan, “Bagaimana mami saya bisa mengatakan Tuhan itu baik saat tubuhnya harus berjuang melawan penyakit kanker? Apa yang sudah dialaminya?“.

Ketidakpercayaan bahwa mujizat akan datang membuat persoalan tidak membaik. Dulu, dalam keadaan terdesak, sikap saya akan menyerah, kemudian sambil marah saya akan berkata, “Baik Tuhan, terserah apa mauMu, apa dayaku melawan Engkau?“. Tetapi, tidak untuk saat ini, saya berharap saya dapat melihat kebaikan Tuhan didalam hidup saya. Dengan nafas yang sesak, dan pikiran yang tidak tahu harus memikirkan apa, saya berkata, “Tuhan, bukankah Engkau Tuhan yang baik?“.

Kepala saya mengatakan, “Baiknya Tuhan dimananya?“, tetapi mulut saya berkata, “Tuhan, Engkau baik“. Dengan segera saya membantah pikiran saya sendiri dengan mengatakan bahwa sekali pun Tuhan tidak menjawab doa saya, Dia tetap baik.

Saya mencoba berdiri di sebuah sudut pandang yang berbeda.

Ada begitu banyak doa, yang seandainya Tuhan jawab, saya juga belum tentu senang dengan jawabanNya. Manusia memiliki kecenderungan tidak pernah bisa puas. Coba kita pikirkan, seandainya saja kita minta sesuatu pada seorang teman, dan seorang teman itu memberikannya pada kita, maka belum tentu kita puas dengan pemberian seorang teman itu, kita akan selalu ingin lebih.

Seorang teman yang selalu bisa memberikan semua yang kita inginkan, akan membuat kita dengan mudah berkata bahwa seorang teman itu baik. Tetapi, sebagaimana kita tidak bisa menyenangkan hati semua orang, maka semua orang pun tidak akan bisa menyenangkan hati kita. Selalu ada peluang bagi kita untuk protes. Lalu apakah kita akan bersikap adil bila mengatakan seorang teman itu tidak baik saat dia berkata “tidak” pada sebuah permohonan kita, setelah semua permohonan kita sebelumnya selalu dijawab “iya” olehnya?

Manusia berbeda dengan Tuhan, Tuhan mendengarkan permohonan kita, tetapi Tuhan juga mengerti sisi baik dan sisi buruk bila Dia menjawab permohonan kita. Tuhan selalu menginginkan kita berhadapan dengan sisi baik. Sehingga pada saat Dia menjawab permohonan kita itu berarti baik, dan pada saat Dia tidak menjawab permohonan kita itu juga berarti baik.

Ada kalanya, kita memiliki keinginan yang sama dengan seorang teman, tetapi seorang teman berhasil mendapatkan yang diinginkannya itu, dan kita tidak berhasil mendapatkannya. Apakah kita perlu merasa iri?

Sebuah ilustrasi sederhana mungkin dapat membantu kita. Coba bayangkan keinginan kita dan seorang teman itu adalah memiliki sebuah kertas kado yang cantik. Seandainya saja, kertas kado yang cantik itu ada di tangan kita dan di tangan seorang teman, kira-kira ditangan siapa kertas kado itu akan benar-benar dapat digunakan dengan baik?

Mungkin di tangan kita kertas kado itu hanya akan sekedar disimpan dengan baik. Sedangkan oleh seorang teman, kertas kado yang cantik itu akan digunakan untuk membungkus sebuah hadiah untuk ulang tahun pernikahan orang tuanya. Pada akhirnya, kertas kado itu mungkin akan sama-sama dibuang, tetapi kertas kado sudah digunakan dengan benar bila ada di tangan seorang teman.

Filipi 4:19 berkata “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaanNya dalam Kristus Yesus“, yang berarti tidak ada kebutuhan kita yang tidak Tuhan cukupkan. Jadi, Tuhan itu baik, karena Dia menaruh perhatian terhadap kebutuhan kita.

Seumur hidup saya, tidak pernah ada satu pun persoalan yang saya hadapi yang tidak memiliki jalan keluar. Itu berarti, Tuhan selalu menepati janjiNya bahwa persoalan yang kita alami tidak akan melebihi kekuatan kita. Padahal, ada begitu banyak janji yang mungkin kita katakan pada Tuhan, seandainya Dia menjawab kita, maka kita akan melakukan sesuatu untukNya, tetapi apakah semua janji bisa kita penuhi? Tuhan itu baik, Dia tetap setia memenuhi janjinya pada kita, orang-orang yang seharusnya lebih pantas menerima hukuman.

Saya tidak memiliki alasan lagi untuk mengatakan Tuhan itu jahat. Kita semua, tidak memiliki alasan berkata Tuhan itu jahat. Setiap hari, selalu ada berkatNya untuk kita. Tuhan itu baik dan akan selalu baik bagi kita.

Tuhan memberkati!

20131010-175323.jpg