Menghargai

Sudah lama saya belajar untuk menghargai segala sesuatu yang saya miliki dan semua orang yang berada di dekat saya. Tetapi, prakteknya memang tidak semudah pemikiran saya. Ada kalanya saya berpikir saya sedang menghargai sesuatu atau ada kalanya saya berpikir saya sedang menghargai seseorang, tetapi realitanya saya sedang menyia-nyiakan sesuatu dan realitanya ada juga seseorang yang merasa saya tidak sedang menghargai kehadirannya.

Kita memang tidak bisa selalu menyenangkan hati semua orang. Tetapi, sama seperti kita bisa merasakan bahwa seseorang sangat menghargai kehadiran kita, maka seseorang juga bisa merasakan apakah kita benar-benar menghargai kehadirannya. Hanya sesederhana itu.

Walau pun saya adalah seorang anak bungsu, tidak semua yang saya inginkan bisa terwujud. Bahkan menurut saya, untuk mendapatkan sesuatu yang saya inginkan itu sangat tidak mudah. Sehingga pada saat saya bisa memiliki, saya akan sangat berhati-hati dengan barang itu, saya akan menyimpannya dengan sangat baik, dan besar kemungkinan saya akan jarang menggunakan barang itu, karena saya takut barang itu nanti rusak atau terjadi sesuatu yang buruk. Setelah saya pikir-pikir, pada akhirnya barang itu pun ada masanya harus saya buang begitu saja.

Berbeda dengan suami saya, saat dia memiliki barang yang sangat diinginkannya, maka dia akan berhati-hati dengan barang itu, dia akan menyimpannya dengan baik, dan dia akan menggunakannya sesering mungkin, bahkan mungkin sampai barang itu sudah terlihat tidak bagus lagi, baru dia akan merasa puas karena sudah menggunakannya dengan maksimal.

Beberapa kali saya mengatur waktu untuk bertemu dengan teman dekat saya. Saat bertemu dengan mereka, saya berusaha untuk tidak sekali pun melihat pesan atau bermain dengan handphone saya. Mungkin sesekali saya akan melihat, barangkali ada pesan yang penting. Tetapi, bagi saya kehadiran seseorang yang ada di dekat saya saat itu, jauh lebih penting dan waktu-waktu kebersamaan kami bagi saya itu sangat berharga. Saya akan berusaha untuk memerhatikan cerita teman dekat saya, walau pun mungkin sangat membosankan.

Berbeda dengan beberapa orang teman dekat saya, yang kelihatannya masih sangat sibuk dengan handphone nya, dan bahkan saya bisa tahu bahwa dia tidak benar-benar sedang mendengarkan cerita saya. Padahal, dia yang mengajak saya untuk bertemu dan untuk bertemu itu bagi saya sebenarnya tidak mudah, ada hal-hal yang seharusnya menjadi prioritas utama, akhirnya harus saya tunda agar saya bisa bertemu dengan teman dekat saya itu.

Ada pepatah yang mengatakan bahwa sesuatu atau seseorang itu akan terasa lebih berharga saat kita sudah kehilangan. Lalu, pertanyaannya, mengapa kita harus menghargai sesuatu atau seseorang saat sudah tidak ada? Bukankah akan lebih baik bila kita menghargai sesuatu atau seseorang saat masih ada?

Saya belajar, untuk menghargai sesuatu yang saya inginkan dan yang akhirnya saya bisa miliki, dengan cara saya akan menggunakannya sampai maksimal. Saya akan tetap berhati-hati, saya akan tetap merawat, tetapi sesuatu itu akan lebih berharga bila saya menggunakannya sesuai dengan fungsinya. Dengan demikian, saya juga menghargai diri saya sendiri dan atau orang lain yang sudah membeli untuk saya.

Saya menghargai sesuatu dengan memilih cara untuk tidak memiliki banyak, sebagai contoh pakaian, tas, dan sepatu, saya akan membeli secukupnya, agar saya memiliki waktu untuk menggunakannya dengan baik dan maksimal. Banyak yang saya inginkan, tetapi bila saya tidak memiliki waktu untuk menggunakannya, maka saya hanya akan menyia-nyiakan uang dan sesuatu yang sudah saya beli.

Saya menghargai seseorang yang ada di dekat saya, dengan pandangan tentang mereka yang berbeda, yang lebih baik. Tidak semua orang itu menyenangkan, tetapi mereka selalu bisa mengajarkan sesuatu pada kita, walau pun mungkin mereka bahkan tidak sadar kalau sedang mengajarkan sesuatu kepada kita.

Waktu berjalan terus dengan cepat. Tidak semua orang selalu akan memiliki waktu untuk kita dan jangan pernah berharap semua orang akan selalu ada untuk kita! Ada waktu dimana kita memiliki waktu atau kesempatan untuk mendengarkan. Ada waktu dimana giliran kita yang harus berbicara. Ada waktu dimana kita harus sibuk bekerja. Ada waktu dimana kita harus berada di rumah. Ada waktu dimana kita harus bepergian. Ada waktu dimana kita harus berpisah dengan teman-teman kita yang sekarang dan bertemu dengan teman-teman yang lainnya di tempat yang berbeda.

Jika saya bisa melakukan dan memberikan yang terbaik untuk orang lain, maka hal itu yang akan saya lakukan. Walau pun pasti ada kekurangan yang akan saya lakukan.

Saya belajar untuk menghargai suami saya dengan mendengarkan setiap perkataan dan ceritanya, saya menghargai setiap keinginannya walau pun ada keinginan yang tidak perlu dipenuhi, saya menghargai kesukaannya dan berusaha mengingatnya, saya menghargai waktu-waktu yang dia miliki dengan berusaha menahan setiap pembahasan yang sedang tidak ingin dia bicarakan, dan saya juga menghargai setiap kesalahannya dengan cara tidak mengungkit.

Demikian pula terhadap saudara dan sahabat saya, di saat saya bisa bertemu dan memeluk mereka, saya akan melakukannya untuk mereka.

Semua orang memiliki caranya sendiri untuk menghargai orang lain. Jika kita mengenal pribadi seseorang, maka kita akan mengetahui sesuatu yang seseorang itu sukai atau yang tidak sukai. Selanjutnya, kita akan lebih bisa bersikap menghargai seseorang itu dengan cara yang tepat dan menyentuh.

Amsal 27:7 “Orang yang kenyang menginjak-injak madu, tetapi bagi orang yang lapar segala yang pahit dirasakan manis“. Mungkin kita perlu merasa ‘lapar’ untuk bisa menghargai sesuatu atau seseorang, misalnya ‘lapar’ akan persahabatan, ‘lapar’ akan persaudaraan, karena dengan rasa ‘lapar’ kita bisa mengerti betapa berartinya sesuatu atau seseorang itu bagi kita.

Tuhan memberkati!

20150324-192746.jpg

Sungkan

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, ‘sungkan’ bisa berarti rasa enggan atau rasa malas, merasa tidak enak hati, dan menaruh rasa hormat atau segan. Biasanya, kata ‘sungkan’ lebih sering digunakan untuk menyatakan rasa tidak enak hati atau malu, misalnya saja kita merasa sungkan menerima secara terus menerus pemberian seseorang, atau kita merasa sungkan kalau terus menerus menumpang di rumah seseorang, dan masih banyak contoh yang lain.

Di sekitar kita, ada beragam orang dengan beragam pemikirannya tentang sungkan. Ada orang yang merasa rugi kalau sungkan, sehingga tidak pernah menolak pemberian. Ada orang yang sungkan, tetapi sebenarnya didalam hati menginginkannya, sehingga ada sebuah singkatan dari sungkan, yaitu sungguh-sungguh mengharapkan. Dan ada juga orang yang memang suka sungkan, mungkin karena tidak ingin merepotkan orang lain, atau memiliki sifat pemalu.

Seiring berjalannya waktu, semakin kita jarang menemui orang yang suka sungkan, apalagi bila seseorang sedang dalam keadaan terdesak. Ada orang-orang yang terdesak karena rasa lapar ditambah dengan kondisi dompet yang kosong, sehingga selalu menerima bila ditraktir. Ada orang-orang yang terdesak karena butuh bantuan, sehingga takkan menolak bila seseorang menawarkan bantuannya.

Kita perlu merasa sungkan dan kita tidak perlu merasa sungkan.

Kita tidak perlu merasa sungkan, apabila sesuatu itu menjadi hak kita. Sebagai contoh, kita tidak perlu merasa sungkan meminta sejumlah uang yang seharusnya dikembalikan pada saat kita membeli sesuatu dan kita melakukan pembayaran dengan memberikan sejumlah uang lebih dari harga barang yang kita beli, karena sejumlah uang kembalian itu hak kita. Berbeda bila kita memang ingin memberikan sejumlah uang yang seharusnya dikembalikan pada kita itu sebagai tips.

Kita tidak perlu merasa sungkan, apabila kita melakukan sebuah pekerjaan. Sebagai contoh, ada orang-orang yang merasa malu atau merasa sungkan menawarkan barang kepada orang lain untuk dijual sebagai bentuk sebuah usaha. Saat kita memiliki sebuah usaha, maka harus ada orang lain yang membeli produk kita, dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan, itulah yang dinamakan sebuah bisnis. Berbeda bila kita bekerja di sebuah perusahaan bukan milik kita, maka kita bisa memilih untuk berada di posisi yang bukan sebagai penjual, agar kita tidak perlu sungkan menawarkan sebuah produk ke orang lain.

Kita tidak perlu merasa sungkan, apabila kita yakin seseorang memang ingin memberi. Ada orang-orang yang sengaja berkorban untuk meluangkan waktunya membuat sesuatu atau membeli sesuatu karena ingin memberi kita. Bila kita menolak karena sungkan, maka tentu saja penolakan itu akan menyakiti hatinya. Kita memang tidak pernah tahu niat didalam hati seseorang. Tetapi, yang paling penting adalah kita tidak meletakkan harapan pada pemberian seseorang.

Kita tidak perlu merasa sungkan pada Tuhan. Ada orang-orang yang sungkan meminta pada Tuhan karena setiap hari selalu saja ada keinginannya. Tuhan tidak pernah menghukum saat anak-anakNya meminta sesuatu padaNya. Tetapi, ijinkan Tuhan untuk menentukan jawaban yang terbaik atas permohonan kita.

Disisi lain, kita perlu merasa sungkan apabila kita terus menerus menerima dan selalu mengharapkan pemberian. Ada waktunya memberi dan ada waktunya menerima. Pemberian itu selalu menyenangkan, apalagi bila kita tahu seseorang itu lebih mampu daripada kita. Tetapi, tahukah kita bahwa ada kalanya kita juga harus memberi? Kita akan lebih dihargai apabila kita juga memberi, bukan sekedar menerima.

Mengharapkan pemberian kadangkala dialami oleh setiap orang yang membutuhkan. Tetapi, masalahnya, ada orang-orang yang tidak mau melakukan apa-apa, selain meminta, karena terlalu nyaman dengan pemberian orang lain. Realitanya, mungkin anak kita memiliki pekerjaan yang mapan, mungkin saudara-saudara kita memiliki harta yang berlimpah, mungkin kekayaan orang tua kita tidak terbatas, tetapi perjuangan untuk bisa melakukan sesuatu, paling tidak untuk memenuhi kebutuhan hidup kita sendiri itulah yang dikatakan sebagai sebuah sikap mandiri. Kita harus ingat bahwa setiap orang memiliki kebutuhannya masing-masing, dan kita akan menjadi beban bagi orang lain pada saat kita mulai bergantung pada pemberian orang lain. Menjadi dewasa salah satunya adalah pada saat kita peka pada kondisi seseorang dan tidak membuatnya semakin terbeban oleh kebutuhan kita.

Kita perlu merasa sungkan, apabila kita tidak melakukan kewajiban kita. Sebagai contoh, ada orang-orang yang bisa tidak peduli pada saat jatuh tempo pembayaran harus dilakukan. Bila kita berhutang, maka sudah seharusnya kita membayar sesuai yang dijanjikan. Seandainya kita tidak bisa membayar, maka sebaiknya kita memberitahu orang yang bersangkutan, bukan mendiamkannya. Contoh lain, tak jarang kita melihat orang-orang yang menerima upah setiap bulannya, tetapi bersikap santai saat Pimpinan tidak hadir. Seharusnya kita merasa malu atau merasa sungkan, bila kita tidak bertanggung jawab atas kewajiban kita.

Kita perlu merasa sungkan, apabila kita bersikap memanfaatkan. Sebagai contoh, oleh karena seseorang berbaik hati hendak membayari kita makan, kemudian kita memilih semua makanan dan minuman yang termahal di restaurant itu. Seharusnya kita bisa bersikap lebih baik, dengan memilih makanan yang benar-benar kita inginkan dan kita butuhkan. Contoh lain, seseorang sudah berbaik hati mau meluangkan waktunya untuk memberikan bantuan untuk kita, maka ada batasan dimana kita tidak terus menerus memanfaatkan kebaikan hatinya itu.

Rasa sungkan seringkali perlu agar orang lain dapat memiliki respek atas hidup kita. Kita tidak pernah tahu isi hati seseorang, kita sulit membaca pikiran seseorang, dan kita tidak selalu tahu kebutuhan seseorang. Tetapi, kita tentu tidak ingin orang lain mengatakan bahwa kita orang yang ‘tidak tahu diri’, bukan? Itu sebabnya, kita perlu menjaga diri dari rasa sungkan yang tentunya tidak perlu berlebihan.

Rasa sungkan yang berlebihan dapat membuat orang lain terluka, atau dapat membuat orang lain menjadi jengkel dengan kita. Selain itu, memang benar, ada kalanya kita akan menderita bila kita merasa sungkan yang berlebihan.

Kita perlu hikmat, agar kita dapat memiliki sikap yang lebih baik, dan tahu kapan kita harus merasa sungkan atau kapan kita tidak perlu merasa sungkan.

Tuhan memberkati!