Menghargai

Sudah lama saya belajar untuk menghargai segala sesuatu yang saya miliki dan semua orang yang berada di dekat saya. Tetapi, prakteknya memang tidak semudah pemikiran saya. Ada kalanya saya berpikir saya sedang menghargai sesuatu atau ada kalanya saya berpikir saya sedang menghargai seseorang, tetapi realitanya saya sedang menyia-nyiakan sesuatu dan realitanya ada juga seseorang yang merasa saya tidak sedang menghargai kehadirannya.

Kita memang tidak bisa selalu menyenangkan hati semua orang. Tetapi, sama seperti kita bisa merasakan bahwa seseorang sangat menghargai kehadiran kita, maka seseorang juga bisa merasakan apakah kita benar-benar menghargai kehadirannya. Hanya sesederhana itu.

Walau pun saya adalah seorang anak bungsu, tidak semua yang saya inginkan bisa terwujud. Bahkan menurut saya, untuk mendapatkan sesuatu yang saya inginkan itu sangat tidak mudah. Sehingga pada saat saya bisa memiliki, saya akan sangat berhati-hati dengan barang itu, saya akan menyimpannya dengan sangat baik, dan besar kemungkinan saya akan jarang menggunakan barang itu, karena saya takut barang itu nanti rusak atau terjadi sesuatu yang buruk. Setelah saya pikir-pikir, pada akhirnya barang itu pun ada masanya harus saya buang begitu saja.

Berbeda dengan suami saya, saat dia memiliki barang yang sangat diinginkannya, maka dia akan berhati-hati dengan barang itu, dia akan menyimpannya dengan baik, dan dia akan menggunakannya sesering mungkin, bahkan mungkin sampai barang itu sudah terlihat tidak bagus lagi, baru dia akan merasa puas karena sudah menggunakannya dengan maksimal.

Beberapa kali saya mengatur waktu untuk bertemu dengan teman dekat saya. Saat bertemu dengan mereka, saya berusaha untuk tidak sekali pun melihat pesan atau bermain dengan handphone saya. Mungkin sesekali saya akan melihat, barangkali ada pesan yang penting. Tetapi, bagi saya kehadiran seseorang yang ada di dekat saya saat itu, jauh lebih penting dan waktu-waktu kebersamaan kami bagi saya itu sangat berharga. Saya akan berusaha untuk memerhatikan cerita teman dekat saya, walau pun mungkin sangat membosankan.

Berbeda dengan beberapa orang teman dekat saya, yang kelihatannya masih sangat sibuk dengan handphone nya, dan bahkan saya bisa tahu bahwa dia tidak benar-benar sedang mendengarkan cerita saya. Padahal, dia yang mengajak saya untuk bertemu dan untuk bertemu itu bagi saya sebenarnya tidak mudah, ada hal-hal yang seharusnya menjadi prioritas utama, akhirnya harus saya tunda agar saya bisa bertemu dengan teman dekat saya itu.

Ada pepatah yang mengatakan bahwa sesuatu atau seseorang itu akan terasa lebih berharga saat kita sudah kehilangan. Lalu, pertanyaannya, mengapa kita harus menghargai sesuatu atau seseorang saat sudah tidak ada? Bukankah akan lebih baik bila kita menghargai sesuatu atau seseorang saat masih ada?

Saya belajar, untuk menghargai sesuatu yang saya inginkan dan yang akhirnya saya bisa miliki, dengan cara saya akan menggunakannya sampai maksimal. Saya akan tetap berhati-hati, saya akan tetap merawat, tetapi sesuatu itu akan lebih berharga bila saya menggunakannya sesuai dengan fungsinya. Dengan demikian, saya juga menghargai diri saya sendiri dan atau orang lain yang sudah membeli untuk saya.

Saya menghargai sesuatu dengan memilih cara untuk tidak memiliki banyak, sebagai contoh pakaian, tas, dan sepatu, saya akan membeli secukupnya, agar saya memiliki waktu untuk menggunakannya dengan baik dan maksimal. Banyak yang saya inginkan, tetapi bila saya tidak memiliki waktu untuk menggunakannya, maka saya hanya akan menyia-nyiakan uang dan sesuatu yang sudah saya beli.

Saya menghargai seseorang yang ada di dekat saya, dengan pandangan tentang mereka yang berbeda, yang lebih baik. Tidak semua orang itu menyenangkan, tetapi mereka selalu bisa mengajarkan sesuatu pada kita, walau pun mungkin mereka bahkan tidak sadar kalau sedang mengajarkan sesuatu kepada kita.

Waktu berjalan terus dengan cepat. Tidak semua orang selalu akan memiliki waktu untuk kita dan jangan pernah berharap semua orang akan selalu ada untuk kita! Ada waktu dimana kita memiliki waktu atau kesempatan untuk mendengarkan. Ada waktu dimana giliran kita yang harus berbicara. Ada waktu dimana kita harus sibuk bekerja. Ada waktu dimana kita harus berada di rumah. Ada waktu dimana kita harus bepergian. Ada waktu dimana kita harus berpisah dengan teman-teman kita yang sekarang dan bertemu dengan teman-teman yang lainnya di tempat yang berbeda.

Jika saya bisa melakukan dan memberikan yang terbaik untuk orang lain, maka hal itu yang akan saya lakukan. Walau pun pasti ada kekurangan yang akan saya lakukan.

Saya belajar untuk menghargai suami saya dengan mendengarkan setiap perkataan dan ceritanya, saya menghargai setiap keinginannya walau pun ada keinginan yang tidak perlu dipenuhi, saya menghargai kesukaannya dan berusaha mengingatnya, saya menghargai waktu-waktu yang dia miliki dengan berusaha menahan setiap pembahasan yang sedang tidak ingin dia bicarakan, dan saya juga menghargai setiap kesalahannya dengan cara tidak mengungkit.

Demikian pula terhadap saudara dan sahabat saya, di saat saya bisa bertemu dan memeluk mereka, saya akan melakukannya untuk mereka.

Semua orang memiliki caranya sendiri untuk menghargai orang lain. Jika kita mengenal pribadi seseorang, maka kita akan mengetahui sesuatu yang seseorang itu sukai atau yang tidak sukai. Selanjutnya, kita akan lebih bisa bersikap menghargai seseorang itu dengan cara yang tepat dan menyentuh.

Amsal 27:7 “Orang yang kenyang menginjak-injak madu, tetapi bagi orang yang lapar segala yang pahit dirasakan manis“. Mungkin kita perlu merasa ‘lapar’ untuk bisa menghargai sesuatu atau seseorang, misalnya ‘lapar’ akan persahabatan, ‘lapar’ akan persaudaraan, karena dengan rasa ‘lapar’ kita bisa mengerti betapa berartinya sesuatu atau seseorang itu bagi kita.

Tuhan memberkati!

20150324-192746.jpg

Iklan

Anda Berhasil, Saya Berhasil

Oprah pernah berkata bahwa sudah biasa bila kita ikut bersedih saat orang lain sedang bersedih, tetapi sungguh luar biasa bila kita ikut senang saat orang lain sedang senang.

Firman Tuhan didalam Roma 12:15 juga mengajarkan kepada kita, “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis“.

Kecenderungan seseorang menjadi iri hati saat melihat orang lain sedang senang, dan apalagi bila melihat orang lain sedang mengalami kesuksesan. Kecenderungan seseorang menjadi iri hati saat melihat orang lain menerima suatu pemberian yang baik. Kecenderungan seseorang menjadi iri hati saat mendengar orang lain mendapatkan pujian.

Tak heran apabila kemudian didalam kehidupan ini, kita menjadi orang yang enggan berbagi ilmu dengan orang lain, enggan berbagi resep atau berbagi tips dengan orang lain, enggan berbagi ide dengan orang lain, enggan berbagi waktu dengan orang lain, dan enggan mendengarkan ‘curhat’-an orang lain.

Pada akhirnya, semua berfokus pada diri kita sendiri. Kecenderungan kita ingin mendapatkan kesenangkan kita sendiri, kita ingin selalu menjadi yang paling sukses, kita ingin mendapatkan sesuatu yang baik untuk diri kita sendiri, dan kita ingin pujian selalu terarah pada diri kita.

Tetapi, sadarkah kita, bahwa dibalik kesenangan kita, kesuksesan kita, segala sesuatu yang baik yang kita terima, dan segala pujian yang mungkin kita dapatkan saat ini, ada orang lain yang sudah rela berbagi ilmu dengan kita, ada orang lain yang rela berbagi resep atau tips dengan kita, ada orang lain yang rela berbagi ide dengan kita, ada orang lain yang bersedia membagi waktunya untuk kita, dan ada orang lain yang mau mendengarkan ‘curhat’-an kita yang mungkin sudah puluhan kali kita mengulangnya?

Setiap kali saya berhasil membuat masakan yang lezat, saya selalu ingat dengan suami saya yang selama ini tidak pernah sekali pun mengeluh tentang masakan saya. Saya sadar masakan saya memiliki banyak kekurangan, tetapi suami saya rela menelannya dengan selalu berkata “masakanmu lezat, terima kasih sudah memasaknya untuk saya“. Bisa dibayangkan, bila sejak pertama kali saya belajar memasak, suami saya sikapnya menertawakan saya atau tidak mau memakannya, mungkin saya akan lebih memilih untuk berhenti memasak dan saya tidak akan pernah bisa memasak, sesederhana apa pun masakannya.

Setiap kali saya berhasil melakukan sesuatu yang menurut saya tidak mudah, saya selalu ingat dengan teman-teman saya yang selalu meluangkan waktunya untuk mendengarkan ‘curhat’-an yang mungkin sudah saya ulang puluhan kali, dan mereka tidak pernah bosan memberikan masukan yang sama, yang mungkin mereka sudah tahu bahwa sebenarnya saya sudah mengerti. Bisa dibayangkan, bila saat saya datang, teman-teman selalu menghindar dan mungkin menyuruh saya lebih baik diam, mungkin saya tidak akan pernah berhasil melakukan sesuatu yang sebenarnya bisa saya lakukan.

Keberadaan saya dan keberhasilan saya saat ini tak pernah luput dari peran orang-orang yang setia dan orang-orang yang sabar dengan segala kekurangan saya. Bahkan seandainya saya melupakan orang-orang yang ada di sekitar saya pun, tidak akan mengubahkan kenyataan bahwa kesuksesan saya adalah kesuksesan orang-orang yang sudah berperan didalam kehidupan saya.

Banyak orang menjadi kecewa karena kebaikan hatinya, idenya, dan ilmu yang sudah dibagikan pada orang lain ternyata membuat orang lain tidak ingat lagi padanya. Padahal, kenyataannya, walau pun orang lain sudah berhasil, orang lain itu takkan pernah bisa mengubahkan peran seseorang didalam hidupnya.

Seorang sahabat bercerita kepada saya bahwa ada teman-teman yang saat ini selalu menerima pujian karena dianggap hebat didalam membuat sebuah foto atau video, tetapi tak ada seorang pun yang ingat atau tak ada seorang pun yang tahu kalau ilmu membuat sebuah foto atau video itu berasal dari seorang sahabat saya ini.

Tetapi, seorang sahabat saya ini tidak pernah menyesal, karena dia tetap menjadi orang yang lebih tahu kekurangan dari foto atau video karya teman-temannya itu. Dan itu berarti, seorang sahabat yang sudah rela berbagi ilmu ini mengerti bahwa ilmunya tidak hilang, tetapi kenyataannya dia tetap lebih pandai dari teman-temannya yang dianggap orang lain lebih sukses itu.

Tak ada orang yang ingin dirugikan. Berbagi lebih sering tidak memberikan keuntungan bagi kita. Tetapi, bila kita ingin memiliki hidup yang menguntungkan, tak ada pilihan selain membuat orang lain mengalami keberhasilan didalam hidupnya, dengan cara rela berbagi, atau ikut berpartisipasti atas kehidupan seseorang.

Berbagi atau berpartisipasi tidak harus selalu dengan memberikan uang. Kita bisa berbagi ilmu saat seseorang bertanya dan ingin belajar sesuatu dari kita. Kita bisa berbagi ide untuk membuat ide orang lain menjadi lebih baik. Kita bisa berbagi waktu untuk orang-orang yang mungkin hanya sekedar ingin cerita atau ingin mengungkapkan isi hatinya pada kita. Kita bisa berbagi cerita pada orang lain untuk memberinya semangat, atau mungkin hanya sekedar membuat orang lain merasa kehadirannya diinginkan.

Saat orang lain berhasil, dan kita ikut berpartisipasi, berbagi dengan yang ada pada kita, maka keberhasilannya adalah keberhasilan kita juga.

Jangan lupakan orang yang sudah berpartisipasti didalam hidup kita! Dan jangan terus menerus mengandalkan orang yang selalu berniat baik memberikan pertolongannya bagi kita! Karena kita juga harus berjuang untuk menjadi berhasil, sehingga keberhasilan kita bisa menjadi keberhasilan bagi orang lain juga.

Tuhan memberkati!

Sahabat

Apa arti seorang sahabat bagi Anda?

Menurut saya, seorang sahabat adalah seseorang yang dapat kita percayai untuk menjaga cerita kita, sehingga kita bisa merasa nyaman saat bercerita dengannya. Seorang sahabat adalah seseorang yang dapat menerima kita apa adanya dengan segala kekurangan kita, jadi tidak hanya baik pada saat semua sedang baik-baik saja, tetapi juga tetap bisa baik kembali pada saat terjadi pertengkaran atau salah paham. Seorang sahabat mampu bersikap bijaksana, berani menegur, dan juga mau membela.

Seorang sahabat tidak pernah mengatakan hal buruk dibelakang kita. Seorang sahabat tidak harus selalu bersama, tetapi pada saat bertemu ada keakraban yang bisa dirasakan oleh masing-masing pihak, karena rasa sayang dan sikap yang mau menerima dalam kondisi apa adanya tidak membuat seseorang merasa canggung satu dengan yang lain.

Dan menurut saya, sebutan ‘sahabat’ akan terjadi, bila masing-masing pihak memiliki hati sebagai seorang sahabat. Sahabat tidak akan terjadi bila seseorang yang satu hanya merasa sebagai seorang teman saja dan seseorang yang lain yang merasa menjadi seorang sahabat.

Seandainya, seseorang yang satu hanya merasa sebagai teman saja, maka pada saat terjadi kesalahpahaman, hubungan akan sangat cepat menjadi renggang. Sedangkan, pada saat kedua belah pihak atau lebih merasa bahwa mereka adalah sahabat, maka hubungan mereka akan menjadi jauh lebih dekat daripada hubungan hanya sebagai seorang teman biasa. Bahkan, ada begitu banyak sahabat yang menyebut sahabatnya sebagai saudaranya.

Seorang teman mengatakan kepada saya bahwa seseorang itu akan selalu bisa merasakan apakah kasih yang diterimanya dari orang lain itu tulus atau tidak. Apalagi bila kita seorang wanita, maka dengan mudahnya kita dapat membedakan sikap seseorang itu tulus atau tidak.

Ellena memiliki seorang teman yang disebutnya sebagai seorang sahabat bagi Ellena. Tetapi, teman Ellena itu hanya menganggap Ellena sebagai teman saja, karena dia belum merasa nyaman dengan Ellena, diketahuinya beberapa cerita justru diceritakan ke teman-teman yang lain oleh Ellena. Mungkin mereka memiliki hubungan yang cukup dekat, tetapi mereka tidak dapat dikatakan sebagai sahabat. Suatu hari nanti mungkin mereka bisa benar-benar menjadi sahabat, atau hubungan mereka mungkin menjadi renggang karena teman Ellena bisa saja mengambil keputusan untuk menjaga jarak.

Di kisah yang lain, Neilla memiliki seorang teman yang menyebut dirinya sebagai sahabat. Teman Neilla sangat memercayai Neilla, sehingga ada begitu banyak hal diceritakannya pada Neilla. Namun sayangnya Neilla tak dapat menyebutnya sebagai sahabat karena berbagai hal pemikiran Neilla mengenai kepribadian temannya itu. Setiap kali teman Neilla mengatakan “I love you dear Neilla”, Neilla tidak pernah membalasnya karena Neilla tidak menyayangi temannya itu sebagai sahabatnya. Cepat atau lambat, teman Neilla akan merasakan bahwa Neilla tidak benar-benar mengasihi dia sebagai seorang sahabat.

Yohanes 15:15 mengatakan “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Aku dengar dari Bapa-Ku”, yang berarti didalam Perjanjian Baru, Tuhan tidak ingin menyebut kita sebagai hamba, tetapi kita ini dianggapNya sebagai sahabatNya.

Sahabat menunjukkan hubungan yang lebih karib bila dibandingkan seorang hamba. Tuhan menyebut kita sebagai sahabatNya dengan alasan yang jelas, bahwa Tuhan sudah menceritakan berbagai rahasiaNya kepada kita. Seperti yang tersebut diatas bahwa seorang sahabat dapat dipercayai dan dapat mengetahui rahasia.

Di sisi lain, Yohanes 15:14 mengatakan “Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu”. Jadi, jika kita menganggap Tuhan juga sebagai sahabat, maka kita akan melakukan yang Tuhan perintahkan pada kita.

Persahabatan tidak akan terjadi apabila hanya ada satu pihak yang bersedia menjadi seorang sahabat dan pihak yang lain hanya sebagai teman biasa. Dan seseorang bisa merasakan apakah kasih sahabatnya itu benar-benar tulus atau tidak.

Tuhan sudah mengatakan bahwa kita adalah sahabatNya, tetapi hubungan persahabatan kita dengan Tuhan tergantung pada ketaatan kita. Bila kita menganggapNya sebagai sahabat, maka kita harus memilih untuk taat padaNya. Dan kasih kita pada Tuhan akan diketahuiNya. Itu sebabnya, sebaiknya kasih kita padaNya tulus, bukan hanya karena kita selalu membutuhkanNya, melainkan karena Dia Allah, yang sudah terlebih dahulu menganggap kita sebagai sahabat dan sudah mengasihi kita dengan tulus.

Demikian pula, bila kita mengasihi teman-teman kita sebagai sahabat, maka kasihilah sahabat kita itu dengan tulus, jangan hanya karena kita sedang membutuhkannya saja!

Tuhan memberkati.

**picture taken from:
http://withfriendship.com/user/boss/friendship.php

20131028-204506.jpg

Kedekatan Tanpa Batasan

Didalam kehidupan ini, setiap orang tentu mempunyai sahabat, setiap orang tentu mempunyai seseorang yang dapat dipercayai, setiap orang tentu mempunyai seseorang yang dapat diandalkan dan dimintai tolong atau dimintai pendapat. Karena realita didalam kehidupan ini kita memang tidak bisa hidup seorang dia. Sikap-sikap seseorang yang dapat dipercaya dan mau mempercayai, dapat dimintai pertolongan atau pendapat, cepat atau lambat akan menimbulkan suatu hubungan yang dekat.

Saya mempunyai beberapa orang sahabat yang saat ini tinggal di Surabaya dan ada juga yang tinggal di Jerman. Kami mungkin tidak terlalu sering menjalin komunikasi mengingat adanya kesibukan kami masing-masing. Tetapi ketika salah satu teman dekat saya atau saya sendiri, sedang mengalami masalah, maka kami masih saling memiliki rasa percaya untuk dapat menceritakan permasalahan yang sedang kami hadapi, memberikan pendapat kami, dan mendengar pendapat yang diberikan. Itulah sebabnya saya menyebutnya sebagai hubungan seorang sahabat atau teman dekat.

Mungkin Anda, Para Pembaca saat ini sedang dekat dengan seseorang, Anda sering bersamanya untuk berbelanja atau sekedar duduk minum kopi untuk berbisnis, bercerita, dan menyampaikan pendapat. Tentu kita sama-sama tahu, betapa penting arti seorang sahabat, seseorang yang dapat kita percayai, ajak untuk tukar pendapat, dan untuk kita berbagi kasih.

Bahkan, kedekatan hubungan kita, seringkali melampaui batasan-batasan yang ada, atau dapat dikatakan kedekatan hubungan kita dengan sahabat-sahabat sebagai hubungan tanpa batasan. Dan sayangnya hubungan tanpa batasan ini seringkali bersifat menjengkelkan.

Kedekatan tanpa batasan itu terjadi biasanya karena kita terlalu membuka diri dan membiarkan sahabat-sahabat kita mengatur segala pernak pernik kehidupan pribadi kita, sehingga tanpa sadar membuat sahabat-sahabat kita, atau bahkan diri kita sendiri terbiasa untuk mencampuri urusan pribadi kita.

Sebagai contoh, ada sebuah keluarga yang selama ini mempunyai hubungan yang sangat dekat satu dengan yang lain dan mereka selalu kompak. Sampai pada suatu waktu anak mereka menikah. Kemudian pada hari libur, anak itu merencanakan sebuah acara liburan bersama pasangannya dan tak lupa mengajak seluruh anggota keluarganya turut serta untuk menjalin hubungan sebagai sebuah keluarga besar yang sudah dipersatukan.

Oleh karena hubungan yang sangat dekat, satu pihak keluarga itu turut serta mengatur acara liburan, tanpa memikirkan bahwa pasangan anaknya juga mempunyai keluarga yang tentunya ingin terlibat dalam acara liburan tersebut. Bisa dibayangkan, hubungan kedekatan yang sebenarnya baik, karena tanpa batasan, akhirnya membuat hubungan itu menjadi tidak baik.

Ada lagi dua orang sahabat, yang tadinya berada didalam satu kota, akhirnya karena tuntutan pekerjaan, mereka harus berpisah. Suatu ketika, sahabatnya yang ada diluar kota ini menikah dan mempunyai seorang anak perempuan. Sang sahabat pun datang mengunjungi sahabatnya yang baru saja melahirkan dan ketika mereka bertemu, sang sahabat ini tiba-tiba ikut serta memberikan ide untuk sebuah nama.

Walau pun sang suami sudah mempunyai ide, namun karena hubungan yang sangat dekat, sang sahabat tidak segan-segan memaksakan idenya untuk memberikan nama bagi anak sahabatnya itu, sehingga membuat sang suami merasa tidak nyaman. Hubungan yang tanpa batasan itu akhirnya berubah menjadi sikap yang sungguh menjengkelkan.

Hubungan persahabatan atau ikatan tali persaudaraan itu indah, tetapi dengan catatan bahwa kita dapat memahami bahwa setiap pribadi tentu mempunyai batasan-batasan yang tidak dapat kita lewati begitu saja.

Saya dan sahabat-sahabat saya mungkin punya rasa saling percaya yang mengakibatkan kita dapat mengemukakan pendapat dengan bebas. Tetapi ada batasan-batasan dimana saya harus berhenti dan tidak dapat terlibat lagi dalam urusan pribadi sahabat-sahabat saya itu.

Sebagai contoh, dalam urusan rumah tangga kami masing-masing, kami mungkin hanya bisa saling belajar dari pengalaman yang sedang terjadi atau sudah terjadi, tetapi kami masing-masing harus dapat menahan diri karena tidak boleh terlalu dalam ingin tahu apa yang terjadi didalam rumah tangga kami masing-masing, apalagi ikut campur didalamnya.

Firman Tuhan didalam Amsal 25:17 mengatakan “janganlah kerap kali datang ke rumah sesamamu, supaya jangan ia bosan, lalu membencimu”. Firman Tuhan ini mengatakan ‘sesamamu’, yang berarti bahwa ayat ini berlaku untuk hubungan antar saudara, antara orang tua terhadap anak-anaknya yang sudah tinggal terpisah, dan juga berlaku untuk setiap orang, termasuk hubungan antar sahabat.

Ada hal-hal didalam dunia ini memiliki sifat yang terbatas, termasuk kita sebagai seorang manusia. Ada saatnya kita merasa bosan dan ingin sendirian, atau mungkin kita ingin berada bersama seseorang yang lain. Sehingga pada saat itu terjadi dan seseorang yang dekat justru ingin bersama kita, maka kita tentu akan merasa terganggu.

Itulah sebabnya, sangat penting kita dapat mengetahui waktu dan batasan-batasan yang dimiliki oleh diri kita sendiri dan orang lain, agar tidak menyebabkan masalah. Kita sangat perlu belajar untuk menghentikan keinginan kita untuk berpendapat, apalagi ketika sahabat atau keluarga kita sedang tidak memerlukan pendapat kita, khususnya untuk masalah pribadi didalam keluarga masing-masing apabila sudah masuk dalam hidup rumah tangga.

Kalau kita merenungkan, sebenarnya Tuhan pun menghargai privasi kita, sehingga kita bebas menentukan yang kita mau. Ketika kita bilang dalam doa kita bahwa kita tidak ingin Tuhan campur tangan, maka dapat dipastikan Tuhan tidak akan memaksakan kehendakNYA atas kita. Jadi kita pun, yang bukan Tuhan, juga harus belajar menghargai privasi orang lain, khususnya orang-orang yang dekat dengan kita.

Tuhan memberkati!

**picture taken from:
http://www.google.co.id/imgres?q=picture+of+cartoon+relationships&hl=id&sa=X&biw=1280&bih=707&tbm=isch&prmd=imvns&tbnid=cDdNNK_lI7iwXM:&imgrefurl=http://cartoons.emersonart.com/galleries/relationships/index.html&docid=RYciFoLR7poK2M&imgurl=http://cartoons.emersonart.com/galleries/relationships/images/02.jpg&w=500&h=617&ei=4JYHUNqRJYqqrAeY4KntAg&zoom=1&iact=hc&vpx=702&vpy=249&dur=3970&hovh=249&hovw=202&tx=110&ty=135&sig=115066408690274837010&page=1&tbnh=166&tbnw=130&start=0&ndsp=18&ved=1t:429,r:15,s:0,i:115

Bersikap Adil Dan Bijaksana

Ada seseorang yang kita sebut saja namanya sebagai Ly. Oleh karena Ly didalam keluarga adalah seorang anak perempuan yang paling bungsu, maka orang tuanya tidak pernah mengijinkan Ly untuk keluar rumah tanpa ada ijin atau pengawasan dari pihak keluarga, sehingga ada begitu banyak orang yang mengenalnya, dapat segera memahami apabila Ly seringkali seperti orang yang tidak mengerti apa yang terjadi dengan kehidupan diluar rumahnya.

Walau pun sebagai anak bungsu Ly mempunyai sifat manja dan gaya bicara yang tidak terlalu dapat dengan mudah diterima oleh kebanyakan orang, tetapi pada dasarnya Ly mempunyai hati yang sangat baik, suka menolong, dan cinta damai. Sayangnya, tak banyak orang yang dapat melihat sisi baik dari Ly.

Pada suatu hari, ada seseorang yang menegur Ly, dengan harapan, Ly dapat menjadi seorang wanita yang lebih baik lagi. Ly menerima teguran itu dan mencoba untuk menjadi lebih baik. Banyak orang yang kini menjadi sahabat Ly, dan didalam hati Ly selalu ingin agar tidak ada orang yang menjadi seperti dia, harus mengalami teguran, dan baru berubah menjadi lebih baik.

Sehingga Ly selalu berusaha untuk memberikan masukan bagi orang-orang yang tidak disukai oleh orang lain. Kebanyakan orang dapat menerima masukannya, karena mereka dapat melihat niat hati Ly yang baik untuk mereka. Tetapi ada beberapa orang yang ternyata menanggapinya dengan marah.

Seseorang yang ditegur oleh Ly benar-benar marah dan merasa sakit hati terhadap Ly, sehingga seseorang ini menceritakan secara detail kepada teman-temannya, dan akibatnya teman-teman seseorang ini yang sebelumnya bahkan tidak pernah bermasalah dengan Ly, namun tiba-tiba bisa ikut-ikut bersikap sinis, dan tidak menyapa Ly dengan baik.

Ada lagi seseorang yang lain, yang mungkin tidak terlalu membicarakan Ly secara detail kepada orang lain, namun sesekali dia dapat menyeletukkan kata-kata dihadapan teman-temannya mengenai Ly, sehingga akibatnya teman-temannya itu akhirnya menangkap bahwa Ly itu bukan orang yang baik.

Pernahkah kita mendengar cerita dari seorang teman, mengenai perilaku buruk dari seorang temannya yang lain? Lalu bagaimana sikap kita untuk menanggapi hal tersebut? Apakah kita ikut membencinya? Atau kita berusaha untuk bersikap netral? Dan sikap yang bagaimana yang seharusnya kita lakukan?

Saya sering menerima info dari seorang teman, mengenai kebaikan mau pun keburukan orang lain, baik yang saya kenal, mau pun yang tidak saya kenal. Pada awalnya, saya pun bersikap ‘ikut-ikut’ benci atau ‘ikut-ikut’ senang.

Sampai pada suatu hari, ketika saya menjadi kakak kelas di sebuah sekolah menengah tingkat atas (high school) dan saya melihat teman-teman yang seangkatan dengan saya menceritakan hal-hal yang jelek tentang beberapa orang adik kelas yang baru saja dikenalnya. Saya berpikir bahwa sangat tidak adil apabila saya ikut-ikut membenci seseorang yang belum tentu benar-benar salah seperti yang dikatakan oleh teman-teman saya itu, karena menurut saya, kita baru saja mengenal mereka yang baru masuk sekolah kita pada saat itu.

Sejak saat itu, saya mengerti bahwa bersikap adil dan bijaksana didalam hal mendengarkan sebuah cerita baik mau pun buruk itu, harus berdasarkan dari sudut pandang kedua belah pihak. Karena kita tidak pernah tahu kejadian yang sebenarnya. Bila perlu, kita harus mempertemukan kedua belah pihak, agar memperjelas masalahnya.

Seperti dalam kisah tersebut diatas, jika kita melihat dari sudut pandang Ly, maka mungkin kita dapat memahami bahwa Ly mempunyai niat yang baik, tetapi kita juga harus dapat mengkoreksi bahwa ada kemungkinan Ly kurang baik didalam penyampaiannya, sehingga menyebabkan beberapa orang merasa tersinggung.

Selain itu, jika kita melihat dari sudut pandang orang yang tertegur dan kemudian menjadi tersinggung itu, maka kita dapat menilai bahwa mungkin saja teguran Ly itu benar, karena terbukti orang yang ditegur itu menjadi sangat tersinggung dan merasa tidak terima, atau kita dapat memahaminya jika tersinggung, mungkin karena cara Ly yang kurang pas. Tetapi kita juga dapat mengkoreksi bahwa orang yang merasa tersinggung itu tidak sepantasnya menceritakan hal buruk mengenai Ly, karena sikap yang menceritakan mengenai kejelekan orang lain tentu bukanlah hal yang bijaksana.

Selama kita hidup didunia ini, kita tidak akan pernah dapat bersikap adil dan bijaksana, karena kita tidak pernah dapat mengetahui hati dan pikiran orang lain. Yang bisa kita lakukan adalah mencoba untuk bersikap lebih adil dan lebih bijaksana.

Caranya, dengan tidak menceritakan hal-hal buruk tentang orang lain, apalagi jika orang lain itu adalah teman baik, sahabat, atau bagian dari saudara kita! Dan yang terpenting, kita jangan pernah bersikap terburu-buru mempercayai cerita buruk tentang orang lain, apalagi jika kita ikut-ikut tidak menyukainya, hanya karena kita mendengarkan sebuah cerita saja!

Tuhan memberkati.

**picture taken from:
http://www.google.co.id/imgres?q=picture+of+pair+of+scales&start=210&um=1&hl=id&biw=1280&bih=687&tbm=isch&tbnid=xPLkxMR2EDj1eM:&imgrefurl=http://wbed.blogspot.com/2009/06/nine-apples-puzzle.html&docid=lx2P2-fBwQQ_AM&imgurl=http://3.bp.blogspot.com/_xXF6vuty_4Q/Si9L7bv0D9I/AAAAAAAAAGs/0hrU-4CzIcI/s320/scales.jpg&w=318&h=320&ei=uU15T7PmOsHsrAeHrKGqDQ&zoom=1&iact=hc&vpx=333&vpy=202&dur=1109&hovh=225&hovw=224&tx=146&ty=172&sig=115066408690274837010&page=10&tbnh=167&tbnw=167&ndsp=23&ved=1t:429,r:13,s:210