Menghargai

Sudah lama saya belajar untuk menghargai segala sesuatu yang saya miliki dan semua orang yang berada di dekat saya. Tetapi, prakteknya memang tidak semudah pemikiran saya. Ada kalanya saya berpikir saya sedang menghargai sesuatu atau ada kalanya saya berpikir saya sedang menghargai seseorang, tetapi realitanya saya sedang menyia-nyiakan sesuatu dan realitanya ada juga seseorang yang merasa saya tidak sedang menghargai kehadirannya.

Kita memang tidak bisa selalu menyenangkan hati semua orang. Tetapi, sama seperti kita bisa merasakan bahwa seseorang sangat menghargai kehadiran kita, maka seseorang juga bisa merasakan apakah kita benar-benar menghargai kehadirannya. Hanya sesederhana itu.

Walau pun saya adalah seorang anak bungsu, tidak semua yang saya inginkan bisa terwujud. Bahkan menurut saya, untuk mendapatkan sesuatu yang saya inginkan itu sangat tidak mudah. Sehingga pada saat saya bisa memiliki, saya akan sangat berhati-hati dengan barang itu, saya akan menyimpannya dengan sangat baik, dan besar kemungkinan saya akan jarang menggunakan barang itu, karena saya takut barang itu nanti rusak atau terjadi sesuatu yang buruk. Setelah saya pikir-pikir, pada akhirnya barang itu pun ada masanya harus saya buang begitu saja.

Berbeda dengan suami saya, saat dia memiliki barang yang sangat diinginkannya, maka dia akan berhati-hati dengan barang itu, dia akan menyimpannya dengan baik, dan dia akan menggunakannya sesering mungkin, bahkan mungkin sampai barang itu sudah terlihat tidak bagus lagi, baru dia akan merasa puas karena sudah menggunakannya dengan maksimal.

Beberapa kali saya mengatur waktu untuk bertemu dengan teman dekat saya. Saat bertemu dengan mereka, saya berusaha untuk tidak sekali pun melihat pesan atau bermain dengan handphone saya. Mungkin sesekali saya akan melihat, barangkali ada pesan yang penting. Tetapi, bagi saya kehadiran seseorang yang ada di dekat saya saat itu, jauh lebih penting dan waktu-waktu kebersamaan kami bagi saya itu sangat berharga. Saya akan berusaha untuk memerhatikan cerita teman dekat saya, walau pun mungkin sangat membosankan.

Berbeda dengan beberapa orang teman dekat saya, yang kelihatannya masih sangat sibuk dengan handphone nya, dan bahkan saya bisa tahu bahwa dia tidak benar-benar sedang mendengarkan cerita saya. Padahal, dia yang mengajak saya untuk bertemu dan untuk bertemu itu bagi saya sebenarnya tidak mudah, ada hal-hal yang seharusnya menjadi prioritas utama, akhirnya harus saya tunda agar saya bisa bertemu dengan teman dekat saya itu.

Ada pepatah yang mengatakan bahwa sesuatu atau seseorang itu akan terasa lebih berharga saat kita sudah kehilangan. Lalu, pertanyaannya, mengapa kita harus menghargai sesuatu atau seseorang saat sudah tidak ada? Bukankah akan lebih baik bila kita menghargai sesuatu atau seseorang saat masih ada?

Saya belajar, untuk menghargai sesuatu yang saya inginkan dan yang akhirnya saya bisa miliki, dengan cara saya akan menggunakannya sampai maksimal. Saya akan tetap berhati-hati, saya akan tetap merawat, tetapi sesuatu itu akan lebih berharga bila saya menggunakannya sesuai dengan fungsinya. Dengan demikian, saya juga menghargai diri saya sendiri dan atau orang lain yang sudah membeli untuk saya.

Saya menghargai sesuatu dengan memilih cara untuk tidak memiliki banyak, sebagai contoh pakaian, tas, dan sepatu, saya akan membeli secukupnya, agar saya memiliki waktu untuk menggunakannya dengan baik dan maksimal. Banyak yang saya inginkan, tetapi bila saya tidak memiliki waktu untuk menggunakannya, maka saya hanya akan menyia-nyiakan uang dan sesuatu yang sudah saya beli.

Saya menghargai seseorang yang ada di dekat saya, dengan pandangan tentang mereka yang berbeda, yang lebih baik. Tidak semua orang itu menyenangkan, tetapi mereka selalu bisa mengajarkan sesuatu pada kita, walau pun mungkin mereka bahkan tidak sadar kalau sedang mengajarkan sesuatu kepada kita.

Waktu berjalan terus dengan cepat. Tidak semua orang selalu akan memiliki waktu untuk kita dan jangan pernah berharap semua orang akan selalu ada untuk kita! Ada waktu dimana kita memiliki waktu atau kesempatan untuk mendengarkan. Ada waktu dimana giliran kita yang harus berbicara. Ada waktu dimana kita harus sibuk bekerja. Ada waktu dimana kita harus berada di rumah. Ada waktu dimana kita harus bepergian. Ada waktu dimana kita harus berpisah dengan teman-teman kita yang sekarang dan bertemu dengan teman-teman yang lainnya di tempat yang berbeda.

Jika saya bisa melakukan dan memberikan yang terbaik untuk orang lain, maka hal itu yang akan saya lakukan. Walau pun pasti ada kekurangan yang akan saya lakukan.

Saya belajar untuk menghargai suami saya dengan mendengarkan setiap perkataan dan ceritanya, saya menghargai setiap keinginannya walau pun ada keinginan yang tidak perlu dipenuhi, saya menghargai kesukaannya dan berusaha mengingatnya, saya menghargai waktu-waktu yang dia miliki dengan berusaha menahan setiap pembahasan yang sedang tidak ingin dia bicarakan, dan saya juga menghargai setiap kesalahannya dengan cara tidak mengungkit.

Demikian pula terhadap saudara dan sahabat saya, di saat saya bisa bertemu dan memeluk mereka, saya akan melakukannya untuk mereka.

Semua orang memiliki caranya sendiri untuk menghargai orang lain. Jika kita mengenal pribadi seseorang, maka kita akan mengetahui sesuatu yang seseorang itu sukai atau yang tidak sukai. Selanjutnya, kita akan lebih bisa bersikap menghargai seseorang itu dengan cara yang tepat dan menyentuh.

Amsal 27:7 “Orang yang kenyang menginjak-injak madu, tetapi bagi orang yang lapar segala yang pahit dirasakan manis“. Mungkin kita perlu merasa ‘lapar’ untuk bisa menghargai sesuatu atau seseorang, misalnya ‘lapar’ akan persahabatan, ‘lapar’ akan persaudaraan, karena dengan rasa ‘lapar’ kita bisa mengerti betapa berartinya sesuatu atau seseorang itu bagi kita.

Tuhan memberkati!

20150324-192746.jpg

Iklan

Anda Berhasil, Saya Berhasil

Oprah pernah berkata bahwa sudah biasa bila kita ikut bersedih saat orang lain sedang bersedih, tetapi sungguh luar biasa bila kita ikut senang saat orang lain sedang senang.

Firman Tuhan didalam Roma 12:15 juga mengajarkan kepada kita, “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis“.

Kecenderungan seseorang menjadi iri hati saat melihat orang lain sedang senang, dan apalagi bila melihat orang lain sedang mengalami kesuksesan. Kecenderungan seseorang menjadi iri hati saat melihat orang lain menerima suatu pemberian yang baik. Kecenderungan seseorang menjadi iri hati saat mendengar orang lain mendapatkan pujian.

Tak heran apabila kemudian didalam kehidupan ini, kita menjadi orang yang enggan berbagi ilmu dengan orang lain, enggan berbagi resep atau berbagi tips dengan orang lain, enggan berbagi ide dengan orang lain, enggan berbagi waktu dengan orang lain, dan enggan mendengarkan ‘curhat’-an orang lain.

Pada akhirnya, semua berfokus pada diri kita sendiri. Kecenderungan kita ingin mendapatkan kesenangkan kita sendiri, kita ingin selalu menjadi yang paling sukses, kita ingin mendapatkan sesuatu yang baik untuk diri kita sendiri, dan kita ingin pujian selalu terarah pada diri kita.

Tetapi, sadarkah kita, bahwa dibalik kesenangan kita, kesuksesan kita, segala sesuatu yang baik yang kita terima, dan segala pujian yang mungkin kita dapatkan saat ini, ada orang lain yang sudah rela berbagi ilmu dengan kita, ada orang lain yang rela berbagi resep atau tips dengan kita, ada orang lain yang rela berbagi ide dengan kita, ada orang lain yang bersedia membagi waktunya untuk kita, dan ada orang lain yang mau mendengarkan ‘curhat’-an kita yang mungkin sudah puluhan kali kita mengulangnya?

Setiap kali saya berhasil membuat masakan yang lezat, saya selalu ingat dengan suami saya yang selama ini tidak pernah sekali pun mengeluh tentang masakan saya. Saya sadar masakan saya memiliki banyak kekurangan, tetapi suami saya rela menelannya dengan selalu berkata “masakanmu lezat, terima kasih sudah memasaknya untuk saya“. Bisa dibayangkan, bila sejak pertama kali saya belajar memasak, suami saya sikapnya menertawakan saya atau tidak mau memakannya, mungkin saya akan lebih memilih untuk berhenti memasak dan saya tidak akan pernah bisa memasak, sesederhana apa pun masakannya.

Setiap kali saya berhasil melakukan sesuatu yang menurut saya tidak mudah, saya selalu ingat dengan teman-teman saya yang selalu meluangkan waktunya untuk mendengarkan ‘curhat’-an yang mungkin sudah saya ulang puluhan kali, dan mereka tidak pernah bosan memberikan masukan yang sama, yang mungkin mereka sudah tahu bahwa sebenarnya saya sudah mengerti. Bisa dibayangkan, bila saat saya datang, teman-teman selalu menghindar dan mungkin menyuruh saya lebih baik diam, mungkin saya tidak akan pernah berhasil melakukan sesuatu yang sebenarnya bisa saya lakukan.

Keberadaan saya dan keberhasilan saya saat ini tak pernah luput dari peran orang-orang yang setia dan orang-orang yang sabar dengan segala kekurangan saya. Bahkan seandainya saya melupakan orang-orang yang ada di sekitar saya pun, tidak akan mengubahkan kenyataan bahwa kesuksesan saya adalah kesuksesan orang-orang yang sudah berperan didalam kehidupan saya.

Banyak orang menjadi kecewa karena kebaikan hatinya, idenya, dan ilmu yang sudah dibagikan pada orang lain ternyata membuat orang lain tidak ingat lagi padanya. Padahal, kenyataannya, walau pun orang lain sudah berhasil, orang lain itu takkan pernah bisa mengubahkan peran seseorang didalam hidupnya.

Seorang sahabat bercerita kepada saya bahwa ada teman-teman yang saat ini selalu menerima pujian karena dianggap hebat didalam membuat sebuah foto atau video, tetapi tak ada seorang pun yang ingat atau tak ada seorang pun yang tahu kalau ilmu membuat sebuah foto atau video itu berasal dari seorang sahabat saya ini.

Tetapi, seorang sahabat saya ini tidak pernah menyesal, karena dia tetap menjadi orang yang lebih tahu kekurangan dari foto atau video karya teman-temannya itu. Dan itu berarti, seorang sahabat yang sudah rela berbagi ilmu ini mengerti bahwa ilmunya tidak hilang, tetapi kenyataannya dia tetap lebih pandai dari teman-temannya yang dianggap orang lain lebih sukses itu.

Tak ada orang yang ingin dirugikan. Berbagi lebih sering tidak memberikan keuntungan bagi kita. Tetapi, bila kita ingin memiliki hidup yang menguntungkan, tak ada pilihan selain membuat orang lain mengalami keberhasilan didalam hidupnya, dengan cara rela berbagi, atau ikut berpartisipasti atas kehidupan seseorang.

Berbagi atau berpartisipasi tidak harus selalu dengan memberikan uang. Kita bisa berbagi ilmu saat seseorang bertanya dan ingin belajar sesuatu dari kita. Kita bisa berbagi ide untuk membuat ide orang lain menjadi lebih baik. Kita bisa berbagi waktu untuk orang-orang yang mungkin hanya sekedar ingin cerita atau ingin mengungkapkan isi hatinya pada kita. Kita bisa berbagi cerita pada orang lain untuk memberinya semangat, atau mungkin hanya sekedar membuat orang lain merasa kehadirannya diinginkan.

Saat orang lain berhasil, dan kita ikut berpartisipasi, berbagi dengan yang ada pada kita, maka keberhasilannya adalah keberhasilan kita juga.

Jangan lupakan orang yang sudah berpartisipasti didalam hidup kita! Dan jangan terus menerus mengandalkan orang yang selalu berniat baik memberikan pertolongannya bagi kita! Karena kita juga harus berjuang untuk menjadi berhasil, sehingga keberhasilan kita bisa menjadi keberhasilan bagi orang lain juga.

Tuhan memberkati!

FirmanNya Untuk Kita

Mungkin sudah tidak asing lagi bagi kita kalau mendengar sebuah cerita pada saat Firman Tuhan disampaikan, ada suami yang mengatakan pada istrinya “Dengar itu Firman tadi kalau istri harus menghormati suami”, atau ada istri yang mengatakan pada suaminya “Dengar itu Firman tadi kalau suami harus mencintai istri”, atau ada orang tua yang mengatakan pada anak-anaknya “Dengar itu Firman tadi kalau anak-anak harus menghormati orang tuanya”.

Mungkin juga ada yang tidak mengatakannya secara langsung, tetapi saat Firman Tuhan disampaikan, dia mengangguk-ngangguk dengan cepat sambil menyikut lengan orang yang duduk disebelahnya, atau menjawab “Amen” dengan lantangnya, seolah-olah ingin mengatakan bahwa Firman itu memang benar untuk seseorang yang ada di bangku sebelahnya, atau untuk seseorang yang lain.

Sikap seseorang yang seperti ini tentu sangat menjengkelkan. Ada begitu banyak anak yang mungkin kecewa saat orang tuanya terus menerus memberikan nada penekanan pada saat Firman Tuhan dibacakan, sekedar untuk meyakinkan anak-anaknya bahwa Firman itu harus mereka perhatikan baik-baik. Ada begitu banyak suami atau istri yang sangat kecewa dengan pasangannya karena sikap yang selalu memberikan nada penekanan pada saat Firman Tuhan dibacakan, seolah-olah ingin mengatakan “Tuh… Dengar tuh…”.

Kita semua tentu tahu bahwa pada saat Tuhan datang nanti, Dia akan menghakimi kita satu per satu, dan kita masing-masing akan bertanggung jawab atas kehidupan masing-masing. Dengan kata lain, Tuhan berurusan dengan masing-masing pribadi. Jadi, kita tidak akan bisa mengatakan bahwa kita begini karena salah dia, atau kita juga tidak bisa membela seseorang dengan mengatakan dia begitu karena salah saya.

Demikian pula pada saat Firman Tuhan kita baca atau seorang Hamba Tuhan sedang membagikan Firman Tuhan, maka Firman yang kita baca atau kita dengar adalah untuk diri kita sendiri. Jangan menunjuk orang lain untuk mendengarnya! Orang lain yang mendengar juga memiliki bagiannya sendiri.

Memang benar, ada kalanya kita mendapatkan Firman untuk menguatkan orang lain, dan mungkin untuk menegur orang lain. Namun, bukan berarti setiap kali kita yakin bahwa Firman itu untuk orang lain. Kalau semua Firman yang menegur untuk orang lain, lalu Firman yang untuk kita yang mana?

Mungkin kita sering melakukan hal itu, memberikan nada penekanan untuk meyakinkan orang lain bahwa Firman itu untuk mereka, dengan sikap menyindir. Tetapi, pernahkah kita ingat bahwa kita juga manusia, yang juga bisa berbuat salah, yang juga perlu untuk ditegur, dan yang tidak selalu harus dikuatkan. Seandainya kita yang berada di posisi orang lain, dan ada orang-orang yang suka memberikan nada penekanan bahwa Firman yang dibacakan untuk memberikan peringatan pada kita, kita tentu juga akan merasa jengkel.

Seandainya seseorang bisa merasa jengkel karena dia tahu kita menyindirnya, mengapa kita tidak mengatakan secara langsung? Alangkah baik bila kita menegur seseorang secara langsung tanpa harus menyindirnya. Seseorang akan lebih bisa memahami maksud kita.

Selain itu, bila seseorang sudah membaca Firman dan juga bersama-sama dengan kita mendengar pada saat Firman dibagikan, maka tentu kita tidak perlu repot bersikap memberikan nada penekanan atau menyikut seseorang untuk meyakinkan bahwa Firman itu untuk mereka.

Firman Tuhan itu berlaku untuk kita semua. Seandainya kita diberi hikmat untuk memberitahukannya pada orang lain, maka lakukanlah untuk memberkati orang lain! Tetapi, bila tujuan kita hanya untuk menyindir seseorang, maka berusahalah untuk mengatakannya secara langsung dengan tujuan untuk membuat seseorang lebih baik, dan tidak perlu melakukannya secara terus menerus agar tidak membuat seseorang merasa jengkel pada akhirnya.

Tuhan memberkati!

Ungkapkan yang Ada Dihatimu!

Tidak semua orang bisa mengungkapkan apa yang ada didalam hatinya. Saya adalah orang yang paling sulit mengungkapkan isi hati melalui kata-kata, apalagi bila saya harus mengungkapkannya secara lisan, itu sebabnya saya sangat suka menulis. Melalui tulisan, saya bisa mengganti susunan kalimat yang kurang tepat, atau menghapus kata-kata yang tak seharusnya diucapkan.

Mami saya adalah orang yang paling bisa memahami isi hati saya, itu sebabnya saya sangat merasa kehilangan saat Tuhan memanggil mami saya. Saat saya berkata “tidak mau“, mami saya tahu alasan saya, tanpa saya harus mengatakannya, sehingga mami saya tahu bagaimana cara memberitahukan sudut pandang yang lain, yang belum saya ketahui.

Berjalannya waktu, saya harus belajar untuk mengungkapkan isi hati saya, khususnya pada saat saya memutuskan untuk menikah. Suami saya bukan mami saya, yang hidup bersama saya sejak saya lahir, sehingga dia butuh saya bisa mengungkapkan isi hati saya, agar dia bisa memahami sudut pandang saya, dan saat suami saya juga mengungkapkan isi hatinya, maka saya bisa memahami sudut pandangnya. Selanjutnya, kita bisa saling bertukar pikiran dan saling memahami.

communicationAda begitu banyak masalah dan pertengkaran terjadi karena miss-communication, atau kurangnya komunikasi. Miss-communication seringkali dianggap orang sebagai suatu kesalahan bicara. Tetapi, menurut saya, miss-communication seringkali terjadi karena seseorang tidak mau atau tidak berani atau tidak bisa mengungkapkan isi hatinya, sehingga orang lain tidak dapat mengerti apa maksud hati seseorang itu.

Sebagai contoh, saya berkata pada suami saya “kamu tidak ingin makan roti?“, suami saya menjawab “tidak“. Padahal sebenarnya didalam hati saya sedang ingin makan roti, dan pada saat saya mendengar suami saya berkata “tidak“, maka bisa saja saya menjadi marah dan kecewa, seolah-olah suami saya melarang saya makan roti.

Seandainya saya mengungkapkan isi hati saya dengan berkata “saya ingin makan roti“, maka mungkin suami saya, yang mengerti kalau saya sedang ingin makan roti akan membelikan saya roti. Tetapi ada kalanya juga, suami saya menginginkan makanan yang lain, dan dia tidak mengatakannya, sehingga saya bisa saja menganggap respon suami saya seolah-olah dia sedang keberatan kalau saya makan roti, padahal mungkin dia sedang memikirkan ide yang lain.

Seandainya suami saya mengatakan “saya memiliki ide yang lain“, maka mungkin kita bisa mengambil jalan keluar, misalnya saja mampir ke toko roti terlebih dahulu kalau saya sedang tidak ingin dengan idenya, atau mungkin keinginan suami saya lebih menarik, sehingga saya membatalkan niat saya untuk membeli roti.

Memang benar, tidak semua hal yang ada didalam hati bisa kita ungkapkan. Tetapi, ada kalanya kita dapat mengurangi masalah, dapat mengurangi beban kita, dan juga bahkan bisa membuat diri kita berhasil mendapatkan sebuah promosi, apabila kita berani jujur mengungkapkan isi hati kita dan memberitahukan ide-ide kita.

Kita ingin orang lain memahami kita, tetapi kita tidak pernah mengungkapkan keberatan-keberatan kita. Kita ingin mendapatkan jalan keluar, tetapi kita tidak pernah mengungkapkan persoalan kita. Kita menginginkan sesuatu, tetapi kita tidak pernah mengatakannya. Lalu bagaimana orang lain dapat memahami, bagaimana orang lain dapat membantu, dan bagaimana cara kita mendapatkan yang kita inginkan?

Setiap orang memiliki sudut pandangnya masing-masing. Saat kita diam, seseorang bisa berpikir kita setuju dan seseorang yang lain bisa berpikir kita bersikap netral, padahal mungkin kita diam karena sebenarnya kita tidak setuju akan sebuah keputusan. Seandainya saja kita berani mengungkapkan isi hati kita, mungkin saja alasan kita itu justru yang bisa diterima dan membuat sebuah keputusan itu menjadi lebih baik.

Mengungkapkan isi hati, dapat menghindarkan kita dari kesalahpahaman, dapat membuat kita menemukan jalan keluar, dapat membuat kita kompak, dapat membuat orang lain belajar akan pemikiran-pemikiran yang baik dari kita, dan dapat membuat kita bisa berjalan hingga tiba di tujuan dengan selamat.

Sebaliknya, saat kita mendengar seseorang mengungkapkan isi hatinya, maka kita dapat memahami sudut pandangnya, sehingga kita bisa belajar pemikiran-pemikiran yang baik dari seseorang itu, kita bisa membantu seseorang untuk mencapai tujuannya, atau bahkan kita bisa berjalan bersama-sama seseorang itu untuk berada di sebuah tujuan.

Dan jangan lupa untuk mengungkapkan isi hati kita pada orang yang tepat dan sesuai sasaran, karena komunikasi tidak akan sampai bila kita hanya sekedar ‘curhat’ dengan orang lain, sedangkan orang yang bersangkutan tidak mengerti maksud kita.

Tuhan memberkati!

**picture taken from:
http://www.classesandcareers.com/education/2012/09/06/communicationskillsintheworkplace/

Siapa yang Ada Didalam Hati Kita?

Dulu, apabila mami saya bepergian bersama papi saya, atau bepergian seorang diri bersama teman-temannya tanpa mengajak saya atau kakak saya, khususnya apabila bepergian keluar kota, maka mami saya akan selalu membawakan sesuatu untuk kami, yang ada di rumah. Sesuatu itu bisa berupa makanan, pakaian, atau mainan, yang pasti pemberian mami saya itu akan selalu menyukakan hati kami sekeluarga.

Kebiasaan mami saya itu memberikan contoh secara tidak langsung bagi saya. Jadi pada saat saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti acara diluar kota, saya pasti akan berusaha untuk menyisihkan uang saku saya, dan meluangkan waktu mencari sesuatu yang kiranya disukai oleh anggota keluarga saya yang ada dirumah.

Bahkan sampai saat ini, tidak hanya pada saat hendak membeli oleh-oleh, tetapi setiap saat saya sedang menikmati menu makanan yang enak misalnya, atau sedang berada di tempat yang indah, maka secara otomatis didalam hati kecil, saya akan selalu ingat keluarga, karena saya ingin mereka juga dapat mencicipi menu makanan yang enak dan ikut menikmati tempat yang indah itu.

Hanya saja bedanya, sekarang saya tidak hanya selalu ingat dengan keluarga kandung saya, tetapi saya juga akan selalu ingat dengan suami saya, dan keluarganya, serta semua orang yang memiliki hubungan yang dekat dengan saya.

Hal ini dapat terjadi, karena yang ada didalam hati saya, adalah suami saya, keluarga kandung saya, keluarga suami saya, dan teman-teman yang dekat dengan saya. Sehingga saya akan selalu ingat mereka pada saat saya senang, mau pun pada saat saya susah.

Tak heran, saat kita memberi hadiah kepada seseorang, mungkin saja ada orang lain yang merasa iri. Mereka merasa iri bukan sekedar ingin mendapatkan hadiah dari kita, melainkan secara sadar atau secara tidak sadar, orang lain itu dapat merasakan bahwa dirinya itu tidak ada didalam hati kita, sehingga mereka merasa terabaikan oleh kita.

heartSiapa pun yang ada didalam hati kita, dia akan menjadi orang pertama yang kita ingat, baik saat kita susah, mau pun saat kita senang.

Demikian pula saat ini, sebagai seorang yang percaya kepada Tuhan, apabila Tuhan benar-benar ada didalam hati kita, maka dalam keadaan apa pun, seharusnya kita akan selalu ingat kepada Tuhan.

Sedangkan yang paling sering terjadi adalah kita ingat Tuhan pada saat kita susah. Bahkan di saat-saat susah, ada orang-orang yang masih saja tidak percaya kepada Tuhan, tetapi justru percaya kepada orang-orang yang dianggap lebih mampu melihat masa depannya.

Tak heran bila Tuhan sering mengijinkan masalah terjadi didalam hidup kita. Karena Tuhan tidak ingin merasa kita sedang mengabaikanNya. Kita bisa hidup karena Tuhan. Hidup kita diberkati karena kemurahan Tuhan. Itulah sebabnya, kita harus menempatkan Tuhan didalam hati kita sebagai posisi terpenting dalam segala situasi.

Seseorang merasa cemburu, karena dia dapat merasakan bahwa ada orang lain yang sudah menempati posisinya.

Kita mungkin bisa tidak memiliki perasaan apa-apa lagi terhadap seseorang, sehingga kita bisa mengabaikannya. Tetapi jangan sekali-kali kita tidak memiliki perasaan apa-apa terhadap Tuhan dan mengabaikanNya! Karena Dialah Tuhan, yang paling layak mendapatkan tempat pertama didalam hati kita, untuk menjadi yang pertama kita ingat setiap kita mengalami senang mau pun susah.

jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, Tuhan, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku” Keluaran 20:5

Tuhan memberkati!

**picture taken from:
http://www.thebusinesslogo.com/logo-design-cartoon-character-portfolio.asp

Sempurna Di Tangan Tuhan

Ada beberapa barang yang dibutuhkan oleh suami saya, dan saya sengaja membelikannya sebagai hadiah di hari ulang tahunnya. Tetapi pada hari h saat suami saya berulang tahun, saya benar-benar tidak ingat untuk membelikannya kue tart, sebagaimana biasanya kue tart selalu ada sebagai tanda seseorang sedang berulang tahun hari itu.

Didalam hati kecil saya berharap, salah seorang saudara kami mengingatnya dan membawakannya untuk suami saya. Tetapi ternyata tak seorang pun membawakannya untuk suami saya.

Suami saya sama sekali tidak terlihat kecewa tanpa adanya kue tart di hari ulang tahunnya, sehingga saya dan suami, bersama keluarga terdekat, tetap dapat menikmati makan siang kami dengan suasana yang menyenangkan.

TartDua hari kemudian, sepulang dari kantor, tiba-tiba suami saya pulang dengan membawa kue tart. Saat saya bertanya, suami saya memberikan penjelasan bahwa dia mendapatkan kue tart itu dari kantor, tempat dia bekerja.

Saat mendengar ceritanya, didalam hati saya ada perasaan yang begitu gembira, karena menurut saya, Tuhan sudah menyempurnakan hari ulang tahun suami saya, dengan memberinya kue tart.

Kelihatannya sangat sepele dan tidak terlalu penting, hanya sekedar kue tart yang tidak harus ada saat kita berulang tahun, tetapi karena Tuhan sangat sayang kepada suami saya, maka Dia memberikan kue tart yang lezat itu di hari ulang tahun suami saya.

Inilah yang saya katakan sebagai salah satu berkat Tuhan.

Tuhan memerhatikan hal-hal kecil didalam hidup kita, yang bahkan mungkin kita sendiri tidak peduli atau tidak pernah memikirkannya, dan Tuhan membuat hidup kita menjadi sempurna.

Saat ini, cobalah lihat segala sesuatu yang sudah kita miliki! Mungkin tampaknya masih saja terlihat ada yang kurang, misalnya saja kita memiliki handphone, tetapi belum memiliki blackberry, atau belum memiliki android. Atau kita sudah memiliki yang ini dan yang itu, tetapi masih belum memiliki yang lain-lain.

Cobalah untuk tidak melihat barang-barang yang belum kita miliki! Tetapi lihatlah dari sudut pandang yang mana barang-barang yang kita miliki tersebut sudah melengkapi kebutuhan hidup kita, dan paling tidak, pikirkan bahwa sampai sejauh ini kita sudah bisa mempergunakan barang-barang yang sudah kita miliki. Kita sudah bisa berkomunikasi dengan menggunakan handphone yang kita miliki misalnya.

Cobalah lihat orang-orang terdekat yang ada di sekeliling kita! Mereka memiliki banyak kekurangan, ada yang walau pun baik hati tetapi sikapnya tidak pernah memikirkan orang lain, ada yang pintar tetapi suka merendahkan orang lain, ada yang cantik tetapi sangat suka mengatur orang lain, ada yang ganteng tetapi kelakuannya aneh, dan ada yang bahkan kita tidak tahu apa kebaikannya.

Mari kita berdiri di sudut pandang yang lain! Cobalah lihat orang-orang terdekat yang ada disekitar kita itu, mereka sudah melengkapi hidup kita. Tanpa mereka, mungkin selama ini kita tidak akan pernah tahu tempat-tempat menarik di Indonesia. Tanpa mereka, mungkin kita tidak akan mencicipi makanan-makanan yang enak. Tanpa mereka, mungkin kita tidak akan pernah mengalami kesuksesan. Dan tanpa mereka, mungkin karakter kita tidak akan menjadi lebih baik.

Kita tidak akan pernah biaa menjadi sempurna. Segala sesuatu yang kita miliki takkan pernah terlihat sempurna. Kita akan selalu bisa menemukan kekurangannya. Tetapi, cobalah belajar untuk mengijinkan Tuhan menyempurnakan segala kebutuhan dan keinginan kita!

Hal-hal yang kecil, hal-hal yang sepele, hingga hal-hal yang besar, dan hal-hal yang paling penting, yang tidak pernah kita pikirkan, selalu disediakan Tuhan, untuk menyempurnakan segala kebutuhan kita. Dan saat kita dapat melihat campur tangan Tuhan itu, maka kita akan mampu bersyukur atas kebaikan Tuhan.

Tetapi seperti ada tertulis: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia” (I Korintus 2:9)

Pasanglah “Kancing” Dengan Benar!

Ada sebuah pepatah yang kurang lebih isinya mengatakan apabila kita ingin mencari pasangan yang sempurna, maka sebaiknya kita melihat kedalam diri kita sendiri terlebih dahulu, karena sebenarnya pasangan kita adalah cerminan diri kita. Kalimat ini cukup sederhana, tetapi ternyata cukup menggelitik saya untuk mengembangkannya menjadi sebuah artikel.

Membaca kalimat tersebut, secara otomatis saya membayangkan beberapa pasangan yang sempat saya dengar mereka mengeluhkan pasangannya dan juga memuji pasangannya. Ada seorang teman yang mengatakan bahwa suaminya itu sangat pelit, tetapi saya pikir-pikir sebenarnya seorang teman ini juga pelit, karena dia adalah seorang yang sangat perhitungan.

Ada lagi seorang teman yang mengatakan bahwa pacarnya adalah seorang yang terlalu banyak aturan dan cerewet, tetapi saya pikir-pikir sebenarnya seorang teman ini juga sering memberikan banyak aturan dan juga sangat cerewet.

Saya sendiri segera memikirkan bagaimana saya dan suami saya. Saya pernah mengatakan bahwa suami saya itu manja, karena ada hal-hal tertentu yang dia selalu meminta saya untuk membantunya, padahal saya tahu dia dapat melakukannya sendiri. Tetapi saya pun menyadari bahwa sebenarnya saya juga seseorang yang manja. Saya berpikir suami saya adalah seorang yang baik, dan ternyata saya pun memiliki kebaikan-kebaikannya sendiri.

Pemikiran saya mulai berkembang, tidak hanya dalam lingkup pasangan, tetapi juga dalam lingkup keluarga. Ada sebuah pepatah yang mengatakan buah takkan jauh dari pohonnya. Tidak ada buah yang tidak baik didapat dari sebuah pohon yang baik. Didalam keluarga, seorang anak memiliki karakter-karakter tertentu yang menurun dari orang tuanya.

Lalu saya juga mengembangkan pemikiran saya dalam lingkup pekerjaan dan pelayanan. Didalam pekerjaan kita bisa menjadi seorang pimpinan tertinggi dan bisa juga menjadi seorang anak buah. Didalam gereja, kita bisa menjadi seorang gembala atau seseorang yang memimpin dalam sebuah bidang pelayanan, tetapi kita bisa juga hanya duduk sebagai seorang jemaat.

Pertanyaannya: pernahkah kita mengatakan bahwa pasangan kita itu mempunyai sifat buruk yang mengganggu? Pernahkah kita mengatakan bahwa anak-anak kita nakal? Pernahkah kita, khususnya sebagai seorang pemimpin, mengatakan bahwa para bawahan kita itu bodoh dan tidak bisa kerja? Mohon maafkan saya, karena saya harus mengatakan bahwa ketika kita mengatakan atau membicarakan hal-hal buruk tentang anak-anak kita, bawahan kita, atau jemaat kita, sebenarnya kita sedang mengatakan hal-hal buruk tentang diri kita sendiri.

Keberadaan seseorang didalam sebuah perusahaan, didalam sebuah gereja, didalam keluarga, dan didalam sebuah anggota mana pun, sebenarnya secara tidak langsung akan membawa nama baik seluruh tim, khususnya para pemimpin mereka.

Seorang Hamba Tuhan memberikan sebuah ilustrasi sederhana mengenai kancing baju. Pada umumnya kita memasang kancing baju itu dari atas kemudian lanjut kebawah. Apabila dari atas kita memasang dengan benar, maka dapat dipastikan kancing-kancing dibawahnya akan terpasang dengan benar. Tetapi apabila dari atas kita memasangnya salah, maka dapat dipastikan kancing-kancing dibawahnya juga akan terpasang salah.

Bila diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, apabila kita melihat seorang anak buah sikapnya sangat arogan, semena-mena, dan sombong, padahal tidak banyak mengerti tentang pekerjaan, maka coba kita melihat pemimpin diatasnya, besar kemungkinan pemimpinnya juga adalah seorang yang sombong, tidak suka belajar, tetapi pura-pura mengerti segala hal.

Tetapi bila kita melihat sebuah tim dimana para anggotanya cerdas dan baik hati, maka kita juga dapat melihat pemimpin yang ada didalam tim tersebut adalah seorang pemimpin yang suka belajar dan suka berbagi pengetahuan, berwibawa, dan rendah hati.

Hal ini terjadi karena sama seperti seorang anak akan meniru yang dilakukan oleh orang tuanya, juga yang tertulis didalam Firman Tuhan, 1 Korintus 15:33 “…pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik”, sama artinya bahwa orang dewasa pun sangat mungkin juga dapat meniru atau terpengaruh akan sikap atau hal yang tidak baik dari para pemimpin diatasnya.

Solusinya adalah sebagai pasangan, cobalah untuk tidak mementingkan ego dengan berlebihan. Akui apabila kita bersalah dan bersikap terbuka pada pendapat pasangan kita. Komunikasikan hal-hal yang perlu diketahui oleh pasangan kita dengan tujuan untuk menyelesaikan persoalan agar tidak menumpuk dalam waktu yang lama.

Sedangkan didalam kehidupan pekerjaan dan tempat kita beribadah, seorang penulis didalam bukunya berkata apabila seorang pemimpin sikapnya suka memaksa, arogan, suka terus menerus mempermasalahkan kesalahan yang dilakukan para anggotanya, maka para anggotanya harus pindah ke tempat pekerjaan dengan lingkungan yang lebih baik atau tempat ibadah yang dapat membangun kehidupan rohaninya.

Sebagaimana kita menginginkan sebuah tim itu terjadi, baik didalam keluarga, pekerjaan, mau pun pelayanan, maka dari diri kita sendiri harus dapat memulainya. Jika kita ingin tim kita adalah orang-orang yang cerdas dan berhati baik, maka kita harus mempengaruhi mereka untuk suka belajar dan melakukan hal-hal yang baik. Dan yang terutama, seorang pemimpin yang harus memulainya terlebih dahulu.

Beban seorang pemimpin itu bukan pada pekerjaannya, melainkan pada sikap dan karakter yang pastinya berpengaruh pada kehidupan pribadi para anggotanya.

Tuhan memberkati!

**inspired by Mario Teguh and Pdt.Timotius Arifin

**picture taken from:
http://www.google.co.id/imgres?q=picture+of+kancing&hl=id&sa=X&biw=1280&bih=707&tbm=isch&prmd=imvns&tbnid=McUSnYKJ7GZMtM:&imgrefurl=http://archive.kaskus.co.id/thread/3407903/0/beli–velcro-perekat-kancing-tali-sepatu-meteran&docid=24OCAs8ElKQDIM&imgurl=http://www.sierra-313.de/shop/images/product_images/popup_images/55_0.jpg&w=600&h=600&ei=hxD1T87tDcesrAfA3tnCBg&zoom=1&iact=hc&vpx=373&vpy=104&dur=622&hovh=225&hovw=225&tx=131&ty=149&sig=115066408690274837010&page=2&tbnh=157&tbnw=121&start=18&ndsp=21&ved=1t:429,r:1,s:18,i:130