Anda Berhasil, Saya Berhasil

Oprah pernah berkata bahwa sudah biasa bila kita ikut bersedih saat orang lain sedang bersedih, tetapi sungguh luar biasa bila kita ikut senang saat orang lain sedang senang.

Firman Tuhan didalam Roma 12:15 juga mengajarkan kepada kita, “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis“.

Kecenderungan seseorang menjadi iri hati saat melihat orang lain sedang senang, dan apalagi bila melihat orang lain sedang mengalami kesuksesan. Kecenderungan seseorang menjadi iri hati saat melihat orang lain menerima suatu pemberian yang baik. Kecenderungan seseorang menjadi iri hati saat mendengar orang lain mendapatkan pujian.

Tak heran apabila kemudian didalam kehidupan ini, kita menjadi orang yang enggan berbagi ilmu dengan orang lain, enggan berbagi resep atau berbagi tips dengan orang lain, enggan berbagi ide dengan orang lain, enggan berbagi waktu dengan orang lain, dan enggan mendengarkan ‘curhat’-an orang lain.

Pada akhirnya, semua berfokus pada diri kita sendiri. Kecenderungan kita ingin mendapatkan kesenangkan kita sendiri, kita ingin selalu menjadi yang paling sukses, kita ingin mendapatkan sesuatu yang baik untuk diri kita sendiri, dan kita ingin pujian selalu terarah pada diri kita.

Tetapi, sadarkah kita, bahwa dibalik kesenangan kita, kesuksesan kita, segala sesuatu yang baik yang kita terima, dan segala pujian yang mungkin kita dapatkan saat ini, ada orang lain yang sudah rela berbagi ilmu dengan kita, ada orang lain yang rela berbagi resep atau tips dengan kita, ada orang lain yang rela berbagi ide dengan kita, ada orang lain yang bersedia membagi waktunya untuk kita, dan ada orang lain yang mau mendengarkan ‘curhat’-an kita yang mungkin sudah puluhan kali kita mengulangnya?

Setiap kali saya berhasil membuat masakan yang lezat, saya selalu ingat dengan suami saya yang selama ini tidak pernah sekali pun mengeluh tentang masakan saya. Saya sadar masakan saya memiliki banyak kekurangan, tetapi suami saya rela menelannya dengan selalu berkata “masakanmu lezat, terima kasih sudah memasaknya untuk saya“. Bisa dibayangkan, bila sejak pertama kali saya belajar memasak, suami saya sikapnya menertawakan saya atau tidak mau memakannya, mungkin saya akan lebih memilih untuk berhenti memasak dan saya tidak akan pernah bisa memasak, sesederhana apa pun masakannya.

Setiap kali saya berhasil melakukan sesuatu yang menurut saya tidak mudah, saya selalu ingat dengan teman-teman saya yang selalu meluangkan waktunya untuk mendengarkan ‘curhat’-an yang mungkin sudah saya ulang puluhan kali, dan mereka tidak pernah bosan memberikan masukan yang sama, yang mungkin mereka sudah tahu bahwa sebenarnya saya sudah mengerti. Bisa dibayangkan, bila saat saya datang, teman-teman selalu menghindar dan mungkin menyuruh saya lebih baik diam, mungkin saya tidak akan pernah berhasil melakukan sesuatu yang sebenarnya bisa saya lakukan.

Keberadaan saya dan keberhasilan saya saat ini tak pernah luput dari peran orang-orang yang setia dan orang-orang yang sabar dengan segala kekurangan saya. Bahkan seandainya saya melupakan orang-orang yang ada di sekitar saya pun, tidak akan mengubahkan kenyataan bahwa kesuksesan saya adalah kesuksesan orang-orang yang sudah berperan didalam kehidupan saya.

Banyak orang menjadi kecewa karena kebaikan hatinya, idenya, dan ilmu yang sudah dibagikan pada orang lain ternyata membuat orang lain tidak ingat lagi padanya. Padahal, kenyataannya, walau pun orang lain sudah berhasil, orang lain itu takkan pernah bisa mengubahkan peran seseorang didalam hidupnya.

Seorang sahabat bercerita kepada saya bahwa ada teman-teman yang saat ini selalu menerima pujian karena dianggap hebat didalam membuat sebuah foto atau video, tetapi tak ada seorang pun yang ingat atau tak ada seorang pun yang tahu kalau ilmu membuat sebuah foto atau video itu berasal dari seorang sahabat saya ini.

Tetapi, seorang sahabat saya ini tidak pernah menyesal, karena dia tetap menjadi orang yang lebih tahu kekurangan dari foto atau video karya teman-temannya itu. Dan itu berarti, seorang sahabat yang sudah rela berbagi ilmu ini mengerti bahwa ilmunya tidak hilang, tetapi kenyataannya dia tetap lebih pandai dari teman-temannya yang dianggap orang lain lebih sukses itu.

Tak ada orang yang ingin dirugikan. Berbagi lebih sering tidak memberikan keuntungan bagi kita. Tetapi, bila kita ingin memiliki hidup yang menguntungkan, tak ada pilihan selain membuat orang lain mengalami keberhasilan didalam hidupnya, dengan cara rela berbagi, atau ikut berpartisipasti atas kehidupan seseorang.

Berbagi atau berpartisipasi tidak harus selalu dengan memberikan uang. Kita bisa berbagi ilmu saat seseorang bertanya dan ingin belajar sesuatu dari kita. Kita bisa berbagi ide untuk membuat ide orang lain menjadi lebih baik. Kita bisa berbagi waktu untuk orang-orang yang mungkin hanya sekedar ingin cerita atau ingin mengungkapkan isi hatinya pada kita. Kita bisa berbagi cerita pada orang lain untuk memberinya semangat, atau mungkin hanya sekedar membuat orang lain merasa kehadirannya diinginkan.

Saat orang lain berhasil, dan kita ikut berpartisipasi, berbagi dengan yang ada pada kita, maka keberhasilannya adalah keberhasilan kita juga.

Jangan lupakan orang yang sudah berpartisipasti didalam hidup kita! Dan jangan terus menerus mengandalkan orang yang selalu berniat baik memberikan pertolongannya bagi kita! Karena kita juga harus berjuang untuk menjadi berhasil, sehingga keberhasilan kita bisa menjadi keberhasilan bagi orang lain juga.

Tuhan memberkati!

Iklan

Ambil Hati Saat Sedang Senang

Pada suatu hari di sebuah kantor, ada seseorang yang baru saja masuk kedalam ruangan dengan sedikit tergesa-gesa, dia terlihat sedang senang karena ekspresi wajahnya yang sedikit lebih ceria, dan berbicara dengan sedikit berbisik “hei teman-teman, boss sedang senang kelihatannya, ayo cepat yang mau meminta tanda tangannya, segera keruangannya!”.

Mendengar kalimat tersebut, ada yang menjawab “wah aku mau ijin untuk ambil cuti nih minggu depan, segera kukirim emailnya!”, lalu ada juga yang menjawab “aku perlu approvalnya!”, dan ada juga yang menyahut “ok, aku segera keruangannya, sudah bertumpuk-tumpuk form nih yang harus dia tandatangani”.

Tiba-tiba seluruh orang yang berada didalam ruangan tersebut menjadi sibuk dan segera mengumpulkan segala sesuatu yang memerlukan tanda tangan boss, karena mereka mendapatkan informasi bahwa boss hatinya sedang senang. Sebagai bawahan, tentu mereka tahu kalau ketika hati boss sedang senang, maka biasanya akan lebih memudahkan mereka untuk memeroleh tanda tangan atau approval-nya.

Didalam keseharian aktifitas kita, seringkali ketika kita hendak mengajukan sebuah permohonan, baik ketika kita sedang berada di rumah bersama orang tua, atau bersama pasangan, atau ingin mengungkapkan isi hati bersama teman, maka seandainya bisa, kita pasti akan mencari waktu yang pas untuk mengutarakannya pada orang yang bersangkutan, agar mendapatkan respon yang terbaik.

Misalnya saja seorang anak yang sudah mengerti kebiasaan anggota keluarganya. Ketika dia ingin meminta sesuatu dari orang tuanya, yang sekiranya belum tentu permintaannya itu bisa langsung dapat dikabulkan, maka seorang anak itu tentu akan mencari waktu yang pas untuk mengutarakan maksudnya, yaitu pada waktu orang tuanya terlihat sedang senang, agar lebih berpeluang untuk mendapatkan jawaban yang diharapkannya.

Demikian juga bila seseorang ingin menyatakan cinta pada lawan jenis yang disukainya. Tentu pada awalnya ia akan berusaha untuk mengenalinya, sering mengajaknya bicara, mungkin juga mencari banyak alasan untuk bisa berdekatan, dan apabila hubungan sudah semakin dekat, maka langkah berikutnya akan mencari waktu yang benar-benar pas untuk mengutarakan isi hatinya, dengan harapan cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.

Sikap mengambil hati seseorang saat dia sedang senang adalah sikap yang wajar, dan tanpa diajarkan sekali pun, semua orang tentu tahu bahwa ketika seseorang hatinya sedang senang, tentu seseorang itu akan jauh lebih mampu diajak untuk bicara baik-baik, diajak untuk bertukar pikiran, dan seseorang yang hatinya sedang senang akan jauh lebih mudah untuk berpikir positif.

Amsal 17:22 mengatakan “hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang”. Seseorang yang sedih, gelisah, atau marah, tidak mungkin bisa berpikir positif, itulah sebabnya dikatakan “…mengeringkan tulang”, karena yang ada didalam pikiran mereka hanya hal-hal yang negatif, yang tidak mungkin, yang tidak ada pengharapan, dan hati mereka dipenuhi dengan kecurigaan.

*Percaya atau tidak, ada sebuah hasil penelitian tentang fertilitas dan ketidaksuburan yang mengatakan bahwa wanita yang dihibur dengan ‘lawakan’ atau ‘tertawa’ gembira sebelum berhubungan seks, memiliki kemungkinan hamil 15% lebih besar. Hal ini terjadi karena tertawa mempengaruhi sistem imunitas yang berperan dalam proses pembuahan. Penelitian tersebut juga mengatakan bahwa satu hari yang diwarnai dengan ‘cekikikan’, juga dapat mengurangi rasa cemas dan stres sekaligus memperlancar peredaran darah. Itulah sebabnya, tak heran bila Amsal mengatakan “hati yang gembira adalah obat yang manjur”.

Didalam hubungan kita dengan Tuhan, mungkin seringkali kali kita merasa sulit untuk mendapatkan jawaban atas doa-doa kita. Bisa saja ‘sulitnya kita mendapatkan mujizat atau jawaban doa’ itu disebabkan karena Tuhan sedang merasa tidak senang dengan sesuatu yang ada didalam hati kita, atau ada sesuatu yang tidak berkenan didalam tindakan kita di hadapanNYA.

Walau pun kita semua tentu tahu bahwa Tuhan itu sangat baik. Tanpa kita berusaha untuk bersikap baik-baik padaNYA, DIA sudah dapat mengetahui seluruh isi hati dan pikiran, serta maksud kita. Ketika DIA tahu kebutuhan kita, maka DIA pasti akan memenuhi dan memelihara kita, tepat pada waktuNYA.

Tetapi dengan segala kesadaran yang kita miliki, bahwa kita ini hanyalah seorang hamba, yang juga mengaku sebagai seorang anak Tuhan tentu kita tahu bahwa kita perlu menyenangkan hati Tuhan, yang adalah Tuan dan Raja kita.

Dan untuk menyenangkan hati Tuhan, maka kita harus tahu segala sesuatu yang Tuhan sukai agar kita berkenan dihadapanNYA. Selain melakukan Firman Tuhan, pujian dan penyembahan kita tentu juga akan menyenangkan hatiNYA.

Sungguh penting bagi kita untuk mengetahui betapa penting arti pujian dan penyembahan yang kita tujukan kepada Tuhan. Kita bernyanyi didalam gereja setiap hari Minggu, tidak hanya sekedar sebagai suatu rutinitas karena ada didalam susunan acara, tetapi pujian dan penyembahan yang kita naikkan itu Tuhan benar-benar sedang mendengarnya.

Hati kita benar-benar serius ketika menyanyikannya dan hati kita benar-benar tertuju pada Tuhan, tentu yang tahu hanya Tuhan sendiri. Kita ingin sekedar tampil untuk dilihat jemaat dan ingin sekedar menunjukkan kualitas suara kita kepada jemaat agar dikagumi, yang tahu juga hanya Tuhan.

Dengan menyenangkan hati Tuhan, sangat mungkin membuat kita mendapatkan mujizat, tetapi sebenarnya menyenangkan hati Tuhan tidak sekedar untuk mendapatkan jawaban doa. Sebagaimana kita selalu ingin menyenangkan hati orang tua dan pimpinan kita, mungkin agar suasana rumah dan atau suasana kantor menjadi menyenangkan, maka kehadiranNYA didalam ruang doa kita, saat kita menaikkan pujian dan penyembahan itulah yang paling penting untuk kita dapat merasakannya, karena Tuhan adalah Tuan kita yang dapat memberikan kedamaian, sukacita, kelegaan, dan segala-galanya didalam hati kita.

Tuhan memberkati!

*http://id.she.yahoo.com/tertawa-bikin-rahim-subur-035300403.html

**picture taken from:
http://www.google.co.id/imgres?q=picture+of+cartoon+attempt+to+persuade&hl=id&biw=1280&bih=707&tbm=isch&tbnid=RgBn2rEvYknzvM:&imgrefurl=http://harshad-rane.blogspot.com/2012/06/mba-for-dummies-lesson-3-sales-pitch.html&docid=erKaHpR_Fgpj2M&imgurl=http://4.bp.blogspot.com/-gZobY4GolIw/T-pOszqYfOI/AAAAAAAAAUM/F3acqIMV2kQ/s400/sales%25252520cartoon.gif&w=380&h=288&ei=Hjl2ULPZKIvzrQfzs4DADw&zoom=1&iact=hc&vpx=768&vpy=365&dur=219&hovh=195&hovw=258&tx=167&ty=151&sig=115066408690274837010&page=5&tbnh=164&tbnw=219&start=78&ndsp=20&ved=1t:429,r:3,s:78,i:329