Pelit vs Hemat

Pada suatu hari saya berbicang-bincang dengan seorang teman yang cukup akrab ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Dia bercerita, ada beberapa orang yang pernah mengatakan secara langsung kalau dia itu orangnya pelit. Dia juga memberikan penjelasan kalau sebenarnya dia hanya ingin memikirkan untuk kebutuhan di masa depan, jadi sama sekali tidak bermaksud untuk pelit.

Teman saya itu memberikan sebuah contoh cerita, tahun depan anaknya yang pertama akan masuk ke Sekolah Dasar, anaknya yang kedua akan masuk ke Sekolah Taman Kanak-Kanak, dan dia juga akan melahirkan anak yang ketiga, jadi dia berpikir liburan akhir tahun ini mereka sekeluarga hanya akan menikmati liburan didalam kota saja, mengingat belakangan pemasukannya juga tidak seperti yang diharapkan. Tetapi, saudara-saudaranya yang hendak mengajaknya pergi berlibur keluar kota berkata kalau dia itu pelit, dan terlalu banyak perhitungan.

Seringkali kita beranggapan bahwa seseorang itu pelit, hanya karena seseorang tidak memenuhi keinginan atau kebutuhannya seperti yang kita bayangkan. Seringkali juga kita beranggapan bahwa seseorang itu sedang berhemat, karena kita sangat memahami kondisi keuangannya.

Sebelum saya menulis lebih jauh, mari kita memahami terlebih dahulu arti kata pelit dan arti kata hemat.

Pelit adalah orang yang selama hidupnya hanya berusaha menimbun uang dan harta benda, bahkan seringkali rela hidup menderita.

Hemat adalah hidup ekonomis, tanpa pengeluaran yang tak perlu dan cermat.

Firman Tuhan didalam Amsal 28:22 (TB) berkata “Orang yang kikir tergesa-gesa mengejar harta, dan tidak mengetahui bahwa ia akan mengalami kekurangan.”

Didalam kehidupan ini, kita akan selalu bertemu dengan orang-orang yang pelit, orang-orang yang hemat, dan orang-orang yang bahkan sangat boros.

Biasanya, orang-orang yang pelit adalah orang-orang yang hanya mau ikut serta, tetapi tidak mau ikut membayar, dan mereka adalah orang-orang yang paling menjengkelkan. Itu sebabnya, kita jangan menjadi orang yang pelit! Belajarlah untuk ikut serta dan berusaha untuk mau membayar! Tidak ada teman atau saudara yang akan selalu memiliki hati yang sukarela dengan orang yang pelit.

Selain itu, pada dasarnya, orang-orang yang pelit adalah orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Bisa dibayangkan, orang-orang yang pelit juga ingin makan makanan yang enak, tetapi tidak mau ikut membayar, membiarkan orang lain yang membayarkan untuk dirinya, bukankah hal itu adalah sikap yang tidak bertanggung jawab?

Sedangkan orang-orang yang hemat sebenarnya adalah orang-orang yang bijaksana, karena sebenarnya mereka berusaha untuk hidup secara cermat, tidak mengeluarkan uang untuk sesuatu yang tidak perlu. Orang-orang yang hemat bukan berarti tidak mau mengeluarkan uangnya untuk bersenang-senang, hanya saja mereka tidak bersenang-senang setiap waktu. Orang-orang yang hemat sudah memperhitungkan setiap pengeluaran, sehingga mereka tidak perlu mengharapkan orang lain yang membayar untuk mereka.

Tetapi, orang-orang hemat pun adakalanya dikatakan sebagai orang-orang yang pelit, hanya karena pola pikir yang tidak kita pahami.

Kesenangan seseorang belum tentu menjadi kesenangan seorang yang lainnya. Kita tidak bisa mengatakan bahwa seseorang itu pelit hanya karena seseorang itu tidak bersenang-senang seperti kita, atau hanya karena seseorang itu tidak memberikan kesenangan untuk kita. Setiap orang memiliki perhitungan, cara hidup, dan kebutuhannya masing-masing. Kita hanya perlu menghormati pola pikir yang dimiliki oleh orang lain.

Tuhan memberkati!20151211-175144.jpg

Mantapkan Pandangan = Fokus

Setiap orang memiliki pendapatnya masing-masing mengenai hubungannya dengan Tuhan. Saya pribadi berpendapat, Tuhan itu seperti sahabat saya, tetapi juga sekaligus seperti orang tua saya. Saat saya berdoa kepada Tuhan, ada kalanya saya berbicara seperti kepada sahabat saya, dan ada kalanya saya berbicara seperti kepada orang tua saya.

Saya tahu Tuhan bukan manusia, Dia tidak sama seperti sahabat-sahabat saya dan Dia juga tidak sama seperti orang tua saya. Tetapi, pada saat saya mengharapkan sesuatu terjadi atau pada saat saya ingin mendapatkan jawaban atas doa-doa saya, ada kalanya saya membayangkan kira-kira kalau Tuhan bisa berbicara dengan saya, apa yang akan Dia jawab? Hal itu cukup membantu saya untuk memahami pribadi Tuhan bagi kehidupan rohani saya.

Sebagai seorang anak bungsu, saya tidak selalu mendapatkan apa yang saya inginkan, mengingat saya memiliki seorang kakak perempuan. Mungkin menurut pendapat orang tua saya, saya bisa memakai satu barang bergantian dengan kakak perempuan saya. Tetapi, ada kalanya orang tua saya juga ingin memberikan sesuatu yang saya inginkan.

Pada saat orang tua saya hendak membelikan sesuatu untuk saya, mereka biasanya akan meminta saya untuk memilih satu barang yang paling saya inginkan. Sebagai seorang anak, tentu semua mainan dan atau peralatan sekolah yang ada di toko itu menarik untuk saya. Sehingga akan sangat membingungkan bagi saya menentukan salah satu yang paling saya inginkan.

Biasanya, orang tua saya akan mengarahkan saya untuk membeli barang yang paling saya butuhkan pada saat itu. Dan saat saya menjadi semakin bingung, maka saya akan meminta orang tua saya untuk memilihkannya untuk saya. Tetapi, orang tua saya akan tetap meminta saya yang menentukan barang yang ingin saya beli.

Setelah saya menetapkan pilihan dan orang tua saya yakin bahwa saya benar-benar sudah mantap dengan pilihan saya, maka orang tua saya akan membawa barang itu ke kasir untuk membayar, dan barang tersebut akhirnya menjadi milik saya.

Kita sebagai anak-anak Tuhan, seringkali memiliki banyak keinginan. Namun Tuhan berkata didalam FirmanNya, bahwa Dia akan memenuhi segala kebutuhan kita (Filipi 4:19 “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaanNya dalam Kristus Yesus“). Jadi, selama yang kita minta itu kebutuhan kita, maka Tuhan berjanji Dia akan memberikan bagi kita.

Pada saat kita meminta beragam kebutuhan kita, ada kalanya situasi dan kondisi nyata yang kita hadapi membuat kita tiba-tiba menjadi tidak yakin bahwa Tuhan akan memenuhi kebutuhan kita itu. Akibatnya, kita menjadi bingung. Didalam kebingungan, seringkali membuat kita kemudian menjadi pasrah dan berpikir Tuhan saja yang menentukan pilihan bagi kita

Pasrah realitanya seringkali membuat kita mengikuti arus yang tidak jelas arahnya, sehingga membuat hidup kita yang sudah dalam keadaan kacau menjadi semakin kacau. Firman Tuhan berkata bahwa hidup kita ini oleh iman (Ibrani 10:38 “Tetapi orangKu yang benar akan hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya“). Dengan kata lain, Tuhan ingin kita berserah kepadaNya, namun kita juga diberikan otoritas untuk menentukan pilihan kita, dan kemudian yakin bahwa Tuhan pasti akan menjawab.

Pola pikirnya adalah selama yang kita minta itu suatu kebutuhan, dan kita yakin dapat bertanggung jawab atas permohonan kita, maka Tuhan pasti akan memberikannya bagi kita. Namun, selama kita sendiri masih belum yakin dengan yang hendak kita minta, maka Tuhan pasti akan menunggu kita sampai yakin dan mantap dengan pilihan kita.

Situasi dan kondisi mungkin memberitahukan kepada kita bahwa kita tidak mungkin mendapatkan permohonan kita. Atau mungkin keadaan membuat kita berpikir ulang untuk bisa bertanggung jawab atas apa yang hendak kita minta. Namun, pada saat kita benar-benar mantap dengan yang kita minta, dan kita tetap fokus pada yang kita inginkan, maka kita sedang bertindak seolah-olah kita juga meyakinkan Tuhan bahwa kita tidak akan mengecewakanNya dengan pilihan kita.

Pada saat kita menjadi mantap dengan yang kita minta atau dengan pilihan kita, maka Tuhan akan bekerja dan memberikan jawaban yang terbaik atas doa kita selama ini.

Sama seperti orang tua yang akan segera melarang anak-anaknya menyentuh benda-benda yang berbahaya, demikian juga Tuhan tentu juga akan segera menghentikan langkah kita agar kita tidak memijakkan kaki di tempat yang berbahaya. Dalam hal ini, kita tidak perlu kuatir Tuhan akan membiarkan kita menentukan pilihan yang salah. Ijinkan Tuhan untuk tetap memegang kendali atas kehidupan kita! Tetapi, kita juga harus memiliki sikap yang teguh didalam iman kita (Yakobus 1:6-7 “Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan“).

Didalam perjalanan, ada kalanya kita mungkin harus mengubah arah langkah kita, tetapi yang pasti kita harus memantapkan tujuan kita. Mengubah arah langkah bukan berarti kita kehilangan keyakinan bahwa kita bisa sampai ke tujuan, melainkan bersikap tidak memaksakan diri untuk menerobos bahaya, tentu ada pilihan jalan yang lebih baik untuk tiba di tujuan dengan selamat.

Berjalan bersama Tuhan seringkali harus melalui jalan yang sempit, tetapi selagi kita bisa berjalan, teruslah berjalan! Memiliki iman bukan berarti kita hidup dalam keadaan pasrah, melainkan kita juga harus mampu bersikap teguh didalam iman. Mantapkan pilihan kita! Yakin bahwa kita bisa bertanggung jawab atas pilihan kita! Selanjutnya, Tuhan yang akan memberikannya untuk kita! Dan kita akan menerima keajaibanNya.

Tuhan memberkati!

20140206-173336.jpg

Rahasia Agar Menerima

Banyak orang secara tidak sadar sering berpikir bahwa orang yang lebih mampu berkewajiban memberi orang yang kurang mampu, dan orang yang lebih mampu tidak seharusnya menerima pemberian orang yang kurang mampu (Ibrani 7:7 “Memang tidak dapat disangkal, bahwa yang lebih rendah diberkati oleh yang lebih tinggi“). Tetapi, yang menjadi masalah adalah seringkali perilaku ini membuat banyak orang yang kurang mampu mengharapkan pemberian orang yang lebih mampu.

Firman Tuhan didalam Amsal 11:24-25 berkata “Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan. Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum“. Sebuah rahasia yang diungkapkan oleh Firman Tuhan adalah bila kita ingin banyak menerima, maka kita harus banyak memberi.

Bagi orang yang lebih mampu mungkin memberi merupakan hal yang mudah, tetapi bagi orang yang kurang mampu, memberi merupakan hal yang paling sulit.

Menerima sebuah pemberian bukan berarti kita sedang berlaku tidak memahami kondisi orang lain, melainkan kita sedang mengijinkan seseorang untuk menabur benih kelimpahan

Pada suatu hari, seorang teman yang sedang mencari pekerjaan ingin memberkati saya dengan membayar makan siang saya. Posisi saya pada saat itu adalah sebagi pekerja, yang secara logika seharusnya keuangan saya lebih baik daripada seorang teman itu.

Selama ini saya tidak pernah mengijinkan seorang teman itu mengeluarkan uang untuk makan siangnya bersama saya. Walau pun ada kalanya dia membayar makan siangnya sendiri, namun saya tidak pernah mengijinkan dia untuk membayar makan siang saya.

Sampai pada saat itu, didalam hati kecil saya seolah-olah berbisik agar saya mengijinkan seorang teman itu memberkati saya, agar dia nantinya juga diberkati. Awalnya saya ragu, tetapi karena seorang teman itu berkata ingin memberkati saya, maka saya mengijinkannya untuk membayar makan siang saya. Dan benar saja, tak lama saya mendengar kabar baik kalau dia mendapatkan pekerjaan.

Saya tahu bahwa seorang teman itu memberi bukan dari kelebihannya, melainkan dari kekurangannya. Seorang teman itu tidak memberi banyak untuk saya, dan saya juga tidak melihat harga yang dia bayarkan, tetapi yang saya lihat adalah dia sedang menabur benih. Saya mengijinkan seorang teman itu memberi, agar dia juga diberi.

Seringkali kita sebagai seorang yang lebih mampu mungkin merasa tidak tega bila kita mengijinkan seseorang yang kurang mampu membayar makan siang kita. Atau seringkali kita melihat harga yang diberikan oleh seseorang dan merasa tidak perlu menerima pemberian apa pun dari seseorang itu, karena kita bisa membeli sendiri, bahkan yang lebih bagus.

Realitanya, bila kita mengerti bahwa orang lain juga perlu diberkati, maka alangkah baik bila kita tidak sekedar memberkati orang lain itu, tetapi juga mengijinkan orang lain yang mungkin kita pandang kurang mampu untuk memberi.

Ubahlah sudut pandang bahwa pemberian itu sebagai sebuah kewajiban dan menerima itu sebagai sebuah hak!

Ada cerita seorang yang dulunya hidup serba berkecukupan, namun pada suatu hari dia mengalami sebuah bencana yang membuat kehidupannya menjadi serba kekurangan. Ada begitu banyak orang yang selalu ingin memberikan bantuan karena dahulu mereka juga pernah menerima pemberian dari seseorang itu.

Tetapi, pemberian membuat dia akhirnya berpikir bahwa saat ini adalah waktunya dia menerima, sehingga dia tidak pernah lagi berusaha untuk memberi. Celakanya, saat tidak ada orang yang memberi, dia justru mengharapkan pemberian orang lain yang ada disekitarnya.

Kita juga tetap harus bijaksana didalam memberi, dalam arti tidak semua yang kita miliki harus diberikan kepada orang lain. Tetapi, kita juga tidak boleh memaksa orang lain untuk memenuhi permintaan kita hanya karena dahulu kita sudah sering memberi.

Selama kita hidup, selalu ada waktu untuk memberi dan selalu ada waktu untuk menerima. Tidak selama-lamanya kita memberi dan tidak selama-lamanya kita menerima. Walau pun dahulu menurut kita sudah terlalu sering memberi, bukan berarti saat ini kita harus sering menerima dan berhenti memberi.

Akhir kata, memberi dan menerima merupakan salah satu paket yang melengkapi kehidupan kita. Ada waktu kita harus memerhatikan kebutuhan kita terlebih dahulu, ada waktu kita memberi, dan waktu-waktu itu hanya kita yang tahu. Tidak semua orang yang lebih mampu harus selalu memberi, dan tidak semua orang yang kurang mampu harus selalu menerima.

Firman Tuhan tetap mengajarkan pada kita bahwa rahasia hidup berkelimpahan adalah memberi. Jadi, berilah kesempatan pada orang lain untuk memberi, dan berilah kesempatan pada diri sendiri untuk memberi!

Tuhan memberkati!

Sungkan

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, ‘sungkan’ bisa berarti rasa enggan atau rasa malas, merasa tidak enak hati, dan menaruh rasa hormat atau segan. Biasanya, kata ‘sungkan’ lebih sering digunakan untuk menyatakan rasa tidak enak hati atau malu, misalnya saja kita merasa sungkan menerima secara terus menerus pemberian seseorang, atau kita merasa sungkan kalau terus menerus menumpang di rumah seseorang, dan masih banyak contoh yang lain.

Di sekitar kita, ada beragam orang dengan beragam pemikirannya tentang sungkan. Ada orang yang merasa rugi kalau sungkan, sehingga tidak pernah menolak pemberian. Ada orang yang sungkan, tetapi sebenarnya didalam hati menginginkannya, sehingga ada sebuah singkatan dari sungkan, yaitu sungguh-sungguh mengharapkan. Dan ada juga orang yang memang suka sungkan, mungkin karena tidak ingin merepotkan orang lain, atau memiliki sifat pemalu.

Seiring berjalannya waktu, semakin kita jarang menemui orang yang suka sungkan, apalagi bila seseorang sedang dalam keadaan terdesak. Ada orang-orang yang terdesak karena rasa lapar ditambah dengan kondisi dompet yang kosong, sehingga selalu menerima bila ditraktir. Ada orang-orang yang terdesak karena butuh bantuan, sehingga takkan menolak bila seseorang menawarkan bantuannya.

Kita perlu merasa sungkan dan kita tidak perlu merasa sungkan.

Kita tidak perlu merasa sungkan, apabila sesuatu itu menjadi hak kita. Sebagai contoh, kita tidak perlu merasa sungkan meminta sejumlah uang yang seharusnya dikembalikan pada saat kita membeli sesuatu dan kita melakukan pembayaran dengan memberikan sejumlah uang lebih dari harga barang yang kita beli, karena sejumlah uang kembalian itu hak kita. Berbeda bila kita memang ingin memberikan sejumlah uang yang seharusnya dikembalikan pada kita itu sebagai tips.

Kita tidak perlu merasa sungkan, apabila kita melakukan sebuah pekerjaan. Sebagai contoh, ada orang-orang yang merasa malu atau merasa sungkan menawarkan barang kepada orang lain untuk dijual sebagai bentuk sebuah usaha. Saat kita memiliki sebuah usaha, maka harus ada orang lain yang membeli produk kita, dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan, itulah yang dinamakan sebuah bisnis. Berbeda bila kita bekerja di sebuah perusahaan bukan milik kita, maka kita bisa memilih untuk berada di posisi yang bukan sebagai penjual, agar kita tidak perlu sungkan menawarkan sebuah produk ke orang lain.

Kita tidak perlu merasa sungkan, apabila kita yakin seseorang memang ingin memberi. Ada orang-orang yang sengaja berkorban untuk meluangkan waktunya membuat sesuatu atau membeli sesuatu karena ingin memberi kita. Bila kita menolak karena sungkan, maka tentu saja penolakan itu akan menyakiti hatinya. Kita memang tidak pernah tahu niat didalam hati seseorang. Tetapi, yang paling penting adalah kita tidak meletakkan harapan pada pemberian seseorang.

Kita tidak perlu merasa sungkan pada Tuhan. Ada orang-orang yang sungkan meminta pada Tuhan karena setiap hari selalu saja ada keinginannya. Tuhan tidak pernah menghukum saat anak-anakNya meminta sesuatu padaNya. Tetapi, ijinkan Tuhan untuk menentukan jawaban yang terbaik atas permohonan kita.

Disisi lain, kita perlu merasa sungkan apabila kita terus menerus menerima dan selalu mengharapkan pemberian. Ada waktunya memberi dan ada waktunya menerima. Pemberian itu selalu menyenangkan, apalagi bila kita tahu seseorang itu lebih mampu daripada kita. Tetapi, tahukah kita bahwa ada kalanya kita juga harus memberi? Kita akan lebih dihargai apabila kita juga memberi, bukan sekedar menerima.

Mengharapkan pemberian kadangkala dialami oleh setiap orang yang membutuhkan. Tetapi, masalahnya, ada orang-orang yang tidak mau melakukan apa-apa, selain meminta, karena terlalu nyaman dengan pemberian orang lain. Realitanya, mungkin anak kita memiliki pekerjaan yang mapan, mungkin saudara-saudara kita memiliki harta yang berlimpah, mungkin kekayaan orang tua kita tidak terbatas, tetapi perjuangan untuk bisa melakukan sesuatu, paling tidak untuk memenuhi kebutuhan hidup kita sendiri itulah yang dikatakan sebagai sebuah sikap mandiri. Kita harus ingat bahwa setiap orang memiliki kebutuhannya masing-masing, dan kita akan menjadi beban bagi orang lain pada saat kita mulai bergantung pada pemberian orang lain. Menjadi dewasa salah satunya adalah pada saat kita peka pada kondisi seseorang dan tidak membuatnya semakin terbeban oleh kebutuhan kita.

Kita perlu merasa sungkan, apabila kita tidak melakukan kewajiban kita. Sebagai contoh, ada orang-orang yang bisa tidak peduli pada saat jatuh tempo pembayaran harus dilakukan. Bila kita berhutang, maka sudah seharusnya kita membayar sesuai yang dijanjikan. Seandainya kita tidak bisa membayar, maka sebaiknya kita memberitahu orang yang bersangkutan, bukan mendiamkannya. Contoh lain, tak jarang kita melihat orang-orang yang menerima upah setiap bulannya, tetapi bersikap santai saat Pimpinan tidak hadir. Seharusnya kita merasa malu atau merasa sungkan, bila kita tidak bertanggung jawab atas kewajiban kita.

Kita perlu merasa sungkan, apabila kita bersikap memanfaatkan. Sebagai contoh, oleh karena seseorang berbaik hati hendak membayari kita makan, kemudian kita memilih semua makanan dan minuman yang termahal di restaurant itu. Seharusnya kita bisa bersikap lebih baik, dengan memilih makanan yang benar-benar kita inginkan dan kita butuhkan. Contoh lain, seseorang sudah berbaik hati mau meluangkan waktunya untuk memberikan bantuan untuk kita, maka ada batasan dimana kita tidak terus menerus memanfaatkan kebaikan hatinya itu.

Rasa sungkan seringkali perlu agar orang lain dapat memiliki respek atas hidup kita. Kita tidak pernah tahu isi hati seseorang, kita sulit membaca pikiran seseorang, dan kita tidak selalu tahu kebutuhan seseorang. Tetapi, kita tentu tidak ingin orang lain mengatakan bahwa kita orang yang ‘tidak tahu diri’, bukan? Itu sebabnya, kita perlu menjaga diri dari rasa sungkan yang tentunya tidak perlu berlebihan.

Rasa sungkan yang berlebihan dapat membuat orang lain terluka, atau dapat membuat orang lain menjadi jengkel dengan kita. Selain itu, memang benar, ada kalanya kita akan menderita bila kita merasa sungkan yang berlebihan.

Kita perlu hikmat, agar kita dapat memiliki sikap yang lebih baik, dan tahu kapan kita harus merasa sungkan atau kapan kita tidak perlu merasa sungkan.

Tuhan memberkati!

Tuhan Itu Baik

Sudah lama saya ingin menuliskan artikel ini, saya ingin mengatakan kepada semua orang bahwa Tuhan itu baik. Tetapi, saya lebih sering mendengar dari mami saya bahwa Tuhan itu baik, dan walau pun saya tahu Tuhan itu baik, saya tidak dapat melihat sisi kebaikan Tuhan didalam hidup saya, sehingga saya belum benar-benar dapat merasakan bahwa Tuhan itu baik.

Seringkali saya mendengar cerita, baik dari kakak saya, mau pun dari suami saya, dan dari teman-teman saya, bahwa mereka mendapatkan sesuatu dari keinginan yang bahkan belum pernah mereka katakan pada siapa pun juga, tetapi mereka mendapatkannya. Sungguh menakjubkan menurut saya.

Pada suatu hari, papi saya mendapatkan sebuah kiriman terang bulan atau martabak manis dari seorang temannya, dan kakak saya berkata bahwa baru saja dia berpikir, “andai saja bisa makan terang bulan malam ini“. Sedangkan saya, seringkali hal-hal yang saya inginkan tidak terjadi, atau saya harus berdoa dalam waktu yang sangat lama untuk mendapatkan yang saya inginkan.

Saya tahu dan mengerti bahwa Tuhan memberikan yang terbaik didalam hidup saya. Tetapi, masalahnya, yang ada didalam pikiran saya adalah yang saya inginkan jarang terjadi, sehingga saya berpendapat Tuhan tidak sayang saya. Buktinya, Tuhan hanya memerhatikan keinginan orang lain, dan mengabulkan bahkan sebelum seseorang itu memintanya. Sedangkan pada saat saya berdoa, butuh waktu lama untuk saya melupakan keinginan saya itu, bukan untuk mendapatkannya.

Kemudian saya belajar dari cara seseorang berjuang untuk mendapatkan yang diinginkannya, saya belajar dari cara seseorang beriman, saya belajar dari cara seseorang berdoa, dan saya juga belajar memahami keinginan Tuhan atas hidup saya. Dan lagi-lagi, saya menemukan kalau Tuhan itu pilih kasih, dan Tuhan itu tidak sayang saya.

Sampai pada suatu hari, saat saya mengalami sebuah persoalan yang sangat berat, saya berpikir bahwa tidak akan pernah ada mujizat didalam hidup saya, saya harus berjuang sendiri agar persoalan saya selesai, atau kemungkinan besar saya tidak akan pernah mendapatkan jalan keluar untuk persoalan saya ini, seumur hidup saya akan selalu berhadapan dengan kesulitan ini. Saya benar-benar lelah berdoa dan lelah untuk tetap beriman.

Walau pun saya merasa lelah, namun didalam hati kecil saya selalu terusik dengan pertanyaan, “Bagaimana mami saya bisa mengatakan Tuhan itu baik saat tubuhnya harus berjuang melawan penyakit kanker? Apa yang sudah dialaminya?“.

Ketidakpercayaan bahwa mujizat akan datang membuat persoalan tidak membaik. Dulu, dalam keadaan terdesak, sikap saya akan menyerah, kemudian sambil marah saya akan berkata, “Baik Tuhan, terserah apa mauMu, apa dayaku melawan Engkau?“. Tetapi, tidak untuk saat ini, saya berharap saya dapat melihat kebaikan Tuhan didalam hidup saya. Dengan nafas yang sesak, dan pikiran yang tidak tahu harus memikirkan apa, saya berkata, “Tuhan, bukankah Engkau Tuhan yang baik?“.

Kepala saya mengatakan, “Baiknya Tuhan dimananya?“, tetapi mulut saya berkata, “Tuhan, Engkau baik“. Dengan segera saya membantah pikiran saya sendiri dengan mengatakan bahwa sekali pun Tuhan tidak menjawab doa saya, Dia tetap baik.

Saya mencoba berdiri di sebuah sudut pandang yang berbeda.

Ada begitu banyak doa, yang seandainya Tuhan jawab, saya juga belum tentu senang dengan jawabanNya. Manusia memiliki kecenderungan tidak pernah bisa puas. Coba kita pikirkan, seandainya saja kita minta sesuatu pada seorang teman, dan seorang teman itu memberikannya pada kita, maka belum tentu kita puas dengan pemberian seorang teman itu, kita akan selalu ingin lebih.

Seorang teman yang selalu bisa memberikan semua yang kita inginkan, akan membuat kita dengan mudah berkata bahwa seorang teman itu baik. Tetapi, sebagaimana kita tidak bisa menyenangkan hati semua orang, maka semua orang pun tidak akan bisa menyenangkan hati kita. Selalu ada peluang bagi kita untuk protes. Lalu apakah kita akan bersikap adil bila mengatakan seorang teman itu tidak baik saat dia berkata “tidak” pada sebuah permohonan kita, setelah semua permohonan kita sebelumnya selalu dijawab “iya” olehnya?

Manusia berbeda dengan Tuhan, Tuhan mendengarkan permohonan kita, tetapi Tuhan juga mengerti sisi baik dan sisi buruk bila Dia menjawab permohonan kita. Tuhan selalu menginginkan kita berhadapan dengan sisi baik. Sehingga pada saat Dia menjawab permohonan kita itu berarti baik, dan pada saat Dia tidak menjawab permohonan kita itu juga berarti baik.

Ada kalanya, kita memiliki keinginan yang sama dengan seorang teman, tetapi seorang teman berhasil mendapatkan yang diinginkannya itu, dan kita tidak berhasil mendapatkannya. Apakah kita perlu merasa iri?

Sebuah ilustrasi sederhana mungkin dapat membantu kita. Coba bayangkan keinginan kita dan seorang teman itu adalah memiliki sebuah kertas kado yang cantik. Seandainya saja, kertas kado yang cantik itu ada di tangan kita dan di tangan seorang teman, kira-kira ditangan siapa kertas kado itu akan benar-benar dapat digunakan dengan baik?

Mungkin di tangan kita kertas kado itu hanya akan sekedar disimpan dengan baik. Sedangkan oleh seorang teman, kertas kado yang cantik itu akan digunakan untuk membungkus sebuah hadiah untuk ulang tahun pernikahan orang tuanya. Pada akhirnya, kertas kado itu mungkin akan sama-sama dibuang, tetapi kertas kado sudah digunakan dengan benar bila ada di tangan seorang teman.

Filipi 4:19 berkata “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaanNya dalam Kristus Yesus“, yang berarti tidak ada kebutuhan kita yang tidak Tuhan cukupkan. Jadi, Tuhan itu baik, karena Dia menaruh perhatian terhadap kebutuhan kita.

Seumur hidup saya, tidak pernah ada satu pun persoalan yang saya hadapi yang tidak memiliki jalan keluar. Itu berarti, Tuhan selalu menepati janjiNya bahwa persoalan yang kita alami tidak akan melebihi kekuatan kita. Padahal, ada begitu banyak janji yang mungkin kita katakan pada Tuhan, seandainya Dia menjawab kita, maka kita akan melakukan sesuatu untukNya, tetapi apakah semua janji bisa kita penuhi? Tuhan itu baik, Dia tetap setia memenuhi janjinya pada kita, orang-orang yang seharusnya lebih pantas menerima hukuman.

Saya tidak memiliki alasan lagi untuk mengatakan Tuhan itu jahat. Kita semua, tidak memiliki alasan berkata Tuhan itu jahat. Setiap hari, selalu ada berkatNya untuk kita. Tuhan itu baik dan akan selalu baik bagi kita.

Tuhan memberkati!

20131010-175323.jpg