Menjadi Lebih Baik

Jangan bangga dulu bila ada seseorang yang sudah lama tak berjumpa dengan Anda dan berkata “Wah… kamu tetap saja ya...”! Jangan terburu-buru berpikir negatif bila seseorang yang lain berkata “Wah…kamu sekarang berubah ya…“! Agar tidak terjadi salah paham, sebaiknya Anda tanyakan terlebih dahulu, “Bagian mana dari diri Anda yang tetap saja?“, dan atau “Bagian mana dari diri Anda yang mengalami perubahan?“.

‘Tetap saja’ dapat berarti seseorang ingin berkata kita ini awet muda yang mana setiap orang tentu senang bila dibilang ‘awet muda’; tetap cantik atau tetap ganteng; atau tetap langsing yang mana kata ‘langsing’ sangat disukai oleh kaum hawa. Sebaliknya, bila ‘tetap saja’ itu berarti sama sekali tidak ada perubahaan apa-apa didalam diri kita, maka kita perlu bertanya kepada diri kita sendiri, setelah sekian lama hidup di muka bumi ini, apa saja yang sudah kita pelajari? Dan mengapa tidak terjadi perubahan apa-apa didalam diri kita?

‘Berubah’ dapat berarti kita menjadi semakin cantik atau semakin ganteng, itu berarti paling tidak secara penampilan kita sudah menjadi semakin lebih baik. Selain itu, ada perubahan apalagi? Apakah menjadi semakin lebih baik atau semakin lebih buruk? Jangan lupa juga untuk memastikan bahwa semakin lebih baik yang dikatakan seseorang itu benar-benar lebih baik dalam arti yang sebenarnya!

Ada seorang teman yang saya temui setelah hampir empat tahun lamanya kami tidak pernah bertemu, keadaannya masih saja tetap sama, mulai dari pekerjannya, kemudian penampilannya, pakaian yang dulu sering dikenakannya sekarang juga masih dia kenakan lagi sehingga warnanya terlihat sudah semakin pudar, dan dari cara dia berbicara saya dapat mengetahui bahwa dia masih saja menyimpan sakit hati yang sama dengan orang yang sama, dia masih saja menggunakan cara berpikir yang sama, dia masih saja memiliki sudut pandang yang sama tentang segala sesuatu.

Sedangkan seseorang yang saya ketahui sangat dibenci oleh seorang teman ini sudah mengalami begitu banyak perubahan didalam hidupnya, yang dulunya sangat menjengkelkan, sekarang sudah menjadi sangat dewasa dan menyenangkan. Menurut saya, sungguh sangat sia-sia bila seorang teman itu masih saja menyimpan sakit hati yang sama, dia tidak bisa ‘move on’, dan tentu hidupnya takkan nyaman.

Menjadi lebih baik secara fisik itu mudah, kita cukup mengganti penampilan kita dengan cara belajar merias diri dan mengganti pakaian, tas, atau sepatu dengan yang baru. Asalkan kita mengikuti perkembangan mode, kita dapat mengalami perubahan sesuai masanya.

Tetapi, yang dikatakan menjadi lebih baik itu sebenarnya tentang ‘dari dalam keluar’. Saat yang ada didalam diri kita menjadi lebih baik, maka keluarnya pun akan menjadi lebih baik.

Untuk mengalami sebuah perubahan, kita perlu melihat mulai dari dalam diri kita sendiri sampai ke sekeliling kita.

Menurut kita, adakah sesuatu yang ada didalam diri kita yang perlu mengalami perbaikan? Kita perlu mengenali dan mengakui apa yang ada didalam hati dan pikiran kita. Seringkali kita tahu bahwa apa yang ada didalam pikiran dan hati kita itu tidak baik, tetapi kita membuat begitu banyak alasan untuk membenarkan diri kita sendiri. Bila kita dengan jujur mengakui bahwa pikiran dan hati kita itu tidak baik, maka kita dapat melakukan langkah-langkah perbaikan. Selama kita masih memiliki alasan untuk tetap menyimpan sesuatu yang tidak baik didalam hati dan pikiran kita, maka kita tidak akan pernah mampu melangkah untuk memperbaikinya.

Setelah kita mengerti bahwa ada hal-hal yang perlu kita perbaiki didalam diri kita, maka kita kemudian dapat melihat apakah lingkungan sekitar kita dapat memberikan dukungan yang baik bagi kita? Tidak semua teman dapat mendukung kita untuk melakukan hal-hal yang baik. Sebagai contoh, kita memiliki sakit hati terhadap seseorang, sedangkan teman-teman kita adalah orang-orang yang juga sama-sama suka menyimpan sakit hati, apalagi bila teman-teman kita juga menyimpan sakit hati dengan orang yang sama, dan kemudian setiap kali bertemu selalu saling menceritakan tentang keburukan seseorang itu, maka selanjutnya kita tidak akan pernah bisa berhenti sakit hati. Kita harus berani keluar menuju ke lingkungan dengan orang-orang yang positif, yang memiliki pemikiran yang baik dan positif, yang dapat membantu kita untuk mengampuni dan membantu kita untuk menemukan hal-hal yang positif yang ada didalam diri kita.

Kita tidak akan pernah bisa merasa puas dengan penampilan luar kita, meski pun kita sudah mengeluarkan banyak uang untuk membeli barang-barang yang mahal untuk kita kenakan, apabila kita tidak memperbaiki apa yang ada didalam diri kita, khususnya hati dan pikiran kita. Sebaliknya, saat kita sudah memperbaiki apa yang ada didalam diri kita, maka penampilan sesederhana apa pun akan membuat kita tampil begitu sangat mempesona.

Saat kita memperbaiki apa yang ada didalam diri kita, kita juga akan memiliki cara pandang yang berbeda tentang orang lain dan segala sesuatu. Saat kita memperbaiki apa yang ada didalam diri kita, pengenalan dan pemahaman kita akan Tuhan juga akan diubahkan. Segala sesuatu yang ada di sekitar kita akan berubah menjadi lebih baik seiring dengan perubahan yang ada didalam diri kita. Dan kita baru akan dapat memahami segala perubahan yang terjadi bila kita melewati proses perubahan diri kita.

Tidak semua orang akan memahami dan mau mengakui perubahan yang baik yang terjadi didalam diri kita, tetapi kita dapat memahami mengapa orang lain mengalami perubahan dan atau mengapa orang lain tidak mengalami perubahan. Pastinya, bila kita mengalami perubahan yang lebih baik, kita tidak akan dengan mudah menghakimi orang lain.

Tuhan memberkati!

20150317-161846.jpg

Iklan

Kain Pel

Sebenarnya, saya sangat suka menggunakan kain pel biasa untuk membersihkan lantai, karena sudut-sudut ruangan akan jadi lebih mudah di jangkau. Tetapi, pada saat saya sudah menikah, suami saya memberikan saran kepada saya untuk menggunakan alat pel agar saya tidak menjadi terlalu lelah mengerjakan pekerjaan rumah.

Pada suatu hari, alat pel yang saya miliki itu pengaitnya patah. Kondisi alat pel yang saya miliki itu sebenarnya masih bagus dan kami belum sempat mencari yang baru, maka untuk sementara saya menggunakan tali untuk menyambungkan antara kain pel dengan tongkatnya sehingga alat pel tersebut akhirnya dapat digunakan kembali.

Beberapa hari kemudian, suami saya membelikan saya alat pel dengan model yang baru, yang menurut saya jauh lebih bagus dan akan jauh lebih meringankan pekerjaan saya di rumah, daripada alat pel yang saya miliki sebelumnya. Saya sangat senang karena ternyata suami saya benar-benar mencintai saya dan selalu memikirkan untuk memberikan yang terbaik untuk saya.

Tetapi, mungkin karena terlalu senang dan menurut saya alat pel itu memang bagus, tiba-tiba saya merasa sayang kalau harus mengganti alat pel saya dengan yang baru, sehingga dalam beberapa hari, saya masih saja menggunakan alat pel yang lama.

Butuh waktu selama beberapa hari bagi saya berpikir dan akhirnya memutuskan untuk menggunakan alat pel yang baru dan membuang alat pel yang lama. Padahal… Setelah saya menggunakan alat pel yang baru, pekerjaan saya benar-benar menjadi lebih ringan dan waktu saya untuk bekerja pun menjadi lebih singkat.

Sebagaimana seperti pada cerita tersebut di atas, seringkali didalam hidup ini, kita meminta-minta berkat Tuhan, tetapi kita masih memertahankan sikap atau cara pandang yang lama.

Sebagai contoh, saat kita memulai sebuah usaha, awalnya mungkin kita akan memiliki lebih banyak waktu luang karena mungkin tidak banyak pelanggan yang datang. Kemudian kita berdoa agar Tuhan mengirimkan pelanggan agar usaha kita mengalami kemajuan. Pada saat Tuhan mengirimkan pelanggan, tentu saja waktu yang kita miliki untuk bersantai akan menjadi berkurang. Tetapi, ada juga diantara kita yang dengan atau tanpa sadar seolah-olah lebih memilih untuk tetap bersantai, daripada meningkatkan kapasitas diri untuk melayani pelanggan yang sudah Tuhan kirimkan.

Contoh yang lain, didalam kehidupan ini, kita ketahui ada orang-orang yang terbiasa hidup bergantung dengan orang lain, terbiasa di traktir, terbiasa menumpang, terbiasa dibayari. Tetapi, ternyata orang-orang ini juga ingin diberkati Tuhan, dengan harapan di kemudian hari mereka dapat menjadi lebih mandiri. Setelah berdoa, tak lama kemudian Tuhan memberikan mereka pekerjaan, sehingga akhirnya mereka memiliki penghasilan sendiri dan bahkan ada diantara mereka yang dapat menabung. Seharusnya, mereka sudah bisa hidup mandiri, tetapi karena mereka masih memertahankan sikap hidup yang lama, maka mereka akhirnya bersikap seolah-olah lebih suka menggantungkan hidup mereka kepada orang lain.

Tak heran bila akhirnya di kemudian hari doa mereka mungkin akan sulit mendapat jawaban. Bukan karena Tuhan jahat atau karena Tuhan tidak mau mendengar, melainkan Tuhan ingin kita memiliki sikap yang bertanggung jawab dan sikap yang siap dengan jawaban dari apa yang kita minta.

Tak heran bila akhirnya orang-orang di sekitar mereka tak lagi menaruh simpati atas kesusahan mereka di kemudian hari, karena orang-orang di sekitar mereka juga lama-lama akan menjadi lelah memberikan bantuannya kepada mereka yang tidak mau berubah, sedangkan orang-orang di sekitar mereka juga memiliki kebutuhan dan kesusahan yang mungkin mereka tidak tahu, atau bahkan mungkin ada diantara mereka yang tahu kalau orang-orang di sekitar mereka juga susah, tetapi mereka bersikap seolah-olah tidak mau tahu.

Kalau kita menginginkan sesuatu yang baru terjadi, maka kita harus siap dengan segala perubahannya. Tidak ada sesuatu yang lebih baik itu akan membuat kita menjadi tetap sama seperti sebelumnya.

Sebagai contoh, kalau kita ingin memiliki anak, maka kita harus siap untuk menjadi lebih sibuk di rumah, kita harus siap dengan pengeluaran yang lebih banyak, dan juga harus dapat penyesuaian diri dengan hadirnya seorang anggota keluarga yang baru.

Kalau kita ingin menikah, maka kita harus siap untuk lebih mandiri, kita harus siap untuk menghadapi hal-hal yang mungkin selama ini orang tua kita yang memghadapinya, kita harus siap untuk menjadi jembatan diantara keluarga besar dan keluarga kecil kita, kita harus siap berbagi dengan pasangan hidup kita, dan kita harus siap untuk mengalami berbagai perubahan sebagai bentuk penyesuaian diri.

Kalau kita ingin karir dan pekerjaan kita mengalami peningkatan, maka kita harus siap dengan kesibukan, kita harus siap dengan waktu kerja yang lebih panjang, kita harus siap untuk menjadi lebih capek, dan bahkan kita harus siap dengan pemotongan pajak penghasilan yang lebih besar.

Dan masih ada begitu banyak contoh yang lainnya, karena beragam orang memiliki beragam kebutuhan dan keinginan. Tetapi yang pasti, sesuatu yang baru dan yang lebih baik tidak akan terjadi tanpa adanya perubahan.

Sesuatu yang baru dan sesuatu yang lebih baik diberikan Tuhan untuk kita, agar kita menjadi lebih dewasa dan lebih mandiri. Tuhan suka anak-anakNya diberkati. Tuhan tidak suka membuat malu anak-anakNya. Tuhan ingin anak-anakNya menjadi berkat. Jadi, milikilah sikap yang dewasa, berusahalah untuk memiliki disiplin dan tanggung jawab, paling tidak atas diri kita sendiri terlebih dahulu!

Tuhan memberkati!

20150202-170449.jpg