Pelit vs Hemat

Pada suatu hari saya berbicang-bincang dengan seorang teman yang cukup akrab ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Dia bercerita, ada beberapa orang yang pernah mengatakan secara langsung kalau dia itu orangnya pelit. Dia juga memberikan penjelasan kalau sebenarnya dia hanya ingin memikirkan untuk kebutuhan di masa depan, jadi sama sekali tidak bermaksud untuk pelit.

Teman saya itu memberikan sebuah contoh cerita, tahun depan anaknya yang pertama akan masuk ke Sekolah Dasar, anaknya yang kedua akan masuk ke Sekolah Taman Kanak-Kanak, dan dia juga akan melahirkan anak yang ketiga, jadi dia berpikir liburan akhir tahun ini mereka sekeluarga hanya akan menikmati liburan didalam kota saja, mengingat belakangan pemasukannya juga tidak seperti yang diharapkan. Tetapi, saudara-saudaranya yang hendak mengajaknya pergi berlibur keluar kota berkata kalau dia itu pelit, dan terlalu banyak perhitungan.

Seringkali kita beranggapan bahwa seseorang itu pelit, hanya karena seseorang tidak memenuhi keinginan atau kebutuhannya seperti yang kita bayangkan. Seringkali juga kita beranggapan bahwa seseorang itu sedang berhemat, karena kita sangat memahami kondisi keuangannya.

Sebelum saya menulis lebih jauh, mari kita memahami terlebih dahulu arti kata pelit dan arti kata hemat.

Pelit adalah orang yang selama hidupnya hanya berusaha menimbun uang dan harta benda, bahkan seringkali rela hidup menderita.

Hemat adalah hidup ekonomis, tanpa pengeluaran yang tak perlu dan cermat.

Firman Tuhan didalam Amsal 28:22 (TB) berkata “Orang yang kikir tergesa-gesa mengejar harta, dan tidak mengetahui bahwa ia akan mengalami kekurangan.”

Didalam kehidupan ini, kita akan selalu bertemu dengan orang-orang yang pelit, orang-orang yang hemat, dan orang-orang yang bahkan sangat boros.

Biasanya, orang-orang yang pelit adalah orang-orang yang hanya mau ikut serta, tetapi tidak mau ikut membayar, dan mereka adalah orang-orang yang paling menjengkelkan. Itu sebabnya, kita jangan menjadi orang yang pelit! Belajarlah untuk ikut serta dan berusaha untuk mau membayar! Tidak ada teman atau saudara yang akan selalu memiliki hati yang sukarela dengan orang yang pelit.

Selain itu, pada dasarnya, orang-orang yang pelit adalah orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Bisa dibayangkan, orang-orang yang pelit juga ingin makan makanan yang enak, tetapi tidak mau ikut membayar, membiarkan orang lain yang membayarkan untuk dirinya, bukankah hal itu adalah sikap yang tidak bertanggung jawab?

Sedangkan orang-orang yang hemat sebenarnya adalah orang-orang yang bijaksana, karena sebenarnya mereka berusaha untuk hidup secara cermat, tidak mengeluarkan uang untuk sesuatu yang tidak perlu. Orang-orang yang hemat bukan berarti tidak mau mengeluarkan uangnya untuk bersenang-senang, hanya saja mereka tidak bersenang-senang setiap waktu. Orang-orang yang hemat sudah memperhitungkan setiap pengeluaran, sehingga mereka tidak perlu mengharapkan orang lain yang membayar untuk mereka.

Tetapi, orang-orang hemat pun adakalanya dikatakan sebagai orang-orang yang pelit, hanya karena pola pikir yang tidak kita pahami.

Kesenangan seseorang belum tentu menjadi kesenangan seorang yang lainnya. Kita tidak bisa mengatakan bahwa seseorang itu pelit hanya karena seseorang itu tidak bersenang-senang seperti kita, atau hanya karena seseorang itu tidak memberikan kesenangan untuk kita. Setiap orang memiliki perhitungan, cara hidup, dan kebutuhannya masing-masing. Kita hanya perlu menghormati pola pikir yang dimiliki oleh orang lain.

Tuhan memberkati!20151211-175144.jpg

Tidak Tunggu Sampai Hilang

Seorang Ibu berkata, “Sakit ini membuat Ibu sudah lupa rasanya menjadi sehat, sampai Ibu merasa terbiasa dengan penyakit ini“.

Seorang pemuda berkata, “Hidup dalam kemiskinan membuatku lupa bagaimana rasanya saat hidup bersama Ayahku didalam kelimpahan“.

Seorang Bapak berkata, “Aktifitasku belakangan ini membuatku lupa akan kesibukan pada saat bekerja dikantor“.

Seorang gadis berkata, “Bertahun-tahun aku hidup sendiri setelah putus dari pacarku yang pertama dan kemudian sahabat-sahabatku meninggalkanku begitu saja, membuat aku lupa bagaimana rasanya disayangi dan memiliki seorang teman“.

Seorang Ibu berkata, “Seandainya saja, Ibu mau menjaga kesehatan, maka mungkin Ibu masih sehat sekarang“.

Seorang pemuda berkata, “Seandainya saja, aku tidak menghabiskan uang warisan Ayah untuk kesenanganku, maka mungkin aku tidak hidup dalam kemiskinan“.

Seorang Bapak berkata, “Seandainya saja, aku bekerja dengan baik, maka mungkin aku tidak akan menjadi pengangguran seperti sekarang“.

Seorang gadis berkata, “Seandainya saja, aku bisa menjaga kepercayaan kekasihku dan sahabat-sahabatku, maka mungkin aku tidak akan kehilangan mereka“.

Sebuah pepatah humor mengatakan bahwa penyesalan selalu datang di akhir, kalau diawal maka disebut sebagai pendaftaran. Seringkali saat kita kehilangan sesuatu, baru kemudian kita bisa merasakan manfaat atau bisa merasakan betapa berharganya sesuatu itu.

Firman Tuhan didalam I Tesalonika 5:18 berkata, “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah didalam Kristus Yesus bagi kamu“.

Seringkali kita merasa aneh atau merasa kesulitan saat harus mengucap syukur dalam keadaan susah atau sakit, tetapi pada saat kita memiliki segalanya, kita lupa mengucap syukur.

Sikap kita yang tidak menghargai segala hal yang kita miliki, merupakan tanda bahwa kita sulit mensyukuri segala hal yang sudah kita miliki.

Saat melihat seseorang tidak perlu sekolah atau tidak perlu bekerja karena sakit, kita juga ingin bisa sakit agar tidak perlu sekolah atau bekerja. Padahal kesehatan itu akan menjadi sangat berharga bagi orang-orang yang menderita sakit.

Saat melihat seseorang mendapatkan perhatian dan bantuan pada saat tidak membutuhkan uang, kita merasa iri karena tidak mendapatkan perhatian yang serupa. Padahal bila seseorang boleh memilih, maka seseorang tentu akan lebih memilih hidup didalam kelimpahan daripada hidup didalam kekurangan.

Saat melihat seseorang bisa bermalas-malasan, mungkin kita jadi merasa kesal dengan kesibukan yang tiada henti. Padahal menjadi sibuk dan memiliki pekerjaan adalah idaman banyak orang, daripada tidak melakukan apa-apa dan merasa diri tidak berharga.

Saat seseorang terlihat menikmati kesendiriannya, kita bisa saja merasa orang-orang disekitar sungguh mengganggu hidup kita. Padahal sungguh menyenangkan saat kita bisa berbagi kasih dan perhatian dengan orang-orang disekitar kita.

Tidak semua orang bisa menikmati kehidupan mereka yang kelihatannya menyenangkan bagi kita. Mungkin ada begitu banyak orang yang ingin menikmati kehidupan yang seperti kita. Itulah sebabnya, Firman Tuhan mengajarkan kepada kita untuk bersyukur dalam segala keadaan.

Jika kita tidak merasa nyaman saat harus bersyukur di saat keadaan sedang tidak baik, mengapa kita tidak bersyukur saat keadaan sedang baik-baik?

Jika kita tidak suka merasa sesuatu bermanfaat atau jika kita tidak suka merasa sesuatu itu penting pada saat sesuatu itu sudah hilang, mengapa kita tidak menghargai sesuatu itu pada saat ada?

Bila kita melihat orang lain hidupnya lebih baik, mengapa kita tidak memelihara hidup kita agar menjadi lebih baik?

Semua yang terlihat selalu akan tampak lebih baik. Tetapi, kondisi didalam, seringkali hanya kita dan Tuhan yang tahu. Realitanya, pada saat kondisi didalam sudah baik, maka kita tidak akan merasa perlu iri dengan apa yang tampak diluar, yang dimiliki oleh orang lain.

Jangan tunggu sampai hilang! Jaga, pelihara, dan bersyukur dengan apa yang ada pada kita! Maka kita bisa memuliakan Tuhan dengan apa yang ada pada kita, tanpa harus merasa iri dengan yang tidak ada pada kita. Kita bisa menjadi diri sendiri tanpa mengingini kehidupan yang dimiliki oleh orang lain, karena kita tahu Tuhan sudah memberikan yang terbaik bagi kita.

Tuhan memberkati!

20131114-140659.jpg

Money Money Money

Pada suatu hari, saya sedang duduk dan tanpa sengaja mata saya tertuju pada selembar uang seratus ribu yang ada diatas meja dekat televisi dirumah saya. Semua orang tentu tahu bahwa selembar uang seratus ribu itu cukup besar nilainya dan bahkan bagi orang-orang tertentu mungkin sangat besar nilainya.

Tetapi saat saya memerhatikan selembar uang itu, saya berpikir bahwa tidak banyak orang yang benar-benar mengerti bahwa uang itu sesungguhnya adalah benda mati, yang terbuat dari bahan dasar, dicetak dengan gambar serta warna-warna tertentu, dan dipotong dengan ukuran yang sama, kemudian disebarluaskan sebagai alat tukar.

moneyJadi sebenarnya uang, berapa pun jumlahnya, tergantung dari kita, seorang manusia, didalam penggunaannya. Bila kita ingin meletakkannya diatas meja, maka uang akan tetap berada diatas meja itu sampai kita memindahkan letaknya. Bila kita terus meletakkannya didalam dompet, maka uang itu tidak bisa protes. Bila kita ingin memberikannya kepada orang lain, maka uang tidak bisa mengekspresikan kesedihannya karena harus berpisah dengan kita misalnya.

Manusia, sebagai makhluk paling mulia, diciptakan Tuhan dengan tanggung jawab dan hak untuk mengusahakan dan memelihara bumi (Kejadian 2:15 “Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu“). Uang yang diciptakan oleh manusia sebagai alat tukar yang memiliki nilai untuk memudahkan didalam bertransaksi. Tetapi didalam penggunaannya, manusia memiliki kuasa atas uang tersebut.

Tak dapat disangkal bahwa hidup memang perlu uang karena segala kebutuhan dan keinginan hanya dapat dipenuhi bila kita memiliki uang. Seperti halnya kita perlu seorang teman selama hidup, tetapi kita sadar bahwa seorang teman tidak bisa mengatur jalan hidup kita. Demikian pula uang seharusnya juga tidak bisa mengatur hidup kita.

Uang dikatakan mulai mengatur hidup kita saat kita mulai bersikap serakah, menipu, mencuri hak orang lain, atau meminjam-minjamkan dengan bunga yang sangat tinggi hingga menindas. Dengan kata lain, kita mulai kehilangan hati nurani dan rasa belas kasihan demi menjadi kaya. Selain itu, bila kita hanya baik hati pada orang-orang yang punya uang banyak dan menilai pemberian seseorang hanya dari nilai uang yang kita terima, maka kita tidak lagi menghargai keberadaan seseorang, tetapi hanya menghargai uang yang dimilikinya.

Kita bisa menguasai uang saat kita bisa mengelolanya dengan benar, misalnya saja kita menggunakan uang untuk diinvestasikan, untuk ditabung, untuk membuka usaha, untuk memenuhi kebutuhan hidup, dan termasuk untuk memberi bantuan. Kita yang mengatur hendak digunakan untuk apa uang tersebut. Kita juga yang harus mengusahakannya dengan benar, yaitu dengan cara bekerja, tanpa bersikap serakah.

Kemampuan kita untuk mengelola keuangan akan membuat kita menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab dan mampu untuk bersikap menghargai. Selanjutnya, orang lain juga akan lebih mendengarkan pendapat kita dan percaya pada kita. Menjadi kaya itu halal, asalkan untuk mendapatkannya kita menggunakan cara-cara yang halal.

Amsal 10:22
berkat Tuhan yang menjadikan kaya, susah payah tidak akam menambahinya

Tuhan memberkati!

**picture taken from:
http://www.google.co.id/search?q=picture+of+money&tbo=u&tbm=isch&source=univ&sa=X&ei=ZO0aUYm8EoqQrgfMlIHIBQ&ved=0CCsQsAQ&biw=1280&bih=707#imgrc=VUvzKXGlpv1wOM%3A%3BtyYAY3bkRWuFyM%3Bhttp%253A%252F%252Fwatchdog.org%252Fwp-content%252Fblogs.dir%252F1%252Ffiles%252F2012%252F10%252Fmoney.jpg%3Bhttp%253A%252F%252Fwatchdog.org%252F59549%252Fia-courtsaudit%252F%3B255%3B300